Pernah nggak sih, sudah belajar bahasa Inggris bertahun-tahun, tapi begitu disuruh ngomong di kelas malah keringat dingin? Padahal kosa kata ada, grammar lumayan, tapi lidah rasanya berat banget buat buka suara. Kalau pernah, tenang—kemungkinan besar masalahnya bukan di otak, tapi di budaya dan rasa.
Selama ini, kegagalan belajar bahasa asing sering disederhanakan: kurang latihan, malas, atau memang “nggak berbakat bahasa”. Padahal, di balik semua itu, ada hal yang jarang dibicarakan—rasa canggung, takut salah, takut dianggap nggak sopan, bahkan takut kehilangan jati diri.
Belajar bahasa kedua itu ternyata bukan cuma urusan hafalan, tapi juga urusan negosiasi identitas.
Ketika “I Disagree” Terasa Lebih Menakutkan dari Ujian
Di kelas bahasa Inggris, debat itu biasa. Menyela, menyanggah, mengoreksi—semua dianggap bagian dari diskusi sehat. Tapi bagi sebagian mahasiswa dari budaya yang menjunjung tinggi sopan santun dan harmoni, kalimat sederhana seperti “I disagree” bisa terasa seperti tindakan brutal.
Ada mahasiswa yang sebenarnya paham materi, tapi memilih diam karena merasa menyanggah itu tidak etis. Ada juga yang berputar-putar pakai kalimat panjang hanya demi terdengar lebih halus. Akibatnya? Di mata dosen, mereka terlihat pasif. Padahal yang terjadi bukan malas, tapi benturan budaya.
Di sini, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia membawa nilai, cara berpikir, dan etika sosial. Ketika nilai itu bertabrakan, yang muncul bukan kesalahan grammar, tapi kegagalan rasa.
Takut Fasih, Takut Dibilang “Lupa Daratan”
Ironisnya, ada juga pembelajar yang justru takut terlalu fasih. Terutama mereka yang berasal dari komunitas minoritas atau mahasiswa internasional. Ada perasaan bersalah ketika mulai lancar berbahasa asing—seolah-olah itu tanda menjauh dari akar budaya sendiri.
Sebagian merasa, kalau terlalu jago, nanti dicap sok kebarat-baratan. Kalau aksennya mulai berubah, dibilang nggak membumi. Akhirnya, mereka menahan diri. Cukup bisa, tapi jangan terlalu.
Ini bukan soal kurang motivasi, tapi soal mempertahankan identitas. Belajar bahasa asing di sini terasa seperti berjalan di tali tipis: terlalu kaku, tertinggal; terlalu cair, dianggap kehilangan jati diri.
Bahasa dan Hierarki yang Diam-Diam Menekan
Ada juga faktor lain yang jarang disadari: gengsi bahasa. Bahasa tertentu dianggap “lebih keren”, “lebih pintar”, atau “lebih berkelas”. Sementara bahasa ibu sebagian orang dianggap kampungan, lucu, atau bahan stereotip.
Akibatnya, setiap kesalahan berbahasa terasa bukan sekadar salah ngomong, tapi seperti mengonfirmasi stigma. Salah sedikit, rasanya harga diri ikut jatuh. Wajar kalau akhirnya banyak yang memilih diam demi aman.
Di titik ini, kecemasan bukan lagi urusan individu, tapi urusan struktural. Kelas bahasa berubah jadi ruang yang tidak sepenuhnya ramah bagi semua latar belakang.
Kelas Selesai, Bahasa Ikut Libur
Masalah lain muncul di luar kelas. Banyak pembelajar hidup dalam “gelembung etnis”. Di kampus multikultural sekalipun, pergaulan sering kembali ke kelompok masing-masing. Bahasa asing hanya hidup di ruang kelas—setelah itu, ya kembali ke bahasa ibu.
Tanpa ruang aman untuk mencoba, salah, lalu belajar lagi, bahasa kedua hanya jadi mata pelajaran. Bukan alat hidup.
Jadi, Salah Siapa?
Kalau melihat semua ini, rasanya tidak adil kalau kegagalan belajar bahasa selalu dibebankan ke siswa. Masalahnya sering kali sistemik. Kurikulum terlalu fokus pada struktur, tapi lupa membahas konteks budaya. Guru menuntut keberanian bicara, tapi lupa membangun rasa aman.
Padahal, belajar bahasa asing seharusnya tidak berarti meninggalkan identitas lama. Justru sebaliknya, ia bisa jadi jembatan untuk memperkaya cara kita melihat dunia—tanpa harus menanggalkan akar.
Bahasa Itu Soal Manusia
Pada akhirnya, belajar bahasa kedua bukan soal siapa paling cepat hafal kamus. Tapi siapa yang merasa cukup aman untuk bicara, cukup dihargai untuk salah, dan cukup diterima untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Kalau kelas bahasa bisa lebih manusiawi—lebih peka pada latar budaya, lebih ramah pada keragaman—barangkali kita tak perlu lagi bertanya, “Kenapa mereka diam?” Karena jawabannya sering sederhana: mereka sedang menjaga diri.
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Asap Masih Bebas Berkeliaran?
-
Merayakan Small Wins: Strategi Bertahan atau Justru Menidurkan Ambisi?
-
Kepercayaan Publik yang Kian Menjauh dari Pemerintahan
-
Kenapa Perempuan yang Berdaya Masih Dianggap Mengancam di Era Ini?
-
Urgensi HAM dalam KUHP: Bukan Aksesoris Kebijakan yang Bisa Dibahas Nanti