Hayuning Ratri Hapsari | zahir zahir
Markus Pall. (instagram.com/@markuspall)
zahir zahir

Geliat program naturalisasi di timnas Indonesia sepertinya akan memasuki jalan baru. Jelang ajang Piala Asia 2027 mendatang, PSSI dikabarkan akan mulai mencari calon pemain keturunan baru yang khususnya berposisi sebagai striker guna membela timnas Indonesia.

Beberapa nama seperti penyerang keturunan Belanda-Indonesia, yakni Dean Zandbergen mulai masuk radar PSSI dan berpeluang untuk menjalani proses naturalisasi. Di sisi lain, sang pemain sendiri juga terbuka untuk memnbela negara leluhurnya, yakni Indonesia.

Namun, kabar kurang baik justru datang ketika PSSI mulai serius melanjutkan proses naturalisasi Dean Zandbergen. Melansir dari laman instagram @arsiptimnas, Dean Zandbergen ternyata tak bisa melanjutkan proses naturalisasinya karena memiliki garis keturunan Indonesia dari buyutnya. Hal ini berarti dirinya tak memenuhi syarat dari FIFA yang membatasi proses naturalisasi hingga generasi ke-3, yakni kakek-nenek.

Usai dipastikan gagal menaturalisasi Dean Zandbergen, PSSI kini dikabarkan mulai mengalihkan fokusnya kepada penyerang lainnya yang berkompetisi di benua Eropa, yakni Markus Pall Ellertsson. Melansir dari akun instagram pribadi salah satu anggota Staf Khusus Menteri Hukum, Noor Korompot (@noorkorompotalks), PSSI diketahui tengah memantau penyerang yang memiliki darah Islandia-Indonesia tersebut guna peluang dinaturalisasi.

“Markús Páll Ellertsson memiliki garis keturunan Indonesia melalui ibunya. Ibu kandungnya lahir di Jakarta, Indonesia, sebelum kemudian dibesarkan/diadopsi di Eropa. Ia juga merupakan adik kandung dari Mikael Egill Ellertsson, gelandang/sayap yang bermain untuk klub Serie A Italia, Genoa CFC, serta memperkuat Timnas Senior Islandia,” tulis di laman instagram @noorkorompotalks.

Markus Pall Ellertsson sendiri memang memiliki garis keturunan Indonesia dari ibunya yang lahir di Jakarta. Melansir dari laman transfermarkt.com, dirinya merupakan adik dari penyerang timnas Islandia, Mikael Egill Ellertsson dan pernah menjadi bagian dari timnas Islandia U-19. Hal inilah yang membuat dirinya eligible membela timnas Indonesia jika benar-benar memiliki garis darah Indonesia dari ibunya.

Lalu, apakah Markus Pall Ellertsson bisa menjadi opsi lini depan timnas Indonesia yang dianggap masih membutuhkan striker?

Masih Berusia Muda, PSSI Perlu Memantau Perkembangan Markus Pall Ellertsson
Melihat dari usia Markus Pall Elletrsson yang cenderung masih muda, hal ini tentunya membuat banyak pihak menganggap jika sang pemain bisa menjadi aset jangka panjang bagi timnas Indonesia. Usianya yang masih 21 tahun juga bisa membuatnya membela timnas Indonesia U-23 jika nantinya benar-benar dinaturalisasi dan membela timnas Indonesia.

Namun, di sisi lain PSSI juga sebaiknya tak buru-buru menaturalisasi Markus Pall Ellertsson jika tak ingin kembali salah langkah. Hal ini didasari dengan beberapa kasus pemain naturalisasi sebelumnya yang memilih berkarir di liga Indonesia kendati masih berusia cukup muda.

Melansir dari beberapa sumber di laman berita suara.com, beberapa nama penyerang naturalisasi seperti Mauro Zijlstra, Jens Raven hingga Rafael Struick yang dulunya digadang-gadang jadi penyerang masa depan timnas Indonesia karena memutuskan dinaturalisasi di usia yang cukup muda, justru kini memilih berkarir di liga Indonesia karena dianggap kurang bisa bersaing di benua Eropa.

Alhasil, saat ini timnas Indonesia masih mengandalkan sosok Ole Romeny dan Ragnar Oratmangoen serta Mitchell Baker di lini depan timnas Indonesia. Bahkan, Ragnar Oratmangoen sendiri kini juga telah memutuskan bermain di liga Indonesia bersama Persib Bandung.

Lantas, apakah sebaiknya PSSI membatalkan proses naturalisasi Markus Pall Ellertsson? Secara statistik, Markus Pall Ellertsson memang memiliki performa yang cukup baik di kasta tertinggi sepakbola Islandia. Dirinya sejauh ini sudah mencetak 11 gol dari 21 laga bersama klubnya dan bisa menjadi penyerang yang cukup menjanjikan.

Namun, tentunya PSSI diharapkan tak terburu-buru menaturalisasi pemain dan harus melakukan pemantauan terus menerus agar performa pemain tersebut kian berkembang dan bisa memberikan dampak positif bagi timnas Indonesia.