Setiap malam setelah berbuka, ada sebuah ritual "intelijen" kecil yang sering saya lakukan sebelum berangkat ke masjid. Saya akan bertanya kepada teman atau mengecek ingatan tahun lalu: "Masjid A bacaannya panjang tidak?" atau "Masjid B berapa menit biasanya selesai?" Seolah-olah durasi salat Tarawih adalah indikator utama yang menentukan ke mana kaki saya akan melangkah.
Saya tidak sendirian. Fenomena Tarawih "Kilat" vs. "Lama" adalah keresahan tahunan yang membelah jemaah menjadi dua kubu. Ada yang setia pada masjid dengan bacaan satu juz per malam demi mengejar keutamaan khatam, namun ada pula yang berbondong-bondong menyerbu masjid yang bisa menyelesaikan 23 rakaat dalam waktu kurang dari 20 menit.
Di titik ini, saya mulai bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sedang mencari khusyuk, atau sekadar mencari cara tercepat untuk menggugurkan kewajiban agar bisa segera kembali bersantai di depan layar ponsel?
Secara psikologis, kecenderungan manusia memilih yang lebih cepat berkaitan dengan konsep Dopamine Seeking. Kita hidup di zaman serba instan—video durasi 15 detik, pesan singkat, dan pengiriman barang di hari yang sama. Kebiasaan ini tanpa sadar terbawa ke atas sajadah. Kita merasa "gelisah" jika sebuah proses memakan waktu terlalu lama tanpa ada stimulasi visual yang cepat.
Melansir dari perspektif sosiologi agama tentang Religious Consumption, fenomena ini menunjukkan bagaimana ibadah terkadang berubah menjadi "produk" yang konsumsinya dipilih berdasarkan kenyamanan fisik, bukan kedalaman spiritual. Saat saya memilih masjid yang cepat, sering kali alasannya bukan karena urusan darurat, melainkan karena ego saya tidak sabar untuk kembali ke rutinitas duniawi.
Namun, apakah salat yang lama otomatis menjamin kekhusyukan? Belum tentu. Sering kali, saat berdiri di belakang imam yang membacakan surat panjang, pikiran saya justru terbang ke mana-mana—memikirkan cicilan, pekerjaan esok hari, atau sekadar membayangkan dinginnya es buah di kulkas. Di sinilah letak ironinya: shalat yang cepat terasa seperti perlombaan lari, sementara shalat yang lama terkadang berubah menjadi ujian ketahanan fisik semata.
Secara filosofis, esensi Tarawih adalah istirahat—secara harfiah, kata "Tarawih" berasal dari akar kata rahat yang berarti tenang atau santai. Namun, bagi saya, Tarawih sering kali tidak terasa seperti istirahat. Ia justru terasa seperti "beban" yang harus segera diselesaikan. Jika saya shalat hanya untuk mengejar "selesai", bukankah saya sedang memperlakukan Tuhan seperti deadline pekerjaan yang menyebalkan?
Saya mulai merenung, barangkali masalahnya bukan pada durasi imam, melainkan pada kualitas kehadiran saya. Shalat kilat menjadi masalah jika kita kehilangan tumakninah (ketenangan dalam gerakan). Sebaliknya, shalat lama menjadi masalah jika kita hanya hadir secara fisik tapi absen secara batin.
Ramadan tahun ini, saya mencoba menantang diri sendiri. Saya mencoba berhenti memperlakukan jadwal Tarawih seperti jadwal keberangkatan kereta api. Saya mencoba duduk di saf tanpa terus-menerus melirik jam tangan. Saya ingin belajar bahwa waktu yang saya habiskan di hadapan Tuhan seharusnya menjadi waktu yang paling lambat—sebuah jeda dari dunia yang sudah terlalu berisik dan terburu-buru.
Pada akhirnya, bukan soal 7 menit atau 70 menit yang akan dihitung, melainkan seberapa banyak dari waktu itu yang benar-benar kita gunakan untuk "bertemu" dengan-Nya.
Jadi, masjid mana yang akan Anda datangi malam ini? Yang imamnya punya bacaan indah hingga membuat hati bergetar, atau yang gerakannya secepat kilat hingga membuat napas tersengal? Sebelum memilih, tanyakan pada hati: Anda ingin istirahat di dalam doa, atau sekadar ingin cepat-cepat selesai untuk kembali memeluk dunia?
Baca Juga
-
Pesta Buah di Hutan Ceria
-
Kenali Boreout: Ketika Bosan di Kantor Lebih Menyiksa dari Beban Kerja
-
Ketika Jatuh Cinta Berubah Jadi Dilema: Menyelami Kepedihan 'I LIKE U' Karya NIKI
-
Mendengar 'Sambutlah' Denada: Saat Tren TikTok Bikin Lagu 90-an Candu Lagi
-
Heboh Wajah Anak Artis Bocor di Medsos: Salah Netizen atau Orang Tua yang Over-Sharenting?
Artikel Terkait
-
Menunggu Hilal di Atas Andong: Saat Lonceng Kuda Lebih Merdu dari Klakson Ojol
-
Menurut Saya, Masjid yang Terlalu Sunyi Adalah Masjid yang Sedang Sekarat
-
Puasa Beduk: Refleksi Dosa Lucu yang Saya Ingat Ketika Lihat Anak Kecil Mokel
-
Melawan Bisikan Setan Belanja: Cara Berdamai dengan Keinginan yang Gak Ada Habisnya
-
Peta Rasa Masjid Syuhada: Diplomasi Takjil Nusantara Penawar Rindu Rantau
Kolom
-
The Second Shift: Beban Tak Terlihat Perempuan Modern setelah Jam Kantor
-
Etika di Balik Akun Palsu: Kenapa Netizen Suka Menghakimi Orang di Medsos?
-
Gaji Habis sebelum Akhir Bulan: Saat Mandiri Finansial Jadi Tantangan Berat
-
Mengurai Kasus Dana Syariah: Menagih Akuntabilitas Dewan Pengawas
-
Belanja karena FOMO atau Memang Butuh? Tantangan Lawan Konsumerisme Digital
Terkini
-
Google dan Unity Siapkan AI untuk Bikin Game Tanpa Perlu Banyak Coding
-
Buku Billy and the Hole: Tidak Semua Teman Layak Dituruti
-
Review Film Secret Zoo: Ketika Bertahan Hidup Menjadi Ajang Pertunjukan
-
Sinopsis Shaque: Trust no One, Series Misteri Parineeti Chopra di Netflix
-
Bakom RI Apresiasi Local Media Summit, Dorong Media Lokal Terhubung ke Panggung Global