M. Reza Sulaiman | Dimas Rahmat Naufal Wardhana
Uang Rupiah (pexels.com/Robert Lens)
Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Rupiah melemah berdampak ganda pada UMKM, karena menyebabkan peningkatan biaya produksi akibat bahan baku impor yang mahal dan menekan daya beli masyarakat. Memang UMKM sebagai cara peredam guncangan krisis (buffer shock), tapi fluktuasi rupiah makin melemah terhadap dolar AS per hari ini mencapai 17.391 Rupiah Indonesia.

Padahal saat awal tahun 2026 nilai tukar rupiah masih di angka Rp 16.680 per dolar AS. Memasuki bulan Mei, situasi makin meningkat drastis. Pada Selasa (5/5/2026), berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,17 persen secara harian. Saat ini rupiah di angka Rp 17.391, tetap saja angka ini melebihi dari perkiraan dari asumsi makro APBN 2026 yang memasang target kurs sebesar Rp 16.500-16.900 per dolar.

Sementara itu, dari pihak Bank Indonesia terus mempertahankan BI Rate di angka 4,75 persen guna menjaga stabilitas dan menarik minat investor asing di tengah arus keluar modal yang besar. Angka rupiah yang masih 17.391 ini menandakan rupiah melemah begitu parah, karena melihat dari sisi global harga minyak dunia meroket di antara 100 dolar AS per barel, akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Kemudian hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang tinggi, sempat menyentuh angka 4,47 persen, menarik modal keluar dari negara berkembang (termasuk Indonesia) karena investor mencari imbal hasil lebih aman. Dampak rupiah melemah pada UMKM dari penjual di pasar sudah merasakan kenaikan harga pangan. Bagaimana rupiah terus melemah? Rupiah makin melemah per hari, dampak mengerikannya bisa mengakibatkan barang impor menjadi mahal. Kalau kita ingin impor beras (saat stok lokal kurang), gula, kedelai, daging sapi impor, hingga produk elektronik dan bahan baku pabrik ikut terdongkrak. Dunia usaha terpaksa menaikkan harga jual, ujung-ujungnya beban ada di konsumen.

Di sisi lain, UMKM yang orientasinya pada ekspor berpotensi mendapatkan keuntungan, karena pendapatan mereka dalam dolar menjadi lebih bernilai saat ditukar ke rupiah, tapi perlu diingatkan pelemahan rupiah yang drastis cenderung memberikan tekanan yang lebih besar, terutama pelaku usaha kecil yang bergantung pada impor.

Melihat fungsi UMKM merupakan salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di tahun 2024, jumlah UMKM saat ini berada di angka 64,2 juta dengan kontribusi 61,07 persen terhadap PDB berjumlah Rp 8.573,89 triliun. Kontribusi UMKM menyerap 97 persen total tenaga kerja yang ada dan menarik hingga 60,4 persen dari total investasi.

Terpaut 2 tahun, di tahun 2026 menggambarkan posisi UMKM Indonesia. Untuk pelaku UMKM sudah di angka 66 juta pelaku UMKM aktif beroperasi per April 2026. Kemudian angka 61 persen PDB Nasional berasal dari UMKM. Untuk tenaga kerja berada di angka sebesar 117 juta tenaga kerja, terserap 97 persen dari total angkatan kerja. Dari 66 juta pelaku UMKM, sebanyak 44 juta belum bisa mengakses pembiayaan formal. Hal ini disebabkan bank belum percaya atau masih ragu memberikan kredit untuk pelaku UMKM, karena keterbatasan agunan dan rekam jejak keuangan yang minim. Dari hal tersebut, banyak bisnis UMKM memicu perkembangan dari modal sendiri atau tangan ketiga, yang sering kali tidak cukup.

Kemarin Presiden memanggil Menteri Keuangan dan Bank Indonesia membahas rupiah yang semakin melemah. Terdapat 7 strategi yaitu:

  1. Intervensi pasar valas masif di dalam negeri (spot dan DNDF) dan luar negeri (NDF), termasuk di Hong Kong, Singapura, London, New York.
  2. Meningkatkan arus modal masuk lewat Sekuritas Rupiah BI (SRBI). BI dan Kemenkeu bersinergi menahan capital outflow.
  3. Membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder (sudah Rp 123,1 triliun secara YTD).
  4. Menjaga likuiditas perbankan longgar (uang primer tumbuh 14,1%).
  5. Membatasi pembelian dolar tanpa underlying dari US$ 100.000 jadi US$ 50.000 per bulan (rencana diturunkan lagi jadi US$ 25.000).
  6. Memberi izin bank domestik menjual offshore NDF, sehingga pasokan valas bertambah.
  7. Memperkuat pengawasan kerja sama BI, OJK, LPS untuk cegah spekulasi liar.

Langkah lain yang unik adalah rencana penerbitan Panda Bond di China. Dengan suku bunga lebih rendah dari pasar dolar, Indonesia berharap bisa mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, sekaligus memperkuat cadangan devisa. Saat saya menonton berita, penyampaian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa “Rakyat tak perlu takut. Uang negara cukup.”

Dampak rupiah melemah ini perlu diperhatikan, karena masalah berat menyentuh semua lapisan masyarakat. Apalagi momentum ini terjadi saat Indonesia dalam fase pemulihan ekonomi dan ongkos logistik jadi membengkak. Jika rupiah melemah tanpa terkendali, kita bisa kehilangan stabilitas harga, meningkatnya angka kemiskinan baru. Semakin banyak ekonomi keluarga jatuh, akan berdampak pada angka kejahatan yang meningkat, karena setiap keluarga butuh upah untuk kehidupan sehari-harinya. Kemudian investor kabur, meski fundamental ekonomi kita kuat dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen dan inflasi yang terbatas di angka 2,42 persen.

Apa yang bisa kita lakukan? Kita mulai dari hal kecil, seperti kurangi belanja barang impor, perbanyak beli barang dalam negeri, bahan baku dalam negeri, dukung kebijakan transaksi tanpa dolar. Perubahan kecil ini semakin lama akan bertumbuh besar yang bisa dimulai dari kesadaran kolektif.