Malam makin larut, laptop masih menyala, dan tumpukan dokumen tugas akademik beranak pinak bersama revisi pekerjaan yang minta diselesaikan kemarin. Di tengah kepungan stres skala lokal ini, jari saya tidak sengaja memutar sebuah lagu lama yang sebenarnya sudah rilis bertahun-tahun lalu.
Ekspektasi awal saya saat pertama kali tahu lagu ini dulu hanyalah menjadikannya musik latar biar kamar tidak terlalu sepi. Namun, entah kenapa, malam ini ketukan reggae-pop yang santai itu justru terasa seperti pelukan hangat. Kesan pertama yang dulu saya kira cuma lagu radio biasa, mendadak berubah menjadi satu-satunya alasan mengapa saya belum membanting laptop malam ini.
Lagu yang menjadi juru selamat itu adalah "Ride" dari duo Twenty One Pilots, sebuah trek ikonik dari album Blurryface. Secara genre, lagu ini mengawinkan unsur reggae, synth-pop, dan alternatif hip-hop dengan sangat genius.
Di balik kemasannya yang terdengar santai dan beraura positif, "Ride" sebenarnya mengangkat tema yang sangat gelap namun sangat relevan dengan anak muda zaman sekarang: beban pikiran yang berlebihan (overthinking) dan kecemasan akan masa depan.
Di saat kita sedang terjebak dalam pusaran hustle culture, dikejar tenggat waktu, dan dituntut produktif 24/7, lagu lawas ini hadir sebagai anomali yang ramah di telinga sekaligus memvalidasi rasa lelah kita.
Jika kita melihat gambaran umum narasi yang dibangun, "Ride" tidak sedang mendongengkan cerita cinta menye-menye. Lagu ini adalah sebuah potret isi kepala yang berisik. Konflik utamanya terjadi di dalam batin si narator, sebuah pertempuran tanpa henti antara keinginan untuk menikmati proses hidup ("I'm falling, so I'm taking my time on my ride") melawan ketakutan eksistensial tentang sanggupkah kita bertahan.
Bagi seorang mahasiswa yang merangkap pekerja, narasi ini terasa sangat nyata. Lagu ini menangkap momen magis ketika kita ingin menyerah dengan semua tugas, tapi sadar bahwa perjalanan ini harus tetap dinikmati.
Liriknya adalah alasan utama mengapa lagu ini sangat ampuh menemani belajar. Respons emosional saya langsung tersengat ketika bait ini berbunyi: “I’d die for you, that’s easy to say... But I have a question for you, yeah. Who would you live for?”
Di tengah kepenatan mengerjakan tugas kuliah, lirik ini rasanya menampar kesadaran saya. Kita sering kali berkata rela mati-matian demi masa depan atau karier, tapi Tyler Joseph justru melempar pertanyaan retoris yang mahal: "Untuk siapa atau untuk apa kamu mau bertahan hidup dan berjuang hari demi hari?".
Gaya bahasanya yang puitis namun menusuk ini justru menjadi bahan bakar kontemplasi yang membuat otak saya tetap fokus, alih-alih mengantuk karena bosan.
Secara proporsional, kelebihan utama "Ride" sebagai teman belajar dan bekerja terletak pada kontras biner yang ditawarkannya. Musiknya yang upbeat membuat tubuh kita tetap terjaga dan berenergi untuk mengetik, sementara liriknya yang reflektif menjadi ruang aman bagi kesehatan mental kita yang sedang diuji deadline.
Ini adalah musik pengantar belajar yang sempurna karena tidak membuat kita mengantuk seperti lagu instrumental, tapi juga tidak mendistorsi fokus. Kekurangannya barangkali hanya ada pada ketukannya yang cenderung repetitif di bagian akhir. Bagi mereka yang membutuhkan dinamika musik yang megah dan terus berubah untuk memancing inspirasi, lagu ini mungkin terasa agak monoton jika diputar berulang-ulang.
Sebagai refleksi penutup, "Ride" adalah lagu lama yang menolak usang dan sangat cocok dinikmati oleh para pejuang deadline yang isi kepalanya sedang penuh. Lagu ini tidak menawarkan solusi instan agar tugasmu cepat selesai, tidak pula memberikan motivasi murahan yang menyuruhmu tersenyum paksa.
Kesan yang tertinggal setelah lagu ini selesai berputar adalah sebuah rasa maklum yang melegakan. Kita disadarkan bahwa tidak apa-apa jika malam ini kita merasa lelah dan kewalahan. Pada akhirnya, semua tugas kuliah dan tekanan pekerjaan ini hanyalah bagian dari rute perjalanan yang sedang kita kendarai—dan tidak ada salahnya melambat sedikit untuk menikmati perjalanannya.
Judul: Ride
Penyanyi: Twenty One Pilots
Tahun rilis: 2015
Genre: reggae-pop
Durasi: 3:34
Baca Juga
-
Retorika Pidato Presiden di Nganjuk, Menenangkan atau Menidurkan Logika?
-
Tentang Dolar dan Orang Desa: Meluruskan Logika Pidato Presiden di Nganjuk
-
Menanam Cahaya di Negeri Kelelawar
-
Sambo S2 di Lapas Pakai Beasiswa, Logika Kita yang Rusak atau Dia yang Sakti?
-
Nadiem, 18 Tahun Bui, dan Matinya Nyali Para Profesional Masuk Birokrasi
Artikel Terkait
-
BURN: Trance Metal Karya Isyana Sarasvati Dobrak Arus Utama
-
Romantis Abis, ZeroBaseOne Ungkap Pemujaan Mendalam di Lagu Terbaru 'Top 5'
-
Isyana Sarasvati Tampil Ngedance di Album Eklektiko, Lagu BURN Jadi Andalan Baru
-
Aku Cinta Rupiah: Ketika Lagu Masa Kecil Bertemu Realitas Ekonomi Hari Ini
-
ITZY Ajak Fans Tuk Cintai Diri Sendiri dan Lebih Percaya Diri di Lagu Motto
Ulasan
-
Nyai Moena: Potret Hitam Pergundikan dan Luka Berlapis Perempuan Pribumi
-
Pesona Tragis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Kisah Pilu Hayati-Zainuddin
-
Menyelami Kisah Adik dan Tante Kun di Novel Wingit
-
Ulasan Film Hokum: Teror Supernatural di Penginapan Irlandia yang Mencekam!
-
Dari Angkot sampai TTS, Alasan Film Dilan 1990 Sangat Ikonik!
Terkini
-
Kebijakan Sampah Residu ke Bantargebang, Apakah Solusi atau Beban Baru?
-
Hari Reformasi Nasional: Menolak Normalisasi KKN Gaya Baru
-
Zero Waste dan Tekanan Sosial: Saat Peduli Lingkungan Jadi Ajang Kompetisi
-
Sinopsis System, Film India Bertema Hukum yang Dibintangi Sonakshi Sinha
-
Sinopsis Avatar The Last Airbender Season 2, Misi Baru Aang ke Ba Sing Se