Eks juara Piala Dunia edisi 1998 dan 2018, Prancis akan menjalani pertarungan perdananya pada Rabu (17/6/2026) Waktu Indonesia. Berdasarkan rilisan laman resmi FIFA, Prancis yang menghuni Grup I, akan memainkan pertarungan perdana mereka dengan melawan wakil dari Benua Afrika, Senegal. Dari laman yang sama diinformasikan, Les Bleus bakal menghadapi lawan tangguhnya itu di New York/New Jersey Stadium.
Bagi para penggemar sepak bola dunia, tentunya kita sepakat bahwa pertandingan ini tak akan berjalan dengan mudah. Pasalnya, meskipun Prancis berasal dari Benua Eropa yang diklaim sebagai kiblat sepak bola dunia dan Senegal berasal dari Benua Afrika yang menjadi kekuatan ketiga di dunia sepak bola, namun hasil akhir dari pertemuan kedua kesebelasan ini seringkali menjungkirbalikkan prediksi.
Bahkan, pada faktanya, berdasarkan statistik pertemuan kedua kesebelasan di laman 11v11, hingga saat ini Prancis berada di pihak yang lebih inferior, di mana dari tiga pertemuan yang telah terjadi, mereka tercatat menelan kekalahan sebanyak dua kali.
Kilatan Kenangan Masa Kecil yang Mengecewakan
Jujur, ketika saya mendapati Timnas Prancis ini akan berhadapan dengan Senegal di Piala Dunia 2026 ini, kenangan saya langsung kembali di tahun 2002 lalu. Kala itu, dalam suasana hype Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan, saya yang masih duduk di bangku SMP, tergolong cukup antusias mengikuti jalannya turnamen sepak bola paling akbar sejagat raya tersebut.
Layaknya remaja belasan tahun pada umumnya, pengetahuan saya tentang tim-tim sepak bola dunia tentunya masih tak seluas saat ini. Namun demikian, nama besar Prancis yang saat itu begitu berjaya, membuat saya menempatkan tim ini dalam barisan paling depan sebagai tim pemburu juara.
Sebuah pemikiran sederhana yang tak salah sebenarnya. Karena pada saat itu, Prancis sendiri datang ke Asia dengan label yang sangat mentereng. Setidaknya, dua label juara kompetisi tertinggi antarnegara, yakni Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000, mereka sandang di bahu kiri dan kanan.
Sehingga, ketika di laga pembuka yang berlangsung pada 31 Mei 2002 di Seoul World Cup Stadium mereka "hanya" akan melawan tim sekelas Senegal, banyak penggemar sepak bola dunia -termasuk saya- yang menjagokan tim ini akan menang.
Berbeda dengan saat ini yang sudah begitu dikenal, Timnas Senegal di Piala Dunia tahun 2002 lalu ibaratnya hanyalah tim "Anak Bawang". Kala itu, El Hadji Diouf dan kolega hanyalah tim debutan dari Afrika, yang reputasinya tak sementereng Kamerun, Tunisia, Mesir, Aljazair, Maroko, maupun Nigeria dan Afrika Selatan.
Terlebih lagi, saat itu sejarah mencatat Prancis pernah membugkam Senegal dengan skor telak 9-2 ketika keduanya bertemu di tahun 1956. Sehingga tak mengherankan jika ketika itu saya yakin, pertandingan akan dimenangkan oleh Prancis dengan skor besar atau bahkan mungkin terjadi hujan gol.
Namun pada kenyataannya, keyakinan yang saya miliki saat itu justru berubah menjadi sebuah kekecewaan. Pertarungan yang semula saya duga akan berakhir dengan mudah, justru berlangsung dengan sangat alot.
Alih-alih hujan gol, barisan tengah dan penyerangan Prancis justru lebih pantas jika disebut kebingungan saat mencoba membongkar pertahanan Senegal. Bukan hanya karena rapi dan disiplinnya para pemain Senegal, tiang gawang pun memilih untuk lebih berpihak kepada tim asal Afrika tersebut.
Hingga pada akhirnya pada menit ke-30, determinasi para pemain Senegal sukses mencuri bola dari lapangan tengah Prancis yang tak diperkuat oleh Zinedine Zidane, dan segera melancarkan serangan cepat melalui sayap kiri.
El Hadji Diouf yang beraksi di sayap kiri Senegal, mengakhiri akselerasinya dengan melakukan cut back kepada Pope Bouba Dioup. Saya masih ingat betul, kepanikan lini pertahanan Prancis ketika mencoba untuk mengantisipasi bola itu, justru menimbulkan malapetaka.
Kemelut yang tercipta karena kepanikan para pemain Prancis pada akhirnya berhasil dimanfaatkan oleh Bouba Dioup untuk menciptakan gol ke gawang sang Juara Bertahan.
Hanya satu gol, namun sudah cukup untuk membuat Prancis dan para pendukungnya merana. Bahkan, momen itu terus saja membekas hingga saat ini di benak saya. Ada sedikit rasa kecewa saat itu ketika satu gol dari permainan ulet khas para pemain benua Afrika, meruntuhkan segala keyakinan yang sebelumnya begitu tinggi terbangun di pikiran saya.
Sehingga, ketika di Piala Dunia edisi 2026 ini kedua kesebelasan kembali bertemu untuk pertama kalinya semenjak pertarungan tahun 2002 lalu, kilatan bayangan masa kecil itu kembali muncul dan membuat saya tak sabar untuk menyaksikan panasnya persaingan di lapangan.
Menurut teman-teman pembaca, kira-kira tim mana nih yang akan menang? Prancis atau Senegal?
Baca Juga
-
Vibes Piala Dunia 2026 Masih Anyep, FIFA Harusnya Lirik 2 Potensi Besar Ini untuk Dimaksimalkan
-
Tiga Poin Australia dan Permainan Pragmatis Ala STY yang Tak Haram Dimainkan di Guliran Piala Dunia
-
Piala Dunia 2026 dan Poin Perdana Qatar yang Sejatinya Tak Begitu Membantu Mereka di Kontestasi
-
Piala Dunia 2026, Timnas Qatar dan Kelayakan Semu The Maroon Tampil di Putaran Final Gelaran
-
Piala Dunia 2026: Genderang Perang Sudah Ditabuh, namun Dunia Tak Lagi Menyambut Riuh
Artikel Terkait
Hobi
-
Setelah Juara Langsung Jadi Manusia Silver: Kutukan Ganda Putra Indonesia?
-
Vibes Piala Dunia 2026 Masih Anyep, FIFA Harusnya Lirik 2 Potensi Besar Ini untuk Dimaksimalkan
-
2026 Tahun Terakhir Melihat Messi dan Ronaldo di Piala Dunia: Akhir dari Sebuah Era?
-
Baru Mulai 6 Menit, Felix Nmecha Cetak Gol Kilat Jerman di Piala Dunia 2026
-
Australian Open 2026: Wajah Indonesia Terselamatkan Gelar Tunggal Putra
Terkini
-
Lenovo IdeaPad Slim 5i Gen 9: Laptop Tipis, Performa Buas untuk Kerja dan Kuliah
-
Rayakan 10 Tahun Tayang, Drakor Love in the Moonlight Siapkan Acara Spesial
-
Evaluasi Barikade Demonstrasi: Belajar Merawat Demokrasi dari Korea Selatan
-
Hujan, Mawar, dan Dia
-
Tolak Kritik, i-dle Usung Pesan Ketahanan dan Penerimaan Diri di Lagu Crow