Kalau dipikir-pikir, kita ini memang bangsa yang aneh. Sudah tahu nasihat hidup sehat itu seperti nasihat ibu: simpel, semua orang hafal di luar kepala, tetapi tetap saja kita menunda-nunda eksekusinya.
Ibaratnya, kita tahu neraka itu panas, tetapi tetap mencari kompor gas untuk memasak Indomie dua bungkus jam sebelas malam.
Kita tahu seharusnya makan brokoli, tetapi kenapa tangan ini lebih responsif ke abang-abang gerobak yang berjualan gorengan tiga ribu dapat lima? Kita tahu butuh air putih, tetapi yang mampir ke tenggorokan selalu es teh segelas jumbo seharga tiga kali ongkos parkir motor.
Nah, di tengah kekacauan nutrisi nasional yang dramatis ini, muncullah sosok yang, mari kita jujur, kebanyakan dari kita baru ingat setelah hasil tes laboratorium menunjukkan kolesterol sudah menyentuh langit atau gula darah sudah naik pangkat: para ahli gizi.
Mereka ini semacam life coach nutrisi. Namun, alih-alih dicari lebih awal untuk mengatur strategi hidup, mereka malah menjadi "pemadam kebakaran" darurat setelah badan kita protes keras.
Di zaman serba sat-set-sat-set ini, pola makan kita memang seperti playlist lagu yang diacak. Sarapan hanya roti oles karena telat bangun, makan siang ayam geprek level neraka karena harganya ramah mahasiswa, dan malamnya menyerah pada mi instan karena otak sudah lelah.
Akhirnya, tubuh kita hanya bisa mengibarkan bendera putih, pasrah menerima ampas kehidupan yang kita lempar ke dalamnya. Wajar jika banyak yang baru menyadari pentingnya nutrisi setelah badannya "mengajak ribut".
Memang, ada sedikit kabar baik. Data SSGI 2024 menyebutkan bahwa angka stunting turun dari 21,5% menjadi 19,8%. Alhamdulillah, ada penurunan. Namun, jika mau realistis, penurunan segitu seperti mengecek saku celana dan menemukan uang seribu perak. Lumayan, tetapi pekerjaan rumah besarnya masih segunung.
Ketimpangan itu nyata. Ada yang mengambil salad organik dari kulkas pribadi di hotel bintang lima, ada juga yang memutar otak agar tahu goreng bisa dibagi rata untuk sekeluarga. Dari situ saja, masalah gizi sudah beda kelas, beda nuansanya.
Di sinilah ahli gizi beraksi. Mereka bukan hanya tukang mencetak daftar menu seperti pramusaji di restoran. Mereka adalah detektif nutrisi yang kerjanya mengulik kebiasaan makan kita, mengecek apa kebutuhan badan kita, lalu menjelaskan semuanya dengan bahasa yang tidak membuat kita merasa sedang ujian kimia organik.
Pendekatan mereka pun tidak melangit. Mereka tidak akan menyuruh Anda membeli quinoa atau chia seed jika tahu gaji Anda masih setara UMR. Mereka justru mencari jalan tengah yang realistis, bagaimana cara makan sehat yang tidak membuat dompet ikut kurus dan tidak menjadikan kita manusia paling ribet di kantor.
Sayangnya, perjuangan mereka tidak mulus. Mereka harus bertarung melawan mitos-mitos nutrisi yang beredar bebas di media sosial. Ada yang percaya minum air lemon bisa menyembuhkan segala penyakit (termasuk patah hati), ada yang yakin tidak makan nasi malam-malam itu dosa besar, dan ada yang tergila-gila pada diet ekstrem yang berujung menyiksa diri.
Maka, pekerjaan ahli gizi itu butuh stok sabar yang segudang. Mereka harus membongkar pola makan yang sudah telanjur berantakan, membantu kita memilah mana info yang benar dan mana yang hanya sensasi clickbait. Jika dibiarkan, bisa-bisa kita menjadi bangsa yang pintar berdebat soal diet, tetapi tetap mengemil kerupuk warna-warni sebelum tidur.
Meski begitu, optimisme tetap harus dijaga. Pelan-pelan, dengan pendampingan dan edukasi yang tidak galak, masyarakat mulai sadar: makan sehat itu bukan soal mahal atau ribet, tetapi soal pilihan yang tepat dan konsisten.
Intinya, kerja ahli gizi itu bukan hanya menurunkan angka di grafik survei. Mereka sedang membangun kualitas hidup kita. Mereka membantu kita mengerti diri sendiri, merancang kebiasaan makan yang lebih ramah, dan memastikan generasi berikutnya bisa tumbuh tanpa gampang sakit.
Jadi, jika Anda selama ini baru menelepon ahli gizi setelah badan Anda "mengamuk", sudah saatnya Anda berubah. Ingat, hidup sehat itu bukan soal menunggu sakit, tetapi soal menghargai tubuh Anda sebelum ia memutuskan untuk pensiun dini.
Baca Juga
-
Kerja Sosial: Saat Negara Mulai Kapok Memenjarakan Semua Orang
-
Antara Jurnal Scopus dan Kerokan: Membedah Pluralisme Medis di Indonesia
-
Berdamai dengan Keresahan, Cara Menerima Diri Tanpa Perlu Jadi Motivator Karbitan
-
Mens Rea Pandji Pragiwaksono dan KUHP Baru: Ketika Tawa Lebih Jujur dari Hukum
-
Beli Bahagia di Toko Buku: Kenapa Novel Romantis Jadi Senjata Hadapi Kiamat
Artikel Terkait
-
Nikmati Sup Betawi: Sajian Hangat yang Kaya Nutrisi untuk Keluarga
-
Membaca Sinyal Tubuh: Pahami Fase Penuaan di Setiap Jenjang Usia
-
Investasi Jangka Panjang: Kenapa Anda Perlu Pemeriksaan Kesehatan Secara Berkala?
-
Benarkah Makanan Segar Selalu Lebih Baik dari Makanan Beku?
-
Zulhas Wajibkan Bahan MBG dari Usaha Rakyat hingga Percepat SPPG di Daerah 3T
Kolom
-
Warisan Kelam 1965: Mengapa Nalar Kritis Publik Indonesia Masih Terbelenggu?
-
Bekerja dengan Hati, Dibayar dengan Janji: Potret Guru Honorer di Negeri Ini
-
Motor dan Modal Usaha: Empati yang Menenangkan, tapi Apakah Menyelesaikan?
-
Ketika Pengabdian Tak Sejalan dengan Kesejahteraan Guru Honorer
-
Unjuk Rasa dan Suara yang Tak Pernah Benar-benar Didengar
Terkini
-
Hotel Rajawali
-
Film Kafir: Gerbang Sukma, Kembalinya Karma yang Datang Menagih Nyawa!
-
Aktor Dibalik Layar: Alexander Zwiers Disebut Tokoh Sentral Naturalisasi
-
4 Sunscreen Stick dengan Blue Light Protection, Praktis untuk Daily Use
-
Return to Silent Hill: Adaptasi Horor yang Mengecewakan dan Gagal Total!