Hayuning Ratri Hapsari | Arifa R.
Potret Kylian Mbappe saat pertandingan melawan Paraguay (Imagn Images/James Lang)
Arifa R.

Panggung Piala Dunia rupanya kini telah merambah ke ranah politik internasional. Bintang sekaligus kapten tim nasional Prancis, Kylian Mbappé, terlibat konfrontasi sengit dengan seorang senator asal Paraguay, Celeste Amarilla.

Ketegangan ini mencuat setelah Amarilla melontarkan serangan rasial yang memicu kecaman global pasca-kekalahan timnas Paraguay dari Prancis.

Kronologi Munculnya Serangan Rasial

Dilansir dari Aljazeera (7/7/2026), ketegangan bermula saat Prancis berhasil menundukkan Paraguay dengan skor tipis 1-0 dalam laga babak gugur yang berlangsung dengan tensi tinggi. Gol tunggal kemenangan Les Bleus dicetak oleh Mbappé melalui eksekusi penalti pada menit ke-70.

Sayangnya, tensi panas di lapangan hijau berbuntut panjang ke media sosial. Celeste Amarilla, seorang senator dari Partai Liberal Radikal Otentik Paraguay, meluapkan kekesalannya di platform X.

Dalam unggahannya, Amarilla menyerang latar belakang Mbappé dengan menyebutnya sebagai "warga Kamerun terkolonisasi yang mati-matian berusaha menganggap dirinya sebagai orang Prancis."

Tak berhenti di situ, ia juga mengecam para pemain Paraguay karena tidak menampar Mbappé setelah pertandingan usai.

Serangan verbal ini melengkapi atmosfer rasisme yang sempat diembuskan sebelum laga oleh mantan kiper legendaris Paraguay, Jose Luis Chilavert, yang menyebut timnas Prancis sebagai "pasukan dari Afrika".

Tidak tinggal diam, Mbappé langsung memberikan respons menohok melalui akun media sosial pribadinya. Penyerang Real Madrid tersebut mengunggah foto sang senator disertai pernyataan keras.

"Anda tidak mewakili Paraguay, negara yang telah mengucurkan keringat gairah dan kehormatan sepanjang kompetisi ini," tulis Mbappé.

"Melalui kecerobohan dan rasisme Anda yang terang-terangan, seluruh dunia kini melupakan perjalanan dan upaya bersejarah yang dicapai para pemain Anda selama Piala Dunia ini, hanya demi memberi jalan bagi seorang wanita tidak kompeten yang memberikan citra terburuk bagi negaranya."

Setelah menerima gelombang protes dari netizen, Amarilla akhirnya menghapus unggahan tersebut. Ia kemudian merilis surat terbuka dalam bahasa Prancis dan Spanyol yang menyatakan penyesalan karena telah menggunakan "penghinaan yang sama" yang sering ia terima sebagai orang berdarah campuran.

Namun, polemik tidak berhenti di situ. Amarilla justru balik menuduh Mbappé telah melakukan "kekerasan berbasis gender" melalui kalimat balasannya. Ia menuntut permintaan maaf dari Mbappé dan mengancam akan membawa masalah ini ke jalur hukum.

Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) mengambil sikap tegas dengan mengumumkan rencana untuk mengajukan gugatan pidana terhadap Amarilla atas komentar yang mereka sebut sebagai tindakan "kriminal dan tercela".

Pemerintah Paraguay sendiri langsung mengambil jarak dari sang senator. Dalam pernyataan resminya, pemerintah Paraguay menyatakan "menyesalkan dan menolak pernyataan" Amarilla karena dinilai bertentangan dengan nilai-nilai martabat manusia yang dijunjung tinggi oleh negara.

Dukungan Presiden Macron

Pembelaan terhadap Mbappé datang langsung dari level tertinggi pemerintahan Prancis. Presiden Emmanuel Macron memberikan dukungan penuh kepada sang kapten lewat sebuah unggahan.

"Satu gol lagi dari Kylian Mbappé. Kali ini melawan rasisme. Dukungan penuh saya. Ketika kata-kata menodai, nilai-nilai kita yang menjawab: martabat, rasa hormat, dan persaudaraan," tegas Macron.

Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, turut menambahkan bahwa serangan terhadap Mbappé adalah serangan terhadap nilai kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan yang dianut oleh Prancis.

Di tengah badai polemik ini, Mbappé menjadi salah satu pemain paling subur di turnamen dengan torehan tujuh gol, menempatkannya di posisi kedua dalam perebutan Sepatu Emas.

Usai mendepak Paraguay, fokus Mbappé dan timnas Prancis kini sepenuhnya tertuju pada laga krusial babak perempat final melawan Maroko.