Ada yang bilang, hiburan itu hak semua orang. Tapi kalau hiburannya isinya cuma prank basi, toxic challange, atau settingan drama, apakah itu masih bisa disebut hiburan? Kita hidup di zaman di mana apa pun bisa menjadi konten. Sayangnya, banyak konten yang sama sekali tidak mendidik. Tak jarang membodohi penontonnya. Fenomena ini muncul bukan hanya karena kreatornya kurang inovatif, tetapi juga karena audiensnya, ya, kita semua, yang diam-diam menikmati konten semacam itu.
Platform media sosial sekarang penuh dengan konten prank. Dari yang lucu-lucuan ringan sampai prank keterlaluan yang berujung air mata. Sebut saja prank pura-pura melamar pacar atau membuang barang milik teman untuk "dijadikan kejutan." Alih-alih menghibur, prank semacam ini sering kali malah merugikan korban dan meninggalkan trauma. Ironisnya, konten semacam ini terus bermunculan karena masih ada yang rela menonton, dan parahnya, ada yang tertawa.
Lalu, apa yang salah? Salah satu penyebabnya adalah algoritma. Media sosial saat ini bekerja seperti cermin dari kebiasaan pengguna. Kalau kita sering menonton lelucon atau tantangan konyol, algoritma akan berpikir, "Oh, kamu suka ini," lalu menyajikan lebih banyak konten serupa. Akhirnya, tanpa disadari, kita terjebak dalam lingkaran konsumsi konten yang semakin dangkal. Ditambah lagi, para kreator terus memproduksi konten serupa demi "views" dan "likes." Sungguh siklus yang melelahkan.
Kecanduan ini semakin diperparah dengan pengaruh budaya FOMO (Fear of Missing Out). Banyak orang takut Disebut "nggak update" kalau nggak ikut menonton video viral terbaru. Padahal, video itu sering kali hanya menampilkan tingkah laku yang, kalau dipikir-pikir, nggak ada manfaatnya sama sekali. Budaya ini menjadikan masyarakat, terutama generasi muda, lebih menghargai popularitas dibandingkan kualitas.
Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab? Pencipta? Penonton? Atau platform itu sendiri? Jawabannya adalah semua pihak. Kreator perlu lebih bertanggung jawab dalam mempertimbangkan dampak konten yang mereka buat. Penonton juga perlu lebih memilih apa yang ingin mereka konsumsi. Dan platformnya? Jangan cuma fokus mengejar keuntungan, tapi juga harus memperhatikan kualitas konten yang disebarkan.
Namun, semua ini kembali pada diri kita masing-masing. Sebelum menekan tombol "play" atau "subscribe", coba tanyakan pada diri sendiri: apa yang saya dapat dari menonton ini? Apakah konten ini membuat saya lebih pintar, lebih bahagia, atau malah lebih kosong? Karena pada akhirnya, hiburan yang tidak mendidik itu seperti junk food bagi otak—rasanya enak sesaat, tapi merusak dalam jangka panjang.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Internet Sudah Jadi Kebutuhan Pokok, Kenapa Tata Kelolanya Masih Merugikan Konsumen?
-
BBM Non Subsidi September 2026 Naik: Beban Global atau Momentum Evaluasi?
-
XL Buktikan Diri Jadi Jaringan Terbaik 2026, Saatnya Kamu Coba Sendiri!
-
Gaji Naik Secepat Siput, Harga Rumah Melesat bak Roket Luar Angkasa
-
Iqro', Lagu yang Bikin Saya Mikir Ulang soal Kesombongan Sendiri
Artikel Terkait
-
5 Cara Download Video Facebook Langsung ke HP Kamu
-
Jebakan Media Sosial: Bagaimana Menemukan Keseimbangan Antara Ambisi dan Tekanan Sosial?
-
Ada Meet and Greet Masha and The Bear di Karnaval VTV Hari Ini
-
Scrolling Media Sosial Tidak Kenal Waktu? Awas Otak Kamu Jadi Brain Rot!
-
Tayang Desember, 10 Film Bioskop Ini Bisa Jadi Hiburan Akhir Tahunmu
Kolom
-
Financial Anxiety: Saat Memikirkan Uang Lebih Melelahkan dari Mencari Uang
-
Mitos Kelas Menengah: Ketika Kelas Ekonomi Gagal Ungkap Kerentanan Pekerja
-
Tall Poppy Syndrome: Ketika Orang Berhasil Justru Dicari Kekurangannya
-
Label Expired untuk Perempuan: Mengapa Bertambah Usia Dianggap Kerugian?
-
Bahaya Penggunaan Prompt, Pendinginan Server Menyebabkan Krisis Air Bersih
Terkini
-
Optimis! Fabio Quartararo Yakin Honda Bisa Bangkit di Era MotoGP 2027
-
Oppo Find X10 Siap Debut 22 September: Flagship dengan Kamera 200 MP dan Baterai Jumbo 8.000 mAh
-
Tren Aplikasi Ringkasan Buku: Solusi Hemat Waktu atau Ancaman Daya Kritis?
-
Review Film Once We Were Us: Ternyata Cinta Saja Tak Selalu Cukup
-
Anti Lengket! 5 Lip Matte Ringan yang Nggak Menggumpal dan Bebas Pecah