Bimo Aria Fundrika | Sri Rahayu
Ilustrasi ibu memasak (pexels/Produksi PNW)
Sri Rahayu

Pukul delapan pagi di bulan Ramadan adalah waktu "penghakiman" bagi setiap ibu rumah tangga. Saat membuka tutup rice cooker, mereka seringkali disambut oleh gundukan nasi putih yang masih melimpah—sisa dari peperangan sahur yang tidak tuntas.

Di sinilah perang batin dimulai. Dibuang sayang karena takut dosa mubazir, tapi jika disajikan lagi saat berbuka, risikonya adalah aksi "protes diam" dari anak dan suami yang berharap menu segar nan menggoda.

Fenomena nasi sisa sahur ini bukan sekadar urusan perut, melainkan cermin dari manajemen domestik dan mentalitas konsumsi kita selama bulan suci.

Mari kita bedah psikologinya. Saat menyiapkan sahur, emak-emak cenderung memasak dengan prinsip "lebih baik sisa daripada kurang". Ketakutan jika anggota keluarga tidak kenyang membuat takaran beras seringkali melompat dua kali lipat dari biasanya.

Namun, realitanya, saat sahur nyawa belum terkumpul penuh, nafsu makan masih malu-malu, dan waktu imsak mengejar dengan bengis. Akhirnya? Nasi itu hanya diaduk-aduk, lalu ditinggalkan begitu saja mendekam dalam hangatnya magic com hingga menguning.

Di sinilah letak ironinya. Ramadan yang katanya bulan keprihatinan, justru seringkali menjadi bulan di mana tempat sampah kita paling "kenyang" dengan karbohidrat. Kita sering lupa bahwa di balik sisa nasi yang mengering itu, ada butiran keringat petani dan proses panjang yang seharusnya dihormati. Menganggap nasi sisa sebagai "sampah" adalah bentuk arogansi kecil yang kita lakukan secara berjamaah setiap hari.

Bagi emak-emak, nasi sisa adalah beban mental. Ada rasa bersalah yang menusuk saat harus membuang makanan di bulan yang penuh berkah. Namun, mereka juga menghadapi tantangan kreativitas yang luar biasa. Nasi sisa sahur adalah "kanvas kosong" yang menuntut transformasi. Jika si ibu cukup lihai, nasi itu akan berubah wujud menjadi kerupuk gendar, cireng nasi, atau nasi goreng legendaris yang muncul saat berbuka.

Namun, masalahnya bukan hanya di tangan sang ibu, melainkan pada "lidah" anggota keluarga yang manja. Ada stigma sosial yang aneh di masyarakat kita: seolah-olah menyajikan nasi sisa adalah bentuk ketidakmampuan atau kurangnya kasih sayang seorang ibu. Anak-anak zaman sekarang lebih memilih jajan takjil kekinian daripada menyentuh nasi goreng buatan rumah yang asalnya dari sisa sahur. Gengsi meja makan inilah yang sebenarnya menjadi motor utama pemborosan pangan di rumah tangga.

Padahal, mengolah kembali nasi sisa bukan tanda kemiskinan; itu adalah tanda kecerdasan finansial dan spiritual. Seorang ibu yang mampu mengolah sisa sahur menjadi hidangan baru yang ludes dimakan sebenarnya sedang melakukan ibadah ganda: memberi makan keluarga sekaligus menyelamatkan bumi dari tumpukan sampah organik.

Sudah saatnya kita mengubah narasi di meja makan. Berhenti menyebutnya sebagai "nasi sisa" dan mulailah menganggapnya sebagai "rezeki yang tersimpan". Edukasi kepada anak dan suami juga penting; bahwa menghabiskan apa yang sudah dimasak adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada sang manajer dapur—si Emak—dan kepada Sang Pemberi Rezeki.

Ramadan harusnya menjadi momentum untuk memutus rantai "buang-buang makanan". Jangan biarkan keberkahan puasa kita menguap begitu saja bersama uap nasi yang menguning karena tak ada yang mau menyentuhnya. Jika kita bisa mengendalikan nafsu untuk tidak selalu menginginkan yang "baru" dan "segar" di setiap waktu makan, mungkin itulah kemenangan sejati kita melawan ego diri sendiri.

Akhir kata, untuk para emak di luar sana: jangan menyerah menyulap nasi sisa itu. Dan untuk para suami serta anak: habiskanlah apa yang ada di piringmu. Karena mungkin saja, di butir nasi terakhir yang hampir kau buang itulah, letak ampunan Tuhan yang kau cari-cari selama sebulan ini.