Penajam Paser Utara (PPU) telah ditunjuk menjadi bagian daerah Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang baru pada tahun 2019. Pemilihan daerah PPU dan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota Negara yang baru dinilai sangat strategis dari segi geografis Indonesia.
Pemetaan Fasilitas Kesehatan dan Kondisi Kependudukan di PPU
Dilansir dari data yang diterbitkan Badan Pusat Statistik PPU, jumlah penduduk PPU berdasar kecamatan pada tahun 2019, 2020, 2021 dan 2022 secara berturut-turut berjumlah 173 ribu, 181 ribu, 186 ribu, dan 191 ribu.
Skala angka ini menunjukkan pertumbuhan yang lumayan besar. Terhitung transisi tahun 2019 ke 2020 menunjukkan pertambahan penduduk sebesar 8 ribu orang, terbesar sejak 2015 yaitu 7 ribu orang.
Dengan pertumbuhan penduduk yang sangat besar di mana IKN Nusantara sebagai faktor penariknya, tentu fasilitas publik di wilayah PPU perlu dilihat dan dipertimbangkan searah dengan perkembangan jumlah penduduk ini.
Dari fasilitas kesehatan sendiri, PPU sebagai daerah penopang IKN sudah memiliki 11 PUSKESMAS dan 2 RSUD lalu terdapat 43 PUSKESMAS Pembantu, 4 poliklinik dan 37 apotek. Sejak 2019 hanya terdapat peningkatan poliklinik, apotek dan RSUD sebanyak 1 unit masing-masing fasilitasnya.
Pandangan Ahli dan Penulis terhadap Kondisi Fasilitas Kesehatan di PPU
Safira Kunthi Arlivianti, Penata Tingkat I Administrator Kesehatan Ahli Muda, Dinas Kesehatan PPU, mengatakan bahwa unit yang ada di PPU sekarang masih mencukupi untuk memfasilitasi penduduk yang ada.
Namun, tentunya ketika perpindahan penduduk ke IKN semakin tinggi terutama perpindahan ASN yang diperkirakan mencapai 11 ribu dengan total hunian IKN ditafsir mencapai 1.7 juta orang, tentu perlu fasilitas kesehatan yang lebih menunjang secara kualitas maupun kuantitas.
Safira juga menyebutkan bahwa pembangunan Rumah Sakit bertaraf Internasional serta Klinik TNI sudah cukup menangani IKN Nusantara nantina. "Kalau ada pertambahan manusia tentunya rumah sakit pelu ditambah juga, karena IKN ada di daerah sepaku jadi dipusatkan di daerah sana juga", tambah Safira.
Namun, perlu dipahami juga bahwa tentunya akan banyak pertumbuhan penduduk yang hidup di daerah ring terluar IKN yaitu sepanjang jalan provinsi yang menghubungkan Kaltim dan Kalsel. Di mana dengan jarak yang lumayan besar perlu dibangun RSUD di sekitar perbatasan Kaltim dan Kalsel yaitu di daerah antara Babulu, Longkali dan Longikis.
Karena dengan jarak yang terlebih 60 km sampai 100 km, sangatlah terhitung jauh untuk wilayah tersebut menjangkau RSUD di Paser (RSUD Panglima Sebaya) ataupun RSUD RAPB di Nipah-Nipah (Kabupaten PPU). Daerah Perbatasan antara Kabupaten Paser dan PPU menjadi titik tengah perbatasan tanpa fasilitas kesehatan publik tingkat rujukan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Ngeri! Guru Perempuan Di Kalsel Ditusuk 13 Kali Saat Melawan Pemuda Mabuk Yang Hendak Memperkosanya
-
Mitos atau Fakta? Mahar yang Mahal hingga Alat Vital Cowok Bisa Hilang Kalau Menyakiti Gadis Dayak
-
MERINDING! Cowok yang Jatuh Cinta pada Gadis Dayak akan Lupa Kampung Halamannya?
-
Dianggap Keponakan Ida Dayak, Selebgram Cantik Ini Juga Punya 'Kemampuan Magis'?
-
CEK FAKTA: Innalillahi, Adu Kesaktian dengan Dukun Dayak, Pesulap Merah Meninggal Dunia
Kolom
-
Potret Kemunduran Demokrasi dan Menguatnya Corak Otoritarian di Indonesia
-
Harapan di Penghujung 2025: Kekecewaan Kolektif dan Ruang Refleksi Pribadi
-
Tahun Baru dan Identitas Diri: Kenapa Banyak Orang Ingin Jadi 'Versi Baru'?
-
Darurat Sampah 2025: Saat Kantor Pejabat Jadi Tempat Pembuangan Akhir
-
Self-Love Bukan Egois tapi Cara Bertahan Waras di Tengah Tuntutan Hidup
Terkini
-
Makin Panas, ADOR Gugat Danielle hingga Min Hee-jin Capai Rp499 Miliar
-
Sangat Berat! Media Asing Soroti Tugas John Herdman di Timnas Indonesia
-
Perjalanan Menemukan Diri Sendiri dari Buku Aku yang Sudah Lama Hilang
-
Kaleidoskop Prestasi Bulutangkis Indonesia: 21 Gelar di BWF World Tour 2025
-
CERPEN: Tak Semua Cinta Layak Diungkapkan