Hujan Jakarta pada Kamis, 28 Agustus 2025, tidak mampu memadamkan nyala semangat seorang ibu berjilbab pink di depan Gedung DPR. Dengan bendera Merah Putih yang terikat erat pada bambu, beliau berdiri bagai karang, berdiri teguh meski dihantam badai, menantang barisan Brimob yang bersenjata lengkap. Dalam sorot matanya, tersimpan elegi perjuangan rakyat kecil di negeri yang hancur lebur oleh ketimpangan.
Demonstrasi itu lahir dari luka rakyat: tunjangan DPR Rp50 juta per bulan untuk perumahan, kontras dengan upah buruh Jakarta yang hanya Rp5,3 juta. Ibu berjilbab pink, yang wajahnya kini menghiasi linimasa X, mengguncang hati dengan teriakannya, “Di luar ini kelaparan, apa gajinya kurang [DPR]?” Suaranya adalah gemuruh rakyat yang lelah, menuntut keadilan di tengah derap sepatu bot dan asap gas air mata.
Indonesia, dalam cengkeraman jiwa-jiwa pejuang, seperti sang ibu berjilbab pink, tampak bagai lukisan kelam yang pudar warnanya. Harga beras dan biaya sekolah melonjak, mencekik ibu-ibu, seperti Titin Nurlina Sari, yang gajinya ludes 70% untuk pendidikan anak. Negeri ini, yang katanya merdeka, terasa bagai sangkar bagi rakyat kecil yang terjerat outsourcing dan utang rentenir.
Keberanian sang ibu berjilbab pink adalah puisi hidup, ditulis dengan nyali dan air mata. Saat anaknya bertanya, “Dari mana, Ma?” dengan cemas, beliau hanya tersenyum lembut dan menjawab, “Ora ko endi-endi,” sembari melipat jas hujannya yang menjadi saksi atas perjuangannya meski perkataannya menyembunyikan fakta bahwa beliau baru pulang dari garis depan—mempertaruhkan nyawa demi masa depan bangsanya.
Sang ibu berjilbab pink tidak ingin anaknya khawatir, meski namanya tengah jadi perbincangan hangat di seluruh kota, dan diam-diam bangga telah ikut demonstrasi hari itu—sebuah ibu ikonik yang penuh cinta dan keberanian, layak disebut GOAT dengan ucapan khas “Ora ko endi endi” dalam dialek yang puitis.
Media sosial menjadi panggung solidaritas, menyorot keberanian ibu berjilbab pink bagai lentera di kegelapan. Unggahan di X dari @lucywiryono dengan caption “How angry are we? This angry,” menampilkan fotonya yang gagah melawan polisi, sementara @txtdrgame menulis, “Ibu jilbab pink, you’re the real MVP of today’s demo,” mencerminkan kekaguman netizen. @nuncompliance berseru, “This mom is a legend, standing tall for us all,” menegaskan statusnya sebagai simbol perlawanan.
Di balik keberaniannya, ada cerita pilu rakyat kecil yang sang ibu berjilbab pink wakili. Buruh perempuan, seperti Titin Nurlina Sari, harus berjuang dengan gaji pas-pasan, sementara DPR bergoyang “Gemu Fa Mi Re” di sidang tahunan MPR. Demonstrasi ini, dengan ibu berjilbab pink sebagai ikonnya, adalah seruan bahwa rakyat tidak lagi sudi jadi penutup luka ketimpangan.
Negara ini, sebagaimana terlihat dari kericuhan demo, sedang terperosok dalam krisis nurani. Kematian seorang pengemudi ojek online yang dilindas kendaraan Brimob menjadi noda kelam, memicu kemarahan dan tuntutan tanggung jawab aparat. Indonesia yang hancur lebur ini butuh lebih dari janji manis; ia butuh keadilan yang nyata.
Namun, di tengah kelabu, sang ibu berjilbab pink adalah bunga yang mekar di reruntuhan. Tas kecil berisi bekal dan bambu dengan Merah Putih di tangannya adalah lambang perlawanan yang tidak kenal lelah. Beliau mengajarkan bahwa keberanian seorang ibu bisa mengguncang tembok kekuasaan meski hanya dengan teriakan dan hati yang penuh cinta.
