Bimo Aria Fundrika | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi limbah medis (Alexroma/Pixabay)
Yayang Nanda Budiman

Sungai-sungai kecil di Indonesia sering luput dari sorotan kebijakan lingkungan nasional. Padahal, justru dari aliran-aliran sempit inilah persoalan polusi plastik bermula dan kemudian bermuara ke sungai besar hingga laut.

Berbagai studi menunjukkan bahwa limbah plastik yang mencemari perairan pesisir sebagian besar berasal dari aktivitas domestik di wilayah hulu, termasuk permukiman padat di sekitar sungai kecil. Ironisnya, pendekatan penanganan yang selama ini dominan masih bertumpu pada solusi berskala besar dan berorientasi hilir, sementara konteks lokal kerap diabaikan.

Dalam situasi ini, solusi berbasis lokal menjadi krusial. Pendekatan yang berangkat dari kebutuhan, pengetahuan, dan partisipasi masyarakat setempat terbukti lebih adaptif dan berkelanjutan. Sungai kecil bukan sekadar saluran air, melainkan ruang hidup yang bersinggungan langsung dengan aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya warga di sekitarnya.

Sungai Kecil dan Pola Produksi Sampah Domestik

Karakteristik sungai kecil membuatnya rentan terhadap pencemaran plastik. Alirannya yang lambat, lebar yang terbatas, serta kedekatannya dengan rumah tangga menjadikan sungai sebagai “tempat terakhir” pembuangan sampah. Kantong plastik, kemasan sekali pakai, dan botol minuman menjadi jenis limbah yang paling banyak ditemukan. Masalah ini diperparah oleh keterbatasan layanan pengelolaan sampah di tingkat desa atau kelurahan.

Dalam banyak kasus, warga tidak sepenuhnya menyadari dampak jangka panjang dari kebiasaan membuang sampah ke sungai. Sungai masih dipersepsikan sebagai entitas yang mampu membersihkan dirinya sendiri. Ketika musim hujan tiba, sampah dianggap akan terbawa arus dan menghilang. Padahal, yang terjadi hanyalah perpindahan masalah ke wilayah lain.

Pendekatan edukatif yang sensitif terhadap konteks lokal menjadi titik masuk penting. Program literasi lingkungan yang mengaitkan kebersihan sungai dengan kesehatan keluarga, ketahanan pangan, dan risiko banjir terbukti lebih mudah diterima dibandingkan kampanye normatif semata.

Di sejumlah daerah, perubahan perilaku mulai terlihat ketika warga memahami bahwa pencemaran sungai berdampak langsung pada sumber air bersih dan produktivitas lahan pertanian mereka.

Inisiatif Komunitas sebagai Motor Perubahan

Berbagai inisiatif berbasis komunitas menunjukkan bahwa solusi lokal bukan sekadar wacana. Kelompok warga, Karang Taruna, hingga komunitas perempuan telah mengambil peran aktif dalam menjaga sungai kecil. Salah satu bentuknya adalah pengelolaan bank sampah yang terintegrasi dengan kegiatan bersih sungai. Plastik tidak lagi dipandang sebagai limbah tak berguna, melainkan memiliki nilai ekonomi, meski terbatas.

Di beberapa wilayah, pemasangan perangkap sampah sederhana di aliran sungai kecil mampu menahan limpasan plastik sebelum mencapai sungai yang lebih besar. Teknologi ini murah, mudah dirawat, dan melibatkan partisipasi warga secara langsung. Lebih penting lagi, keberadaan perangkap sampah memicu rasa kepemilikan terhadap sungai karena warga dapat melihat secara kasatmata volume sampah yang mereka hasilkan sendiri.

Pendekatan gotong royong juga menjadi modal sosial yang kuat. Kegiatan rutin seperti kerja bakti membersihkan sungai bukan hanya berfungsi membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang diskusi informal tentang pola konsumsi dan pengelolaan sampah rumah tangga. Dari sinilah muncul kesepakatan lokal, misalnya pembatasan penggunaan plastik sekali pakai dalam kegiatan warga.

Peran Pemerintah Daerah dan Integrasi Kebijakan

Meski solusi lokal penting, peran pemerintah daerah tetap tidak tergantikan. Tantangannya adalah bagaimana kebijakan dapat memperkuat inisiatif warga, bukan menggantikannya dengan pendekatan top-down. Dukungan berupa anggaran kecil namun berkelanjutan, pelatihan teknis, serta kemudahan akses ke fasilitas daur ulang dapat memberikan dampak signifikan.

Pemerintah desa memiliki posisi strategis melalui kewenangan pengelolaan dana desa. Alokasi anggaran untuk pengelolaan sampah berbasis komunitas, termasuk di sekitar sungai kecil, merupakan langkah konkret yang relatif mudah dilakukan. Integrasi isu polusi plastik ke dalam perencanaan pembangunan desa akan memperkuat keberlanjutan program.

Lebih jauh, sinergi lintas sektor juga diperlukan. Program pengurangan plastik di hulu sungai perlu dikaitkan dengan kebijakan pengendalian banjir, kesehatan masyarakat, dan ketahanan lingkungan. Dengan demikian, sungai kecil tidak lagi diposisikan sebagai masalah pinggiran, melainkan sebagai bagian integral dari sistem ekologis dan sosial yang lebih luas.

Pada akhirnya, solusi terhadap polusi plastik di sungai kecil di wilayah permukiman tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau kebijakan besar. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui bahwa perubahan sering kali dimulai dari ruang-ruang lokal, dari sungai yang sempit, dan dari kesadaran kolektif masyarakat yang hidup di sekitarnya.