Book’s Kitchen adalah novel terjemahan dari Korea karya Kim Jee-hye yang awalnya saya kira merupakan buku tentang masak-memasak. Ternyata Book’s Kitchen memiliki makna yang lebih filosofis: buku diibaratkan seperti makanan yang memiliki rasa dan mampu memberi pengalaman emosional bagi pembacanya.
Sinopsis
Cerita diawali dengan prolog tentang Yuu Jin, tokoh utama yang sedang menyelesaikan pembangunan sebuah tempat bernama Book’s Kitchen di lereng Gunung Soyang-ri. Tempat ini terdiri dari empat bangunan yang saling terhubung: book café, book stay, toko buku, serta ruang membaca. Tidak ada alasan khusus mengapa ia membangun tempat tersebut, tetapi perlahan tempat itu menjadi ruang singgah bagi banyak orang yang sedang mencari jeda dari kehidupan.
Cerita kemudian beralih kepada Da In, seorang idol muda yang berkali-kali gagal debut. Dalam dunia hiburan Korea yang sangat kompetitif, hanya sekitar tiga grup idol yang mampu bertahan dari puluhan grup yang muncul setiap tahun. Secara tidak terduga, sebuah acara radio mengubah hidupnya. Da In kemudian menjadi aktris terkenal dan lagu-lagunya berhasil menempati tangga lagu. Namun di balik kesuksesan itu, ia harus mati-matian menjaga citra sebagai top star. Bahkan kehidupan pribadinya—termasuk pakaian yang ia kenakan—selalu diatur. Di tengah semua itu, ia merasa hampa dan sangat merindukan neneknya, satu-satunya orang yang dulu menerimanya apa adanya.
Kerinduan itulah yang membawanya ke Soyang-ri. Ternyata tanah milik neneknya sudah lama dijual dan kini berdiri sebuah toko buku. Da In memutuskan untuk menginap secara mendadak di tempat itu. Pengalaman singkat tersebut justru mengubah pandangan hidupnya. Di sana ia bertemu para staf yang hangat, yang tidak hanya merekomendasikan buku sesuai kebutuhan pengunjung, tetapi juga menyediakan program menulis surat untuk diri sendiri yang akan dikirim pada malam Natal.
Kisah berikutnya adalah tentang Na Yun, seorang pekerja di perusahaan IT dengan gaji dan tunjangan besar. Namun belakangan ia mengalami slump dan tidak mampu menunjukkan kemampuannya dengan baik. Rutinitas kerja yang melelahkan membuatnya tiba-tiba sadar bahwa usia dua puluhannya hampir berakhir. Teman kuliahnya dulu, Chan Wook dan Se Rin, mengajaknya berlibur mendadak ke desa Soyang-ri setelah membaca ulasan tentang toko buku tersebut.
Sesampainya di sana, mereka bertemu Si Woo, staf di toko buku yang ternyata adalah teman lama mereka yang menghilang setelah gagal dalam tes pegawai negeri. Keempatnya dulu dijuluki empat musketir. Mereka menghabiskan waktu singkat namun berharga di Soyang-ri: mengobrol hingga larut malam, merayakan ulang tahun Se Rin yang ke-29, hingga bersepeda di tepi danau. Rutinitas pekerjaan membuat mereka merasa hampa dan merindukan masa-masa sekolah yang penuh kebebasan. Si Woo sendiri mengakui bahwa ia meninggalkan rencana menjadi pegawai negeri dan arsitek karena merasa jalan hidup itu bukan yang ia inginkan.
Pengunjung lain yang sangat terkesan dengan Soyang-ri adalah Choi Soo Hee, seorang calon hakim berusia 34 tahun yang selama tujuh tahun bekerja keras di pengadilan tanpa pernah benar-benar berlibur. Masa kecilnya dulu dipenuhi imajinasi dari buku-buku fiksi seperti The Wizard of Oz. Namun tekanan sosial membuatnya terus mengejar kemenangan dan persaingan hingga tanpa sadar ia menjadi “budak kerja”.
Di Soyang-ri, Soo Hee mulai menemukan dirinya kembali. Ia menghabiskan waktu membaca buku, mengikuti kelas menulis, serta menikmati masakan desa yang sederhana namun mengingatkannya pada masa kecil.
