Belakangan ini saya agak geregetan. Gara-garanya salah satu keponakan saya, atas intervensi orang tuanya lebih memilih menjadi aparat berseragam daripada menempuh jalur pendidikan yang lebih tinggi, kuliah dan menjadi sarjana.
Ceritanya, secara kasat mata orang tua keponakan saya ini memiliki kemampuan keuangan di atas rata-rata para saudara. Jadi, kalau hanya sekadar kuliah dan atas pertimbangan biaya, sebenarnya dia bisa memilih jurusan apa saja termasuk yang ongkos semesternya terkadang tidak masuk akal.
Di zaman yang serba terbuka atas segala akses informasi seperti sekarang, ‘kediktatoran’ orang tuanya sungguh sangat saya sayangkan. Apalagi yang dipaksakan adalah soal pilihan masa depan.
Padahal, menurut saya anak lulusan SMA, seperti keponakan saya ini tentu sudah memiliki bekal informasi dan pengetahuan yang tidak bisa dianggap enteng. Internet telah menjembatani banyak pengetahuan pada generasi seumurnya.
Dengan begitu, sebenarnya sudah bisa cukup menjadi bekal bagaimana keponakan saya meneropong masa depan. Karena sebenarnya, keponakan saya ini juga punya harapan untuk bisa kuliah dan menjadi seorang dokter. Ini saya pernah dengar dan lihat dari pergaulannya. Tapi apalah dikata, keponakan saya ini lebih memilih pada pilihan orang tuanya.
Tapi lebih parahnya, pilihan menjadi aparat berseragam ini juga diikuti sepupunya. Untuk lebih mudahnya sebut saja namanya Pian. Pian tidak mau kuliah karena ingin jadi pria berseragam berbadan kekar. Tapi karena terkendala persyaratan: tingginya masih kurang 3,5 cm dari standar tinggi badan persyaratan. Atas itu, Pian kadang kala renang, tapi sebenarnya lebih sering rebahan dan lebih mengandalkan obat peninggi badan.
Pilihan ini juga atas andil orang tuanya yang lebih mengarahkan ia untuk jadi aparat berseragam ‘saja’. Karena menurut orang tuanya, Pian tidak kuat berpikir.
Itu atas dasar evaluasi pembelajaran di sekolah yang menurut orang tuanya Pian tidak pintar matematika. Padahal menurut saya Pian memiliki potensi yang ‘tidak dianggap', yakni mudah bersosialisasi.
***
Ego dan sikap orang tua yang menurut saya berlebihan. Atas nama 'kuasa' orang tua, mereka terlena dan mengarahkan nasib yang mereka ‘kuasai’ dengan ‘otoriter dan dengan tidak menganggap' hanya karena tidak sesuai dengan rule-nya.
Saya sebenarnya tidak sedang menilai bahwa menjadi aparat berseragam berbadan kekar tidak baik. Itu juga merupakan profesi mulia yang jika diamalkan dengan baik akan mendatangkan banyak manfaat.
Selain itu, akan banyak pula orang-orang yang bisa ditolong dari profesi itu. Saya yakin itu. Cuma cara dan pendekatan orang tua yang otoriter yang saya sangsikan. Pengarahan yang ‘itu saja’ atas evaluasi satu mata pelajaran yang membuat saya kurang sejalan.
Saya juga sedang tidak mengidealkan kuliah, sarjana sebagai satu-satunya jalan merengkuh sukses masa depan. Tapi kalau berkaca pada masa lalu saya yang harus berjuang mati-matian untuk bisa menjadi mahasiswa, sikap orang tua yang saya ceritakan tentu sangat dipertanyakan.
Ada juga cerita tentang nasib teman saya di kampung yang sedari SD rangking 1 dan lebih memilih ngerumat sapi dan ladang karena ketiadaan biaya untuk melanjutkan pendidikan, maka sikap mereka juga patut disayangkan.
Baru-baru ini saya juga berdiskusi dengan beberapa mahasiswa. Mereka membentuk kelompok belajar: baca buku, persentase, dan mengurung diri dalam satu tempat.
Satu waktu mereka akan saling berbagi tentang apa yang mereka dapat dari bacaannya. Saya bertanya, dan rata-rata mereka berasal dari desa, dari keluarga petani dan nelayan. Anggaplah seperti nasib saya, mereka berasal dari keluarga yang kurang mapan secara ekonomi. Dari rautnya, mereka begitu bersemangat untuk belajar. Ada semangat hidup, daya juang, dan semangat untuk terus dan selalu belajar di usia idealnya.
Banyak orang tua, menurut saya telah merenggut semangat dan daya juang anak-anaknya dengan alibi kepraktisan cita-cita. Bahkan seakan takut dan tidak percaya pada diri dan kemampuan anaknya. orang tua memilihkan dan menentukan, artinya karena tidak percaya. Dan saya takut pada ketidakpercayaan itu.
Saya mendengar langsung, bahwa orang tua keponakan saya tadi pada seusia anaknya juga sering latihan fisik, push-up dan sebagainya, karena ingin juga menjadi aparat berseragam katanya.
Tapi kini, dia beraktivitas jauh dari itu semua. Terus anaknya yang sekarang lagi menjalani pendidikan aparat berseragam itu sebenarnya obsesinya siapa? Dan si Pian?, kini dia lebih sering mondar-mandir, motoran urusan teman yang mengundangnya ke sana dan si anu yang juga ingin ketemuan besoknya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Membedah Perjuangan Politik Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan Bangsa
-
Jejak Politika Ki Hajar Dewantara dalam Menyongsong Kemerdekaan Bangsa
-
Ngaku Bak Bumi dan Langit, Beda Pendidikan Lisa Mariana Vs Atalia Praratya
-
Tak Sampai Rp2 Juta, Kemensos Tawarkan Kuliah di Poltekesos, Terjangkau Buat Keluarga Prasejahtera
-
Urgensi Pendidikan Budi Pekerti Ki Hadjar Dewantara vs Krisis Rasa Bersalah
Kolom
-
Membedah Perjuangan Politik Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan Bangsa
-
Demokrasi atau Diktator? Brutalisme Aparat di Balik Demonstrasi UU TNI
-
Wisata Jokowi, Rasa Cinta di Antara Suara Kritis Kita
-
Jejak Politika Ki Hajar Dewantara dalam Menyongsong Kemerdekaan Bangsa
-
Idul Fitri dan Renyahnya Peyek Kacang dalam Tradisi Silaturahmi
Terkini
-
Bikin Hati Adem, Ini 3 Novel Jepang Berlatar Toko Buku dan Perpustakaan
-
Review Film A Minecraft Movie: Petualangan Konyol dan Penuh Imajinasi
-
Review Article 370: Film Thriller yang Bikin Kamu Nggak Mau Berkedip!
-
Lee Jae Wook Bakal Main di 'Honeycomb Project', Drama Horor Fantasi Netflix
-
Kalahkan Korea Selatan, Hal Ini Masih Perlu Dievaluasi dari Timnas Indonesia U-17