Steven berdiri di pelaminan sejak pagi dengan senyum yang telah ia latih berulang kali di depan cermin. Senyum yang pantas. Senyum seorang lelaki yang akhirnya "sampai".
Semua orang menyebutnya bahagia. Maka, ia pun mengangguk, menerima sebutan-sebutan itu seperti menerima pakaian adat yang dikenakan kepadanya—indah, berat, dan tak sepenuhnya ia pilih sendiri.
Hari itu berjalan sebagaimana mestinya sebuah hari pernikahan. Ucapan selamat yang bertumpuk, jabat tangan yang tak sempat diingat satu per satu, serta tawa yang terdengar seperti gema jauh dari tempat ia berdiri.
Ia menunaikan semua peran dengan baik. Ia menatap istrinya dengan hormat. Ia menjawab salam dengan suara mantap. Ia tidak berbuat salah. Namun, ada satu ruang dalam dadanya yang sejak pagi terasa kosong, seperti kursi yang dibiarkan tak berpenghuni tanpa ada yang berani menyebutnya.
Steven tak tahu mengapa, tetapi sejak siang matanya berkali-kali melayang ke pintu masuk. Setiap kali kain tirai sedikit bergerak, dadanya bergetar pelan, lalu kembali diam. Ia menyalahkan lelah. Ia menyalahkan gugup. Ia menyalahkan hari yang terlalu panjang.
Hampir tengah malam, tamu mulai berkurang. Kursi-kursi kosong bertambah. Panitia mulai berbicara dengan suara lebih pelan, seperti takut mengganggu sesuatu yang sedang sekarat. Steven akhirnya bisa bernapas sedikit lebih dalam.
Dan di saat itulah, ketika ia tak lagi menunggu apa pun, ia melihat Via.
Via berdiri tenang di dekat pintu. Meski tampak sedikit ragu apakah kehadirannya masih diizinkan oleh waktu, gadis itu melangkah dengan percaya diri. Seperti ilalang yang mungkin tampak rapuh, tetapi tetap kokoh menjejak meski diterpa angin kencang sekalipun.
Setelannya sederhana, kemeja dan celana bahan yang tampak formal. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang seharusnya menggetarkan. Mata mereka bertemu hanya sesaat. Namun, dalam sesaat itu, dunia yang sejak pagi berisik mendadak sunyi.
Steven merasa sesuatu runtuh perlahan di dalam dirinya. Bukan dengan suara keras, melainkan seperti bangunan tua yang akhirnya menyerah pada usia. Suara itu bergemeletuk di dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
Ia tak pernah tahu apakah Via juga mencintainya. Dan justru karena itulah, perasaan yang muncul kini terasa kejam. Ia ingin mencoba bertanya, tetapi semua telah terlambat. Ada hati yang harus ia jaga, seorang gadis yang pagi ini sah menjadi istrinya.
Ia teringat pesan-pesan lama yang pernah ia kirim dengan nama samaran. Candaan-candaan kecil. Sapaan yang pura-pura tak berarti. Ia teringat bagaimana ia selalu berharap Via bertanya lebih jauh, menahan percakapan sedikit lebih lama. Ia mengira semua itu hanya permainan ringan. Ia mengira jika Via diam, maka ia tak peduli.
Kini ia tahu, betapa bodohnya manusia ketika mengira diam adalah kosong.
Via menunduk sedikit, memberi salam dari kejauhan. Tidak mendekat. Steven membalas dengan anggukan kecil—sebuah gerakan yang terlalu resmi untuk sesuatu yang sebenarnya ingin ia panggil dengan suara paling jujur yang pernah ia miliki.
Ada begitu banyak kata yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Tentang bagaimana ia dulu menunggu balasan pesan. Tentang bagaimana ia sering merasa cukup, lalu merasa tidak pantas. Tentang bagaimana ia memilih jalan yang aman, karena cinta yang terlalu dalam terasa seperti jurang.
Namun, semua kata itu mati di tenggorokannya. Sebab, ia kini adalah suami seseorang. Kehadiran Via mengonfirmasi bahwa semua perasaan di dadanya adalah sebuah kenyataan, bukan ilusi semata.
Steven merapikan jasnya.
“Via,” katanya sambil tersenyum. Langkahnya cepat, tetapi tetap sopan. “Kamu datang.”
Via tersenyum. Tipis. Terkendali. “Iya. Maaf, aku telat. Tadi ada rapat.”
Steven mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Entah kenapa, ia selalu tahu kapan harus berhenti bertanya pada Via.
“Gak apa-apa,” katanya. “Kamu sendirian?”
“Iya,” jawabnya singkat sambil meminum jus jeruk yang disediakan pramusaji.
Steven tak berani menatap Via terlalu lama. Gadis ini masih sama seperti terakhir di ingatannya; selalu mandiri, kuat, dan misterius.
