Bayangkan, Sobat Yoursay, kamu lagi antre di kasir minimarket. Kamu tap e-wallet, “bip,” dan transaksi selesai. Tidak ada uang yang berpindah tangan, tidak ada lembaran yang dihitung, bahkan kamu nyaris tidak melihat angka, hanya layar yang menunjukkan saldo berkurang sedikit.
Di tengah kehidupan yang semakin digital ini, muncul lagi wacana lama, yaitu redenominasi rupiah. Pemerintah ingin menyederhanakan nilai uang, misalnya dari Rp1.000 menjadi Rp1. Tujuannya biar lebih efisien, biar angka nol di belakang tidak bikin pusing.
Tapi, kalau hampir semua transaksi sekarang dilakukan secara digital, pakai QRIS, e-wallet, atau transfer bank, masih perlukah kita repot mengubah nominal fisik uang?
Dulu, redenominasi dianggap penting karena uang fisik sangat dominan. Nol yang terlalu banyak bikin ribet akuntansi, laporan keuangan, bahkan mesin kasir. Tapi kini, dunia keuangan sudah berubah drastis.
Menurut Bank Indonesia, transaksi lewat QRIS pada 2025 diperkirakan menembus Rp300 triliun. Lebih dari 45 juta merchant sudah pakai QRIS, termasuk warung kecil di pinggir jalan. Sementara transaksi uang tunai justru terus menurun.
Artinya, angka-angka besar di layar digital sudah diatur oleh sistem otomatis. Kalau harga ayam Rp35.000, sistem hanya membaca “35000” tanpa beban mengetik nol berderet.
Jadi, apakah redenominasi masih relevan di dunia yang nol-nya bisa dihapus hanya dengan algoritma?
Sobat Yoursay, coba ingat kapan terakhir kali kamu benar-benar memegang uang kertas Rp100.000 dan menghitungnya satu-satu sebelum belanja? Mungkin sudah lama sekali. Sekarang kita hanya tahu harga, bukan bentuknya. Kita lebih sering klik bayar daripada menyerahkan uang.
Dan di sinilah paradoks muncul. Di dunia digital, uang kehilangan bentuk fisiknya, tapi nilainya justru makin kuat mempengaruhi perilaku kita.
Kita belanja lebih cepat, karena tak ada rasa kehilangan uang fisik. Otak manusia ternyata lebih sakit melihat uang keluar dari tangan, ketimbang saldo berkurang di layar.
Jadi, ketika uang sudah tidak berwujud, angka nol di belakang sebetulnya juga kehilangan arti emosional. Mau nolnya tiga atau satu, masyarakat hanya melihat nominal akhir di layar.
Mungkin, redenominasi digital sudah terjadi diam-diam, tanpa perlu keputusan politik.
Masalahnya, meski digitalisasi transaksi meningkat, Indonesia tetap negara dengan ketimpangan literasi digital yang besar. Masih banyak masyarakat, terutama di pelosok, yang lebih percaya uang fisik daripada saldo di layar. Mereka ingin melihat nilai yang mereka punya, bukan hanya percaya pada sistem.
Jika redenominasi dilakukan tanpa pemahaman, bisa muncul kebingungan baru. Harga di layar jadi kecil, tapi tidak terasa sama. Orang bisa merasa nilai uang mereka menyusut, padahal daya belinya tetap.
Artinya, kalau redenominasi ingin berjalan seiring era digital, kita perlu bukan hanya teknologi yang siap, tapi juga kesadaran digital yang matang. Sama seperti sinyal internet, perubahan besar tidak berarti apa-apa kalau tidak sampai ke seluruh rakyat.
Sobat Yoursay, dulu kita percaya pada uang karena bisa disentuh. Sekarang kita harus belajar percaya pada nilai yang bahkan tidak bisa dilihat. Redenominasi mungkin bisa membantu mempermudah sistem, tapi bukan itu inti persoalannya.
Yang lebih penting, apakah masyarakat masih percaya bahwa angka di layar itu benar-benar mewakili nilai kerja keras mereka?
Ketika kepercayaan itu kuat, nol bisa hilang, bentuk bisa berubah, tapi nilai tetap bertahan.
Namun jika kepercayaan itu rapuh, seberapa canggih pun sistem digitalnya, ekonomi bisa goyah hanya karena angka kecil berubah jadi lebih kecil lagi.
Mungkin suatu hari nanti, Sobat Yoursay tak lagi tahu seperti apa rupa uang kertas. Semua sudah berubah jadi data terenkripsi, berpindah dari ponsel ke ponsel.
Dan ketika itu terjadi, redenominasi rupiah bukan lagi soal potong nol, tapi tentang bagaimana kita menata makna uang di dunia yang tak lagi punya bentuk.
Baca Juga
-
Glorified Internships: Saat Magang Berubah Menjadi Perbudakan Modern
-
May Day 2026: Saat Kenaikan Upah Hanya Menjadi Oase di Tengah Gurun Inflasi
-
Wacana Tutup Prodi: Solusi Relevansi atau Kedok Kegagalan Negara?
-
Tragedi Bekasi: Saat Nyawa Penumpang Kereta Dipertaruhkan di Atas Rel
-
Kasta 'HP Kentang': Saat Spek Gadget Jadi Penentu Nilai di Sekolah
Artikel Terkait
-
Rupiah Diprediksi Menguat, Analis Ungkap Efek Besar Akhir Shutdown AS ke Indonesia
-
Mata Uang dan Martabat Bangsa: Menghapus Nol untuk Menghapus Inferioritas?
-
Rupiah Tembus Rp 16.700 tapi Ada Kabar Baik dari Dalam Negeri
-
Ini Jawaban Istana soal Rencana Ubah Rp1.000 jadi Rp1 dalam Waktu Dekat
-
Sebut Bukan Urusannya! Menkeu Purbaya Lempar Bola Panas Redenominasi ke Bank Sentral
Kolom
-
Percabulan di Pati: Pak, Anjing Saya Saja Tidak Seperti Itu
-
Ketika Rupiah Melemah, Kelas Menengah Dipaksa Bertahan Lebih Keras
-
Belajar dari Kasus Ponpes Pati: Ruang Pendidikan Gagal Hadirkan Rasa Aman
-
Ketika Bantuan Pendidikan Tidak Selalu Sampai pada Kebutuhan Anak
-
Sampah Hari Ini, Ancaman Masa Depan: Gen Z Tak Boleh Acuh pada Lingkungan
Terkini
-
Bia dan Kapak Batu: Kisah Inspiratif Perempuan Papua di Tengah Arus Zaman
-
'Berpikir dan Bertindak Kreatif for Gen Z': Senjata Bertahan di Era Digital
-
Esensi Lagu 'Dance No More' Milik Harry Styles Punya Makna Lebih Energik
-
Ketika Chat Mesra Ternyata Salah Sasaran: Manisnya Sweety Anatomi
-
Bikin Khawatir di Baeksang, Ini Alasan Mata Choo Young Woo Ditutup Perban