Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Wakil Presiden Gibran Rakabuming (Instagram/@setwapres.ri)
Fauzah Hs

Pernah nggak sih kamu lihat pejabat ngomong soal teknologi canggih, terus kamu mikir: "Ini beneran paham atau cuma biar kelihatan pinter?" Nah, itu kurang lebih yang terjadi waktu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka cerita soal pengalaman dia mantau arus mudik pakai AI. Iya, AI—kecerdasan buatan.

Kedengarannya futuristik banget, kan? Tapi tunggu dulu.

Gibran bilang, AI dipakai buat bantu Jasa Marga dan polisi ngatur kebijakan one way dan contraflow. Katanya, dengan AI, mereka bisa tahu kapan waktu yang tepat buat ambil keputusan.

Keren sih di permukaan. Tapi yang bikin banyak orang angkat alis bukan cuma soal teknologinya, tapi gimana itu dikemas.

Faktanya, teknologi yang dipakai itu masih tergolong basic. Bukan AI secanggih robot yang bisa bikin novel atau ngoding sendiri. Beberapa netizen dan praktisi IT bilang, yang dipakai itu cuma object detection, metode analisis sederhana kayak AHP (Analytic Hierarchy Process), atau decision tree.

Jadi ya, lebih mirip sistem bantu yang logis, bukan "kecerdasan buatan" yang bikin kagum. Tapi karena istilah "AI" lagi naik daun, ya diselipin aja biar kesannya canggih. Istilahnya: marketing-nya AI, bukan teknologi beneran AI.

Ini bukan soal nyinyir atau antikemajuan, tapi lebih ke: kenapa sih kita suka banget pake istilah keren tapi nggak transparan soal isinya? Kalau niatnya buat edukasi publik, kenapa nggak dijelasin dengan bahasa yang jujur?

Yang bikin tambah ramai, ini bukan kali pertama Gibran bawa-bawa AI dalam pernyataan publik. Sebelumnya, dia juga sempat melempar wacana buat masukin AI ke kurikulum sekolah. Idenya memang terdengar visioner, tapi banyak yang ngerasa belum matang.

Bayangin aja, kurikulum kita aja masih suka gonta-ganti tiap ganti menteri. Guru-guru juga banyak yang belum siap ngajar coding dasar, apalagi AI? Kalau semua digas tanpa persiapan, takutnya jadi kayak bangun rumah di atas pasir—kelihatan keren, tapi gampang ambruk.

Yang bikin kita mikir lebih jauh adalah gaya komunikasi seorang wakil presiden yang seharusnya bisa jadi teladan dalam menyampaikan ide. Publik bukan cuma pengen dengar istilah keren.

Kita pengen lihat kepemimpinan yang bisa ngajak mikir bareng, ngajak dialog, bukan sekadar kasih headline buat media. Apalagi kalau bicara soal masa depan teknologi dan pendidikan, penting banget punya pemimpin yang nggak cuma ikut tren, tapi bener-bener paham dan siap dorong perubahan yang berdampak.

Kita tahu kok, AI itu penting. Dunia kerja ke depan akan sangat tergantung pada teknologi ini. Tapi ngajak orang paham soal AI butuh pendekatan yang serius. Bukan cuma mention istilah, tapi ngajak orang ngerti konsepnya, peluangnya, dan risikonya. Kalau nggak, AI cuma jadi buzzword kosong kayak kata "startup" zaman dulu: banyak dipakai, tapi sedikit yang paham.

Sebagai generasi muda, kita perlu punya radar buat bedain mana pemimpin yang bener-bener mikirin masa depan, dan mana yang cuma jualan narasi.

Kita juga punya hak buat nanya: Gimana implementasinya? Siapa yang dilibatkan? Apa infrastrukturnya siap? Jangan sampe kita kebanjiran jargon, tapi kering bagian realisasi.

Ngomongin AI di mudik emang catchy. Tapi yang lebih menarik buat dibahas sebenarnya: kenapa lalu lintas di Indonesia dari tahun ke tahun selalu chaos di momen Lebaran?

AI atau bukan, masalahnya masih itu-itu aja: jalan tol yang overload, manajemen yang nggak antisipatif, dan koordinasi yang sering telat. Kalau AI dipakai buat nambal lubang sistem yang bocor di mana-mana, ya tetap aja nggak maksimal.

Akhirnya, ini semua balik ke satu hal: kejujuran dan ketulusan dalam memimpin. Kita nggak butuh pemimpin yang kelihatan futuristik, tapi yang bisa ngajak rakyatnya jalan bareng ke masa depan dengan pijakan yang nyata.

Jadi, kalau mau ngomongin AI, ayo kita bahas bareng-bareng. Ajak ahlinya, rangkul pendidiknya, libatkan anak muda. Jangan cuma pake AI sebagai stiker keren buat nutupin sistem yang masih amburadul.

Karena masa depan bukan dibentuk sama istilah keren, tapi sama langkah konkret. Terlebih generasi kita, yang udah melek teknologi dan nggak gampang kagum sama jargon, bakal selalu nanya: "Ini beneran atau cuma gimmick?"

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS