M. Reza Sulaiman | Maria Kristiani
Ilustrasi ketika pulang kerja anak cowo beristirahat, anak cewe lanjut kerja. (Foto: Gemini AI)
Maria Kristiani

Jam enam sore. Jalanan macet, baju lengket kena keringat, kepala penuh suara klakson dan target kerja yang belum selesai. Di satu rumah, anak laki-laki pulang kerja, lempar tas ke sofa, buka tutup nasi, lalu rebahan sambil main ponsel. Tidak ada yang ganggu. Bahkan suara dengkurnya sering dianggap bukti kalau dia memang sudah bekerja keras seharian. Sementara di dapur, anak perempuan yang baru sampai rumah masih berdiri cuci piring sambil nahan pegal di pinggang.

Lucunya, dua-duanya sama-sama kerja. Sama-sama kena omel atasan, sama-sama duduk berjam-jam di kantor atau berdiri seharian di tempat kerja. Tapi capek ternyata punya kasta. Kalau laki-laki bilang ingin istirahat, orang rumah bilang, “Kasihan, capek kerja.” Kalau perempuan duduk sebentar setelah pulang, ada saja suara yang lewat seperti nyamuk malam: “Piringnya belum dicuci.” Atau yang lebih halus tapi nusuk, “Cewek kok malas.”

Rumah yang katanya tempat pulang kadang malah berubah jadi shift kerja kedua buat perempuan. Setelah tenaga habis di luar, masih ada baju kotor, lantai lengket, ember penuh cucian, dan pertanyaan paling sakral di rumah: “Makan apa malam ini?” Aneh memang. Banyak keluarga percaya perempuan itu kuat, telaten, tahan capek. Padahal seringnya bukan kuat. Cuma tidak diberi pilihan untuk berhenti.

Piring Tamu Kehormatan dan Ilusi Kekuatan Alami

Ada kejadian yang terlalu biasa sampai orang tidak sadar itu sebenarnya tidak adil. Anak laki-laki selesai makan, piring ditinggal di meja seperti habis dipakai tamu kehormatan negara. Lalu masuk kamar karena “besok kerja lagi.” Sementara anak perempuan baru duduk setelah semua dapur rapi, air galon penuh, baju sudah direndam, dan sampah dibuang. Setelah itu masih ditanya kenapa mukanya jutek terus.

Yang lebih lucu lagi, pekerjaan rumah sering dianggap bukan pekerjaan. Padahal coba saja satu minggu semua perempuan di rumah mogok total. Tidak ada yang masak, tidak ada yang nyuci, tidak ada yang nyapu. Baru tiga hari, orang rumah mulai panik cari sendok bersih seperti sedang ikut survival show. Tapi selama semuanya dikerjakan diam-diam tiap hari, orang menganggap itu tugas alami. Seolah perempuan lahir ke dunia sudah membawa spons cuci piring.

Banyak orang tua sebenarnya tidak jahat. Mereka cuma mewarisi pola lama tanpa pernah benar-benar mempertanyakan. Dari kecil anak perempuan dibiasakan bantu ibu di dapur, sementara anak laki-laki dipuji cukup karena “fokus kerja.” Akhirnya rumah mengajarkan satu hal diam-diam: istirahat laki-laki itu kebutuhan, istirahat perempuan itu kemewahan. Dan anehnya, banyak yang tumbuh menganggap itu normal.

Ketika Istirahat Berubah Menjadi Rasa Bersalah

Kadang perempuan sendiri sampai bingung membedakan istirahat dan rasa bersalah. Baru rebahan lima belas menit sudah kepikiran cucian belum diangkat. Mau tidur cepat rasanya seperti ada utang yang belum dibayar. Badan capek, kepala penuh, tapi tetap bangun paling pagi. Besok diulang lagi. Begitu terus sampai lelah jadi suara latar yang tidak lagi dianggap penting.

Mungkin itu sebabnya banyak perempuan merasa rumah bukan tempat istirahat sepenuhnya. Rumah tetap tempat pulang, tapi bukan tempat benar-benar berhenti. Ada pekerjaan yang selalu menunggu, bahkan saat badan hampir tumbang. Dan sering kali yang paling melelahkan bukan cucian atau piring kotor, tapi kenyataan bahwa capek mereka terus dianggap biasa saja. Seolah perempuan memang seharusnya kuat terus, tanpa boleh benar-benar istirahat.