Kalau dulu orang dianggap keren ketika nongkrong di bar dengan segelas minuman beralkohol di tangan, sekarang pemandangannya mulai berubah. Anak-anak muda—yang sering kita sebut Gen Z—lebih akrab dengan gelas kopi ketimbang botol minuman keras. Entah itu espresso, latte gula aren, sampai matcha yang warnanya lebih hijau dari harapan mantan, semuanya jadi simbol pergaulan baru.
Fenomena ini bukan cuma asumsi tongkrongan. Industri minuman beralkohol global dilaporkan mengalami penurunan penjualan yang cukup tajam pada awal 2026. Sementara itu, kedai kopi justru tumbuh seperti jamur di musim hujan. Di kota kecil sampai kota besar, kafe menjamur. Bahkan kadang jarak antar-kafe cuma selemparan recehan parkir.
Survei dari Jakpat menyebut sekitar 66% Gen Z Indonesia rutin minum kopi. Artinya, dua dari tiga anak muda kemungkinan besar lebih hafal menu seasonal coffee ketimbang nama anggota DPR di dapilnya. Ngopi sudah bukan sekadar aktivitas mengusir kantuk. Ia berubah jadi ritual sosial. Tempat diskusi, kerja tugas, rapat komunitas, sampai sekadar numpang WiFi dan colokan.
Studi dari Technomic tahun 2023 juga mencatat bahwa 45% peminum kopi Gen Z suka minuman yang bisa dipersonalisasi. Mau susu oat, gula less sugar, extra shot, atau tanpa es tapi tetap dingin—semuanya bisa diatur. Di titik ini, kopi bukan lagi minuman, tapi medium ekspresi diri. “Aku banget” versi cair.
Sementara itu, alkohol pelan-pelan kehilangan pesonanya di kalangan muda. Mabuk yang dulu dianggap simbol kebebasan, sekarang lebih sering diasosiasikan dengan kehilangan kontrol. Dan Gen Z, dengan segala obsesi produktivitas dan self-awareness-nya, tampaknya tidak terlalu tertarik kehilangan kontrol. Mereka lebih suka kehilangan sinyal WiFi daripada kehilangan kesadaran.
Secara global, konsumsi kopi tumbuh sekitar 3,4%. Di Asia bahkan melonjak hingga 14,5%. Indonesia sendiri diperkirakan mengonsumsi sekitar 4,8 juta kantong kopi pada 2025. Angka yang menunjukkan bahwa negeri ini bukan cuma kaya biji kopi, tapi juga kaya alasan untuk nongkrong.
Perubahan ini juga berdampak pada lanskap sosial. Kalau generasi sebelumnya menghabiskan malam di bar atau klub, Gen Z lebih sering terlihat duduk di kafe sampai tutup. Bukan buat mabuk, tapi buat nugas, main gim, atau bikin konten. Kafe jadi ruang aman: cukup terang, cukup ramai, dan cukup estetik buat difoto.
Dari sudut pandang hukum, tren ini menarik. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang baru (UU No. 1 Tahun 2023), Pasal 316 mengatur bahwa orang mabuk di tempat umum yang mengganggu ketertiban bisa dikenai denda hingga Rp10 juta. Kalau sampai membahayakan, bisa kena pidana penjara. Artinya, semakin sedikit orang mabuk di ruang publik, semakin kecil pula potensi pelanggaran semacam ini.
Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman keras kerap memicu keributan. Orangtua yang anaknya terjerumus minuman keras biasanya merasakan campuran sedih, marah, dan lelah. Di tingkat desa, penanganan masalah miras sering kali masih sebatas imbauan dan pembinaan. Rohaniwan memberi nasihat, aparat menegur, masyarakat melapor kalau sudah kelewatan.
Dalam kriminologi ada istilah different opinion: baik dan buruk sering ditentukan oleh budaya. Di lingkungan yang menganggap mabuk sebagai hal biasa, ya itu jadi normal. Tapi ketika budaya bergeser—dan ngopi lebih dominan daripada mabuk—maka standar sosial ikut berubah. Mabuk tak lagi keren, malah cenderung dianggap memalukan.
Meski begitu, kriminologi modern juga mengingatkan bahwa pemabuk tak selalu bisa dilihat semata sebagai pelaku. Ada faktor kemiskinan, tekanan ekonomi, lingkungan sosial, hingga lemahnya kontrol sosial yang memengaruhi. Karena itu, pendekatannya tak cukup hanya menghukum. Perlu pencegahan, pembinaan, bahkan rehabilitasi.
Di tengah semua ini, Gen Z mungkin tidak sedang berniat menyelamatkan dunia dari alkohol. Mereka cuma ingin tempat nongkrong yang nyaman, minuman yang enak, dan hidup yang tetap sadar penuh. Tapi siapa sangka, dari secangkir kopi, lahir perubahan sosial yang cukup signifikan.
Barangkali benar: revolusi tak selalu dimulai dari pidato berapi-api. Kadang ia dimulai dari barista yang bertanya, “Mau gulanya berapa?”
Baca Juga
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
-
Dilema WFH Sehari: Bukti Kita Masih Dinilai dari Absen Kehadiran, Bukan Hasil Kerja
-
Di Balik Bendera Besar pada Truk Bantuan: Murni Solidaritas atau Sekadar Pencitraan Global?
-
Kuota Hangus: Kita Beli, tapi Nggak Pernah Punya
-
Upgrade Instan ala Naturalisasi: Jalan Pintas yang Kadang Nggak Sesingkat Itu
Artikel Terkait
Kolom
-
Cara Menghubungi Dosen yang Benar Tanpa Perlu Menjadi Penjahat Waktu
-
Resonansi Sunyi di Jombang: Sebuah Dialektika Tentang Hidup dan Rasa Cukup
-
Hari Pertama Haid dan Tuntutan Perempuan untuk Tetap Kuat
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
-
Apel Batu di Ujung Tanduk: Cerita Petani di Tengah Perubahan Kota Batu
Terkini
-
Ular di Warung Ibu
-
Bill Gates dan Obama Mewajibkan Baca Buku Ini! Membedah Rahasia Dominasi Sapiens ala Harari
-
Gaya Casual ke Formal Look, 4 Ide Outfit ala Shin Hae Sun yang Super Chic!
-
Luka yang Tidak Selesai: Membaca Trauma Han Seol-ah dalam Sirens Kiss
-
Bukan Sekadar Label, Aturan Kemenkes Ini Sentil Cara Kita Makan Sehari-hari