Di balik pintu-pintu rumah masyarakat kita yang tampak tenang, sering terjadi sebuah kebuntuan komunikasi yang melelahkan. Seorang anak mencoba menjelaskan mengapa ia memilih jalur hidup tertentu, atau mengapa ia tidak setuju dengan keputusan orang tuanya.
Ia bicara dengan alasan yang masuk akal, dan nada yang diusahakan tetap tenang. Namun, respons yang didapat bukanlah diskusi timbal balik, melainkan sebuah vonis: "Kamu sudah pintar sekarang ya, sampai berani membantah orang tua."
Melansir dari ulasan sosiologis di Vice Indonesia mengenai otoritas dalam keluarga, disebutkan bahwa budaya yang menempatkan senioritas di atas segalanya sering kali menyalahartikan komunikasi asertif sebagai bentuk pembangkangan atau hilangnya adab.
Inilah "dosa asal" dalam komunikasi antargenerasi kita: ketidakmampuan membedakan antara apa yang dikatakan (konten) dengan siapa yang mengatakan (hierarki). Bagi generasi yang lebih tua, kebenaran sering kali dianggap sebagai hak prerogatif mereka yang lahir lebih dulu.
Dalam kacamata ini, argumen anak yang paling logis sekalipun akan terlihat seperti serangan personal terhadap kehormatan mereka. Di titik inilah, logika sering kali kalah telak oleh label "durhaka".
Kenapa batasan ini begitu tipis? Karena di masyarakat kita, adab sering kali didefinisikan secara visual dan sensorik: suara rendah, kepala menunduk, dan kata "iya" yang keluar tanpa jeda.
Ketika seorang anak mulai menggunakan teknik komunikasi modern, seperti mencoba menjelaskan batasan pribadi (boundaries)—orang tua sering kali merasa asing. Mereka tidak terbiasa dengan anak yang memiliki pendapat mandiri. Bagi banyak orang tua, cinta sering disalahartikan sebagai kepatuhan mutlak, dan diskusi dianggap sebagai ancaman terhadap keharmonisan.
Konflik ini kian meruncing di era informasi. Anak muda yang terpapar pada cara berkomunikasi yang lebih egaliter mencoba menerapkan hal yang sama di rumah. Mereka ingin menyelesaikan masalah dengan "duduk bersama dan bicara terbuka".
Masalahnya, bagi banyak orang tua, "bicara terbuka" adalah konsep yang menakutkan karena menempatkan mereka pada posisi yang setara dengan anak. Mereka merasa kehilangan kendali, dan cara termudah untuk merebut kembali kendali itu adalah dengan membentengi diri menggunakan tameng sopan santun.
Dampaknya bisa sangat melukai hubungan jangka panjang. Anak muda akhirnya memilih untuk diam secara terpaksa. Mereka menyimpan rahasia dan menjalani kehidupan ganda demi menghindari label "anak tidak tahu adab".
Di sisi lain, orang tua merasa bangga memiliki anak yang penurut, tanpa sadar bahwa mereka sebenarnya sedang kehilangan kedekatan emosional yang tulus. Kediaman anak di meja makan bukanlah tanda hormat, melainkan tanda bahwa mereka sudah menyerah untuk mencoba dimengerti.
Menjembatani jurang ini butuh kedewasaan dari kedua belah pihak. Anak perlu memahami bahwa cara menyampaikan argumen terkadang lebih penting daripada isi argumen itu sendiri. Namun, yang lebih krusial adalah kesediaan orang tua untuk mulai melihat anak sebagai individu yang juga memiliki hak untuk tidak setuju. Berargumen bukan berarti membenci; justru, berargumen adalah bentuk kepercayaan anak bahwa orang tuanya bisa menjadi teman bicara yang bijak.
Sudah saatnya kita berhenti mengukur adab hanya dari kepatuhan buta. Seorang anak yang berani menyatakan pendapatnya dengan jujur sebenarnya sedang menunjukkan integritas yang kemungkinan besar juga diajarkan oleh orang tuanya. Membungkam keberanian berpendapat di rumah hanya akan menghasilkan generasi yang gagap saat menghadapi dunia luar yang jauh lebih keras daripada teguran di meja makan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Stop Jadi Polisi Bacaan: Buku Fiksi dan Non-Fiksi Sama-Sama Bikin Kamu Lebih Manusia
-
Generasi Sigma 2026: Anak Bayi yang Sudah Ditunggu Algoritma
-
Kulkas yang Mendadak Jadi Obesitas di Bulan Suci
-
Hampers Lebaran: Antara Hangatnya Silaturahmi dan Beban Gengsi Sosial
-
Frugal Living, Gaya Hidup Hemat atau Terlalu Pelit?