Selama bertahun-tahun, K-pop menjadi salah satu genre paling berpengaruh di Asia Tenggara, dengan basis penggemar yang sangat besar.
Namun, kini, tren mulai berubah dan perhatian pendengar perlahan beralih ke karya musisi lokal. Lantas, apakah benar K-Pop mulai ditinggalkan di Asia Tenggara?
Perubahan ini tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, terlihat adanya perubahan selera musik di Asia Tenggara yang cukup signifikan, terutama di platform streaming seperti Spotify.
Lagu-lagu lokal mulai mendominasi tangga lagu harian, menggeser posisi K-pop dan Western pop yang sebelumnya sangat kuat.
Lalu mengapa fenomena ini bisa terjadi? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Pergeseran Selera: Dari K-Pop ke Musik Lokal
Mengutip dari KBIZoom, data dari chart harian Spotify Top 50 di lima negara Asia Tenggara memperlihatkan tren yang sangat jelas. Musik lokal kini semakin mendominasi, menggantikan posisi K-pop dan Western pop yang sebelumnya kuat.
Di Indonesia, misalnya, musik lokal melonjak dari sekitar 60% menjadi 78%. Sementara itu, K-pop yang sebelumnya masih punya porsi kecil, kini turun drastis hingga hanya sekitar 1%.
Thailand dan Filipina juga mengalami hal serupa, dengan peningkatan signifikan pada lagu domestik dan penurunan pada musik luar.
Hal ini menunjukkan bahwa pendengar mulai lebih memilih lagu yang terasa “dekat”, baik dari segi bahasa, cerita, maupun emosi.
Lagu lokal dianggap lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga lebih mudah diterima dan dinikmati.
Reaksi Publik dan Masa Depan Industri Musik
Perubahan ini tidak hanya disadari oleh pendengar lokal, tetapi juga menarik perhatian publik internasional, termasuk netizen Korea Selatan.
Reaksi yang muncul pun beragam, mulai dari komentar negatif hingga dukungan terhadap perkembangan musik lokal di Asia Tenggara.
Sebagian menganggap hal ini sebagai ancaman bagi popularitas K-Pop, sementara yang lain melihatnya sebagai sesuatu yang wajar.
Ada juga yang menilai bahwa ini adalah tanda positif bahwa setiap negara mulai menghargai dan mengembangkan budayanya sendiri.
Ke depannya, tren ini kemungkinan akan terus berlanjut dan semakin kuat. Asia Tenggara kini tak lagi sekadar menjadi penikmat musik dari luar, tetapi mulai tampil sebagai penghasil karya yang mampu bersaing di kancah internasional.
Jika hal ini berkembang secara konsisten, besar kemungkinan musik lokal akan menjadi kekuatan baru yang membentuk arah industri musik global.
Baca Juga
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
Please Dont Date Him: Membongkar Red Flag Pasangan Lewat Kulkas Pintar
-
Tell Me What You Saw: Memburu Pembunuh Berantai Lewat Photographic Memory
-
Dunning-Kruger Effect: Matinya Kepakaran Akibat Penguasa yang Anti Kritik
-
Ulasan Sweet Munchies: Cinta Segitiga yang Berawal dari Dapur Restoran
Artikel Terkait
Kolom
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
Ketika Estetika Membuat Barang Kehilangan Umur Pakainya
-
Bisingnya Knalpot RX King: Mempertanyakan Ulang 'Hak Atas Kota' Warga Jogja
-
Demi Korban atau Selamatkan Muka? Menelanjangi Borok Penanganan Kasus di SMAN 1 Sentolo
-
Demo Mahasiswa UINSA: Tuntut Transparansi Rektorat Tanpa Harus Merugikan Rekan Sendiri
Terkini
-
Bye Jerawat Meradang! 4 Hybrid Sunscreen Heartleaf Kontrol Produksi Sebum
-
Heboh Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby: Ketika Selisih Usia Jadi Cermin Standar Ganda Kita
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis
-
Ulasan Your Lie in April: Tentang Belajar Hidup sebelum Semuanya Terlambat