Steven melirik sekeliling. Beberapa laki-laki masih berdiri di sudut ruangan, berbincang dengan suara setengah mabuk bahagia. Ia refleks berdiri sedikit lebih dekat ke Via—bukan posesif, hanya naluriah. Seperti dulu. Selalu begitu.
“Duduk, yuk,” katanya. “Capek berdiri.”
Mereka duduk di kursi tamu yang tersisa, menghadap meja pengantin yang kini kosong. Steven tersenyum kecil, agak kikuk. “Aku gak nyangka kamu bakal datang.”
Via menunduk sebentar. “Aku janji sama diri sendiri buat datang.”
Steven tidak tahu kenapa kalimat itu terasa berat.
“Kemana… pengantin wanitanya?” tanya Via akhirnya. Suaranya tenang, terlalu tenang.
Steven terdiam sepersekian detik. “Oh. Istri aku… dia istirahat duluan. Kurang sehat.”
“Oh,” kata Via. “Semoga cepat baikan.”
“Iya. Mudah-mudahan.”
Ada jeda. Jeda panjang yang diisi suara piring diangkut dan langkah panitia yang mulai terburu-buru. Steven memulai obrolan lagi, seperti yang selalu ia lakukan sejak dulu.
“Kamu masih kerja di tempat yang sama?”
Via mengangguk. “Masih. Kamu juga kelihatan sibuk.”
“Iya,” katanya sambil tertawa kecil. “Hari ini paling sibuk.”
Via ikut tersenyum, tetapi Steven melihat sesuatu di matanya. Seperti seseorang yang berdiri terlalu lama di tepi laut, menahan diri agar tidak masuk.
“Kamu baik-baik aja?” tanya Steven pelan.
Via mengangguk cepat. “Baik. Aku senang kamu bahagia.”
Kalimat itu terdengar rapi. Terlalu rapi. Steven tidak tahu mengapa dadanya terasa sedikit sempit. “Terima kasih sudah datang,” katanya. “Beneran.”
Via berdiri lebih dulu. “Aku gak lama. Udah terlalu malam.”
Steven ikut berdiri. Menjabat tangan Via cepat. Ia bahkan sempat kaget dan refleks menariknya. Tindakannya yang begitu impulsif semakin memperjelas semuanya. Ia takut goyah.
“Hati-hati pulang,” ucap Steven sambil menunduk. Lalu segera berbalik dan bergabung dengan tamu yang lain.
Via melangkah pergi, memasukkan amplop ke dalam kotak yang disediakan, lalu pergi dari aula. Steven tak menengok ke belakang. Ia tak berani. Ia memilih menyibukkan diri dengan berbasa-basi kepada tamu yang lain, melupakan gadis itu yang mungkin masih ada di parkiran.
Tidak ada air mata. Tidak ada adegan dramatis. Hanya dua manusia yang sama-sama berdiri di titik yang berbeda, menatap kemungkinan yang tak pernah diberi nama. Steven menatap semu bayangan kosong tentang gadis itu yang menghilang di balik tirai. Dan untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, senyumnya benar-benar gugur.
Malam datang. Gedung ditutup. Lampu dipadamkan satu per satu. Steven duduk sendiri sejenak sebelum pulang, merasakan sesuatu yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Bahkan pada dirinya sendiri.
Ia akhirnya mengerti bahwa ada cinta yang tidak gagal karena tidak diperjuangkan, melainkan karena terlalu lama disimpan hingga berubah menjadi jarak yang tak bisa lagi diseberangi.
Dan di hari ketika semua orang menyebutnya bahagia, Steven belajar satu kebenaran yang tak pernah diajarkan siapa pun: bahwa tidak semua kehilangan terjadi saat sesuatu pergi. Sebagian justru terjadi saat hidup memilih untuk berjalan tanpa pernah menoleh ke belakang.
Baca Juga
-
Ketika Jurnalisme Bertemu Konspirasi Kelas Dunia di Buku The Sky is Falling
-
Kritik Sosial pada Standar Menantu Ideal di Buku Cinta Laki-Laki Biasa
-
Ketika Chat Mesra Ternyata Salah Sasaran: Manisnya Sweety Anatomi
-
Realita Kehidupan Dewasa yang Tidak Selalu Indah di Buku Rapijali 3
-
Eona: Ketika Punggawa Naga Terakhir Menentukan Nasib Sebuah Kekaisaran
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Banjir Air Mata, Nonton Duluan Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan, Sukses Mengharu Biru
-
Obral Izin Masuk Berujung Bencana: Ketika Bandar Judi Internasional Menyamar Jadi Wisatawan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Lagu K-Pop Full Bahasa Inggris: Strategi Bisnis atau Tanda Berakhirnya Era Lokal?
-
Wajah Glowing Instan! Ini Rahasia Eksfoliasi Lembut dengan Ekstrak Apel