Masa pandemi Covid-19 hingga saat ini belum berakhir. Bahkan situasi dan kondisi akhir-akhir ini semakin memburuk, dengan terus bertambahnya kasus positif setiap harinya. Pertambahan kasus tersebut tidak lagi di angka ratusan, atau bahkan ribuan, melainkan berada diangka puluhan ribu. Peningkatan kasus positif tersebut terus mengalami pelonjakan tinggi semenjak beberapa pekan terakhir karena sejumlah varian baru dari virus corona mulai melanda Indonesia.
Saat pertama kali diumumkan terdapat kasus virus corona di Indonesia, masyarakat berbondong-bondong membeli keperluan mereka untuk disimpan sebagai stok persiapan dalam menghadapi virus corona. Akibatnya, pembelian barang yang berlebihan atau penimbunan barang oleh masyarakat tersebut membuat stok yang ada di pasar semakin menipis dan semakin langka. Bahkan, semakin sulit untuk menemukan barang yang memang sangat diperlukan dalam situasi pandemi. Perilaku ini dikenal dengan sebutan panic buying.
Panic buying merupakan perilaku di mana seorang individu mengalami ketakutan, kemudian timbul rasa panik dalam pembelian sehingga membuat individu tersebut melakukan pembelian barang dalam jumlah yang sangat banyak, bahkan melampaui batas. Hal tersebut dipicu akibat rasa takut tidak kebagian barang yang diperlukan, atau rasa takut akan harga barang yang diperlukan akan naik sewaktu-waktu nanti.
Panic buying terjadi pertama kali pada saat diumumkannya virus corona yang telah mewabah di Indonesia dan diberlakukannya PSBB ketat. Pada saat itu, masker medis dan hand sanitizer menjadi barang yang sulit ditemukan. Bahkan jika ada, barang tersebut dijual dengan harga tinggi.
Baru-baru ini kembali terjadi lagi kasus panic buying di tengah masyarakat, dan saat ini pemberitaan tersebut tengah menjadi perbincangan dan menjadi viral di media sosial. Kasus tersebut terjadi karena terdapat suatu produk susu yang diklaim dapat mengatasi orang yang terkena virus corona. Bahkan disebut dapat mencegah terinfeksinya virus corona. Di dalam unggahan video yang menjadi viral tersebut, terdapat orang-orang yang terlihat sedang berebutan membeli produk susu dalam jumlah banyak.
Unggahan video tersebut menjadi viral di media sosial dan mendapatkan beragam tanggapan dari netizen yang melihatnya. Media dalam menyebarkan berita saat ini sudah memiliki kekuatan yang mendominasi di masyarakat. Pasalnya, masyarakat dan media saat ini sudah tidak bisa dipisahkan dalam kehidupannya. Dengan viral-nya video tersebut, kembali menimbulkan panic buying di dalam diri masyarakat yang melihat unggahan video.
Perkembangan teknologi terutama di bidang media, mengharuskan masyarakat untuk lebih meningkatkan kesadarannya atas informasi yang disebarkan oleh media dan mendorong masyarakat agar lebih pintar dan bijak dalam menggunakan media. Tak hanya itu juga, masyarakat dalam hal ini harus melakukan literasi yang benar atas informasi yang diterima agar dapat terhindar dari tindakan yang tidak diinginkan dan terhindar dari kepalsuan berita yang tengah merebak di masyarakat.
Di era digitalisasi pada saat ini membuat masyarakat terus menerus mengakses informasi di media yang mereka miliki bahkan di media sosial. Hal ini berkaitan dengan, masyarakat yang saat ini sudah mulai aktif dalam penggunaan media dan memanfaatkan penggunaan media tersebut untuk mendukung aktivitas sehari-harinya. Penggunaan media saat ini oleh masyarakat menjadi lebih intens akibat kegiatan yang kebanyakan hanya dirumah saja. Masyarakat yang lebih pintar dan lebih aktif dalam menggunakan media sesuai dengan teori Uses and Gratification.
Dalam teori Uses and Gratifications yang dikemukakan oleh Katz, Blumler, dan Gurevit menekankan bahwa pengguna aktif untuk menentukan media mana yang harus dipilih untuk memuaskan kebutuhannya. Pengguna mempunyai kebebasan bagaimana mereka menggunakan media dan bagaimana media itu akan berdampak pada dirinya. Teori tersebut relevan dengan keadaan masyarakat saat ini dalam penggunaan media saat ini. Di mana masyarakat dapat menentukan sendiri secara aktif terkait media apa yang ingin mereka gunakan dan hal-hal apa saja yang ingin mereka konsumsi di media.
Berkaitan dengan kebutuhan akan informasi, maka media menjadi konsumsi publik untuk memperoleh kabar terbaru dan faktual dari berbagai macam wilayah maupun dunia. Jika dahulu masyarakat menggunakan media cetak dan elektronik sebagai sarana untuk mencari informasi, namun sekarang dengan hadirnya media baru yaitu internet yang dapat diakses dengan mudah kapan pun dan dimana pun, membuat masyarakat saat ini lebih memilih menggunakan media baru.
Hal tersebut sesuai dengan Teori Uses and Gratification yang memandang khalayak sangat aktif dalam memilih mau pun menggunakan media. Ditekankan juga dalam teori tersebut bahwa teori ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan oleh media pada diri seseorang, tetapi ia tertarik dengan apa yang dilakukan orang terhadap media. Sehingga fenomena yang terjadi saat ini dapat dengan cepat diketahui oleh masyarakat luas karena adanya penggunaan media yang meningkat dan akses teknologi yang mendukungnya.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Quiet Quitting atau Self-Respect? Cara Gen Z Memandang Dunia Kerja Modern
-
Kenapa Banyak Orang Bertahan di Pekerjaan yang Tidak Disukai?
-
K-Pop Mulai Tergeser? Musik Lokal Jadi Raja Baru di Asia Tenggara
-
Rupiah Tembus Rp17.391, Sinyal Bahaya atau Puncak Krisis bagi UMKM?
Terkini
-
Kepala Pundak Kerja Lagi, Karya Sal Priadi Jadi OST Monster Pabrik Rambut
-
Main Karet di GBK Bareng Komunitas Bermain: Nostalgia Seru yang Kadang Terbentur Ribetnya Izin
-
3 Rekomendasi HP POCO Rp1 Jutaan 2026: Performa Ngebut, Harga Bersahabat
-
Menenun Kembali Persahabatan di Ujung Cakrawala Aldebaran
-
Resep Ketenangan di Pojok Kopi Dusun: Saat Modernitas Bertemu Tradisi di Kawasan Candi Muaro Jambi