Se Rin akhirnya memutuskan bekerja di Soyang-ri. Proyek pertamanya adalah menyiapkan pesta pernikahan luar ruang. Di tempat itu pula muncul kisah cinta yang lama terpendam: perasaan Ji Hun kepada Ma Ri, tetangganya semasa tinggal di Jerman. Walaupun hubungan mereka pada akhirnya tidak bersatu, Soyang-ri memberi kesempatan bagi mereka untuk saling memahami.
Tokoh lain adalah Su Hyeok, anak seorang konglomerat yang sejak kecil hidup dalam kemewahan dan kebebasan di New York. Namun setelah ibunya meninggal, ia harus menghadapi tekanan sebagai penerus perusahaan ayahnya serta hubungan yang renggang dengan adiknya. Kunjungan yang tidak disengaja ke Soyang-ri menjadi titik balik baginya. Di sana tidak ada yang memujanya. Ia hanya menjadi seseorang yang menikmati buku-buku karya Haruki Murakami dan Douglas Kennedy, mengikuti acara memetik kesemek, serta bersosialisasi dengan warga desa. Pengalaman itu membantunya keluar dari tekanan hidup yang hampir membuatnya depresi.
Semua kisah tersebut berlangsung sepanjang pergantian musim—dari musim semi, panas, gugur, hingga dingin. Pada akhirnya, para pengunjung yang pernah datang ke Soyang-ri kembali lagi setelah hidup mereka perlahan berubah. Da In, yang kini tinggal di Hawaii, menerima surat dari dirinya sendiri yang ia tulis pada bulan April, sebuah pengingat tentang masa ketika ia menemukan kembali arti hidup di tempat sederhana bernama Book’s Kitchen.
Kelebihan Buku
Novel ini memadukan berbagai unsur indra dengan sangat kuat. Penulis menghadirkan banyak deskripsi aroma—dari makanan, rerumputan, bunga, hingga suasana berbagai musim. Ceritanya tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga menghadirkan sensasi rasa dan bau yang membuat pembaca merasa benar-benar berada di Soyang-ri. Selain itu, buku ini juga dipenuhi rekomendasi bacaan dari berbagai penulis dunia.
Kekurangan Buku
Tidak terdapat konflik besar yang benar-benar menonjol. Alur cerita berjalan relatif lurus dari awal hingga akhir. Konflik hanya muncul dari masalah pribadi para pengunjung dan biasanya terselesaikan setelah mereka menghabiskan waktu di Soyang-ri dan meresapi pengalaman membaca serta kehidupan desa yang tenang.
Identitas Buku
Judul: Book’s Kitchen
Penulis: Kim Jee-hye
Penerjemah: Lingliana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2025
ISBN: 978602067728
Baca Juga
-
Mitos Lereng Ciremai dan Wajah Metropolitan dalam Buku Monyet Bercerita
-
Refleksi Kehidupan di Balik TKP dalam Buku Things Left Behind
-
Pergulatan Moral Kolonial dalam Kumpulan Cerpen Teh dan Pengkhianat
-
Sang Pemenang Berdiri Sendiri: Kehampaan di Balik Kilau Festival Cannes
-
Potret Pengungsi Perang Suriah dalam As Long as the Lemon Trees Grow
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Novel Here We Are: Kisah Persahabatan yang Diuji oleh Luka Kehidupan
-
Wisata Alam di Kawah Gunung Kelud: Menikmati Puncak Tanpa Pendakian Berat
-
Mencari Keseimbangan dalam Beragama Lewat Buku Islam Desa dan Islam Kota
-
Jalani Hari dengan Tenang dalam Buku Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan
-
Kata Siapa Mayoritas Artinya Selalu Benar? Membaca Buku Musuh Masyarakat
Terkini
-
Bukber Alumni Perkuliahan dan Politik Jaringan Sosial
-
Huawei Mate X7 Datang, Apakah Siap Jadi Raja HP Lipat?
-
Mencari Lailatul Qadar: Malam Ganjil Versi Muhammadiyah atau Pemerintah?
-
Hentikan Gengsi! Begini Cara Kelola Arisan Biar Tetap Cuan di Bulan Suci
-
Dari Lapar Perut ke Lapar Mata: Kenapa Ramadan Justru Bikin Boros?