Bagi anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan ekonomi “pas-pasan”, istilah “baju baru” biasanya hanya muncul satu tahun sekali, tepatnya menjelang Lebaran. Sisanya? Kami adalah atlet estafet dalam urusan berpakaian. Selamat datang di dunia baju turunan, sebuah tradisi turun-temurun saat baju kakak adalah takdir mutlak bagi sang adik.
Prosesnya sangat sistematis. Ketika seorang kakak mulai tumbuh besar dan bajunya mulai terasa sesak—atau istilah kerennya "ngatung"—baju itu tidak akan berakhir di tempat sampah atau menjadi kain pel. Baju itu akan dicuci bersih, disetrika dengan rapi, lalu dipindahkan ke lemari adiknya. Dan sang adik, mau tidak mau, harus menerima "warisan" tersebut dengan lapang dada, meskipun di kerah bajunya masih tercium aroma parfum kakaknya atau terdapat noda bekas kuah bakso yang sudah menjadi permanen.
Mungkin bagi sebagian orang, memakai baju bekas adalah hal yang remeh. Namun, di lingkungan kita, baju turunan adalah sekolah pertama tentang kerendahan hati. Sebagai anak kecil, kita dipaksa untuk membunuh ego. Kita belajar bahwa penampilan bukanlah segalanya. Kita belajar bahwa meskipun baju yang kita pakai warnanya sudah agak kusam (karena sudah melewati tiga musim hujan dan dua musim kemarau di badan sang kakak), kita tetap bisa bermain bola dengan lincah atau berangkat mengaji dengan bangga.
Ada sebuah pembelajaran berbagi yang sangat kental di sini. Sang kakak belajar untuk merawat barangnya karena dia tahu, "Nanti ini bakal dipakai adikmu, jadi jangan sampai sobek." Secara tidak sadar, kakak dilatih untuk bertanggung jawab atas aset keluarga. Sementara itu, sang adik belajar untuk menghargai apa yang ada. Dia belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak selalu harus baru; yang penting adalah fungsinya.
Menariknya, baju turunan ini sering kali memiliki "nyawa". Ada ikatan emosional yang tertinggal di setiap serat kainnya. Saat sang adik memakai jaket bekas kakaknya yang dulu dipakai saat juara kelas, ada semacam semangat yang ikut tertular. Seolah-olah jaket itu membawa kenangan keberhasilan yang harus dilanjutkan.
Tetapi, tentu saja, tidak selamanya urusan baju turunan ini berjalan mulus tanpa drama. Ada momen-momen ngenes yang kalau diingat sekarang malah membuat tertawa. Misalnya, saat seorang adik laki-laki terpaksa memakai baju unisex yang sebenarnya lebih mirip baju perempuan karena itu satu-satunya warisan yang tersisa dari kakak perempuannya. Atau ketika sang adik harus memakai seragam sekolah yang kebesaran, dengan celana yang ditarik tinggi-tinggi sampai ke dada karena pinggangnya masih longgar.
"Nanti juga lama-lama pas, Dik. Kamu kan cepat besar," begitu kalimat sakti dari Ibu yang selalu menjadi penutup perdebatan. Kalimat itu bukan sekadar soal ukuran baju, melainkan soal optimisme. Ibu sedang menanamkan harapan bahwa suatu saat nanti, nasib kita juga akan "tumbuh besar" dan pas dengan impian kita.
Di tengah gempuran tren fast fashion sekarang, saat orang bisa membeli baju murah setiap minggu melalui aplikasi, tradisi baju turunan ini mulai memudar. Padahal, ada nilai ekologi dan ekonomi yang luar biasa di sana. Kita tidak sedang membuang-buang uang untuk sesuatu yang akan mengecil dalam enam bulan. Kita sedang melakukan manajemen keuangan rumah tangga yang paling efektif. Uang yang seharusnya untuk membeli baju baru, bisa dialihkan untuk menambah asupan gizi atau membayar uang SPP.
Baju turunan mengajarkan kita untuk tidak silau pada bungkus. Ia mengajarkan kita bahwa harga diri tidak ditentukan oleh merek yang menempel di dada, melainkan oleh perilaku kita saat memakai baju tersebut. Kita belajar menjadi orang yang "selesai" dengan urusan penampilan sejak dini.
Hingga hari ini, banyak dari kita yang sudah sukses, sudah bisa membeli baju apa saja yang kita mau, namun tetap rindu rasa nyaman dari kaus oblong yang sudah tipis dan melar hasil lungsuran sang kakak. Kaus yang mungkin sudah berlubang kecil-kecil di bagian bawah, tetapi rasanya jauh lebih sejuk daripada jas mahal mana pun.
Karena pada akhirnya, baju turunan bukan sekadar soal kain bekas. Ia adalah simbol solidaritas keluarga. Ia adalah bukti bahwa di rumah itu tidak ada yang berdiri sendiri. Kita saling menopang, saling memberi, dan saling menghangatkan dengan apa pun yang kita miliki, meskipun itu hanya selembar baju yang warnanya sudah mulai pudar.
Baca Juga
-
Tukang Sayur: Psikolog Jalanan Tanpa Gelar dari Gang ke Gang
-
Filosofi Warung Madura dan Seni Ngecer untuk Bertahan Hidup
-
Fenomena Trust Issue Gen Z: Mengapa Mereka Tak Lagi Percaya Institusi Formal?
-
Menguliti Narasi 'Kuliah Itu Scam': Apa Gelar Masih Menjadi Senjata Utama?
-
Sisi Gelap Buy Now Pay Later: Jebakan Psikologis dan Ancaman SLIK OJK
Artikel Terkait
-
6 Pensil Alis Murah Mulai Rp13 Ribuan, Ramah Budget untuk Ibu Rumah Tangga!
-
5 Rekomendasi Dehumidifier untuk Serap Kelembapan, Harga di Bawah Rp1 Juta
-
Ibrahim Risyad Larang Istri Jadi IRT, Begini Hukumnya Dalam Islam
-
Film Musuh Dalam Selimut: Kisah Perselingkuhan dari Orang Terdekat
-
5 AC Portable Low Watt Ramah Gaji UMR, Usir Panas Tanpa Bongkar Tembok
Kolom
-
Saat Produktivitas Menjadi Panggung Sosial, Apa yang Sebenarnya Kita Kejar?
-
Pilkada Lewat DPRD: Ketika Efisiensi Berhadapan dengan Hak Pilih Rakyat
-
Saat AI Terlalu Dipuja, Pendidikan Kehilangan Arah
-
Pinjol dan Paylater: Kemudahan Palsu yang Mahal Harganya
-
Dilema Harga Tiket dan Ekonomi: Mens Rea Laris Bukan Berarti Rakyat Makmur
Terkini
-
Bukan yang Terbaru, Ini 4 Rekomendasi iPhone yang Paling Aman Dibeli di 2026
-
Jelang Menikah, El Rumi Bicara soal Karier Syifa Hadju: Pilih Jadi IRT?
-
Anime Kaya-chan Isn't Scary! Teror dan Kepolosan di Taman Kanak-Kanak
-
Pelembap Bisa Bikin Jerawatan? Kenali Bahaya Penggunaan Moisturizer Berlebihan
-
5 Drama Korea dengan Landscape Indah Se-vibes 'Can This Love Be Translated?'