Beberapa hari lalu, gue lagi nongkrong di kafe. Tempatnya rame, musiknya kenceng, orang-orang ngobrol, tapi ada satu momen yang nempel di kepala gue sampai sekarang. Dua orang duduk di meja sebelah, awalnya mereka kayak pasangan yang lagi berkumpul, sampai akhirnya… mereka berdua cuma nyender di kursi masing-masing, fokus ke HP.
Nggak ada sepatah kata pun keluar selama gue duduk 40 menit di sana. Parahnya? Mereka nggak kelihatan canggung. Mereka kelihatan biasa aja. Dan itu yang bikin gue serem.
Dulu waktu gue kecil, hubungan itu suaranya tawa, suara panggilan, suara langkah kaki orang yang lo tunggu. Sekarang hubungan itu suara getar notifikasi, dibaca atau nggak, di-like atau nggak. Kedekatan kita makin gampang dijangkau, tapi makin susah dirasain.
Aneh kan? Kita bisa ngobrol 24 jam, tapi nggak merasa “hadir” di percakapan itu. Lo bisa bilang “gue ada kok di chat”, tapi nyatanya? Ada bedanya antara ada dan mengada-ada.
Gue sempet ngalamin fase itu. Deket sama banyak orang di layar, tapi pas sendirian di kamar, gue ngerasa hampa. Kayak semua yang gue bangun itu cuma permukaan.
Gue inget dulu temen gue cerita sambil makan bakso, dia curhat panjang, gue dengerin, walaupun baksonya udah abis kuahnya tinggal dikit. Dan justru hal-hal kecil kayak gitu yang bikin hubungan terasa punya tekstur. Nggak perlu momen megah, cukup momen yang punya bekas.
Sekarang, momen itu jarang terjadi karena semuanya keburu lewat. Scroll dulu, reply belakangan. Bahkan ketika reply, kita sering ngomong bukan karena mau didengar, tapi karena mau terlihat. Dan gue sering nanya ke diri sendiri: ini gue ngobrol sama orang atau ngobrol sama “versi mereka yang udah di filter sosial”?
Kesepian generasi sekarang bukan karena nggak ada orang. Tapi karena nggak ada ikatan. Kita lupa bahwa empati itu bukan tulisan panjang yang rapi, tapi kehadiran yang mau dengerin, walaupun lo nggak punya jawaban. Dan menurut gue, kedekatan itu keterampilan yang harus dilatih lagi, sama kayak push-up atau belajar gitar. Susah di awal, tapi kalau konsisten, bentuknya kelihatan. Rasa hangat itu balik pelan-pelan.
Gue nggak anti digital. Gue cuma gamau relasi manusia jadi sekadar digital. Kalo kita nggak mulai ngomong dari hati lagi, hubungan kita bakal sama kayak chat lama: numpuk, kebaca sekilas, terus tenggelam. Hilang bukan karena selesai, tapi karena nggak lagi terasa penting.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
5 Pilihan Sepatu Nongkrong Lokal Sekelas New Balance Ori, Harga Murah Kualitas Dunia
-
Menghilang Demi Waras: Fenomena Anak Muda di Tengah Riuhnya Dunia Modern
-
Memperkuat Diplomasi Budaya, Indonesian Corner Dibuka di Islamabad
-
Solo Activity Bukan Tanda Kesepian, tetapi Bentuk Kemandirian Emosional
-
Kemenag Peringatkan Risiko Jasa Nikah Siri Online: Anak Sulit Diakui dan Tak Dapat Warisan!
Kolom
-
Skandal Penyadapan Presiden: Kegagalan Sistemik atau Lemahnya Leadership?
-
Ramai Tren "Stop the Wedding" di Medsos, Bukti Gen Z Makin Muak dengan Budaya Patriarki?
-
Berijazah tapi Mati Rasa: Saat Kuliah Cuma Jadi Syarat Cari Kerja
-
Strategi Politik Kebisingan: Mengapa Isu Sengaja Dibiarkan Tumpang Tindih?
-
Meterai Rp10 Ribu: Saat Transaksi Warga Sekalipun Tak Luput dari Pajak
Terkini
-
Keberuntungan Sedang Menghampirimu: Ketika Kepedulian Menjadi Jalan Menuju Harapan
-
Neve Campbell Dipastikan Kembali Perankan Sidney Prescott dalam Scream 8
-
Belajar Menghargai Pengorbanan Orang Tua dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
-
Piala Asia 2027 Resmi Diundur, Untung atau Buntung bagi Timnas Indonesia?
-
Bedah Lagu "Rayuan Perempuan Gila": Relate Banget Buat Kamu yang Punya Trust Issue