Aksi ibu berjilbab pink adalah nyanyian perjuangan, dinyanyikan tanpa nada, tetapi penuh makna. Netizen di X, dengan komentar seperti “Hidup perempuan yang melawan! Terima kasih, Ibu,” menegaskan bahwa suaranya telah menembus dinding ketidakpedulian. Perjuangannya adalah cermin bahwa rakyat kecil masih punya nyali untuk bermimpi tentang negeri yang lebih adil.
Indonesia yang lebur ini, melalui mata ibu berjilbab pink, menunjukkan wajahnya yang sebenarnya. Beliau tidak sekadar viral, tetapi mercusuar yang menerangi jalan menuju perubahan. Dengan “Ora ko endi-endi,” yang beliau ucap pada anaknya, beliau seolah merangkum perjuangan tanpa pamrih: mempertaruhkan nyawa demi bangsa, tanpa mengharap sorak-sorai.
Sang ibu berjilbab pink adalah elegi tentang negeri yang tidak baik-baik saja, tetapi masih punya harapan, meski hanya secercah. Beliau, dengan jilbab pink dan bendera Merah Putih, adalah puisi yang ditulis dengan darah dan air mata rakyat. Perjuangannya mengingatkan kita: selama masih ada rakyat seperti beliau, Indonesia belum sepenuhnya redup. Indonesia masih bisa kembali hidup—dengan sebaik-baiknya negara.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Affan Kurniawan: Hidup Tertindas, Gugur Dilindas, dan Perjuangan Tak Kandas
-
Ulasan: Dunia Anak yang Tidak Pernah Sederhana, Membaca Kejujuran White Wedding
-
5 Anime Serupa Terbaik yang Dapat Ditonton Usai Tamatkan Nana
-
5 Hal Berharga Dibahas dalam Buku Life is Yours, Hidup Bukan Perlombaan!
-
3 Seiyuu Baru Bergabung di Anime Kaiju No. 8 Season 2, Disambut Hangat!
Artikel Terkait
-
Bukan Demo, Detik-detik Nahas Affan Kurniawan Terlindas Rantis Saat Selamatkan Ponsel
-
Affan Kurniawan: Hidup Tertindas, Gugur Dilindas, dan Perjuangan Tak Kandas
-
Ribuan Ojol Serang Mako Brimob Solo, Tuntut Keadilan!
-
Brutalitas Polisi Jadi Sorotan Tajam Usai Tragedi Rantis Maut, Bukti Reformasi Polri Gagal Total?
-
Link CCTV Bandung dan Jalan yang Ditutup, Pantau Demo Besar Hari Ini Live 24 Jam
Kolom
-
Affan Kurniawan: Hidup Tertindas, Gugur Dilindas, dan Perjuangan Tak Kandas
-
Kekerasan Aparat vs Janji Reformasi: Membaca Pesan di Balik Kematian Affan Kurniawan
-
DPR Komentari Tragedi Affan Kurniawan: Empati atau Pahlawan Kesiangan?
-
Janji Legislasi yang Gagal: Mengapa DPR Terus Dapat Sorotan Negatif?
-
Hidup Bukan Lomba Copy-Paste, Ini Tips Meningkatkan Value Diri!
Terkini
-
Samsung Segera Kenalkan Galaxy S25 FE, Dibekali Prosesor Exynos 2400 dan CPU 10 Core
-
Eliano Reijnders Dikabarkan Mendekat, Persib Kian Disesaki Pemain Berlabel Timnas Indonesia
-
Up All Nite oleh Crush Feat. Sumin: Habiskan Waktu Berdua Sepanjang Malam
-
Prioritaskan Marceng dan Hubner di Timnas Senior, Sebuah Keputusan yang Kurang Bijak dari PSSI?
-
Crayon Shin-chan Bawa Pulang Dua Piala Bergengsi ANN Awards 2025