Sekar Anindyah Lamase | Sherly Azizah
Potret Presiden Prabowo Subianto (instagram/prabowo)
Sherly Azizah

Sabtu, 16 Mei 2026, lini masa media sosial kita mendadak dipenuhi oleh angka yang bikin senam jantung: Rp17.600 per dolar AS. Di tengah riuh rendah kecemasan publik mengenai masa depan dompet mereka, Presiden Prabowo Subianto angkat bicara untuk menenangkan situasi.

Alih-alih ikut panik, presiden berusia 74 tahun tersebut justru menanggapi fenomena ini dengan santai, "Dolar begini, dolar begitu! Kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih sangat stabil. Lagi pula, dolar itu tidak digunakan oleh masyarakat desa," ujar Presiden Prabowo Subianto pada hari Sabtu, 16 Mei 2026. Momen itu terekam saat beliau memberikan pidato sambutan dalam acara Peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur.

Beliau juga menyayangkan adanya pihak-pihak yang gemar menyebarkan narasi negatif tentang perekonomian Indonesia, termasuk anggapan bahwa negara kita bakal mengalami kolaps hingga situasi chaos.

Pernyataan "orang desa nggak pakai dolar" ini sekilas terdengar seperti kalimat penenang yang membumi. Namun, jika kita membedahnya dengan ilmu ekonomi makro dan logika rantai pasok (supply chain), terdapat celah logika (logical fallacy) yang cukup besar di sana. Sebagai warga negara yang ingin cerdas secara politik dan ekonomi, yuk kita bedah secara objektif mengapa 'hantu' bernama dolar itu tetap bisa mengetuk pintu dapur di pelosok desa terdalam sekalipun.

1. Ilusi Geografis: Berkenalan dengan Imported Inflation

Secara harfiah, Pak Presiden tidak salah, petani di desa memang bertransaksi menggunakan rupiah. Mereka tidak membawa lembaran uang kertas bergambar Benjamin Franklin saat membeli kopi, sabun, atau rokok di warung kelontong. Namun, dalam sistem ekonomi modern yang saling terhubung, ketiadaan fisik mata uang asing bukan berarti ketiadaan dampak.

Di sinilah konsep imported inflation (inflasi yang diimpor) bekerja. Sektor pertanian Indonesia, yang menjadi urat nadi masyarakat desa—masih sangat bergantung pada komoditas impor. Bahan baku utama pupuk kimia (seperti fosfat dan kalium), komponen pestisida, hingga bahan pakan ternak ayam sebagian besar dibeli dari luar negeri menggunakan dolar AS.

Ketika rupiah melemah hingga Rp17.600, biaya tebus bahan-bahan tersebut otomatis membengkak. Produsen di tingkat hulu akan menggeser beban biaya ini kepada konsumen akhir, yaitu para petani dan peternak di desa. Akibatnya, biaya produksi pertanian naik, harga pangan terkerek, dan daya beli masyarakat desa justru menjadi pihak pertama yang tergerus. Orang desa mungkin tidak memegang dolar, tetapi harga piring nasi mereka ditentukan oleh dolar.

2. Efek Domino Moneter: Mengapa Suku Bunga Mencekik Sektor Riil

Ketika sebuah negara mengalami pelemahan mata uang yang cukup dalam, Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter tidak akan tinggal diam. Untuk mencegah rupiah terjun bebas lebih dalam, BI biasanya akan mengambil langkah darurat dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate).

Mari kita runut efek dominonya secara logis. BI menaikkan suku bunga acuan agar investor asing mau mempertahankan modalnya di Indonesia dan tidak memburu dolar. Perbankan umum merespons dengan ikut menaikkan suku bunga kredit dan pinjaman mereka. Pelaku usaha mikro, petani yang mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga masyarakat desa yang sedang mencicil kendaraan bermotor harus membayar bunga yang lebih tinggi. Artinya, klaim bahwa ekonomi makro "stabil" di atas kertas sering kali dibayar mahal oleh sektor riil di tingkat bawah yang ruang geraknya makin menyempit akibat mahalnya biaya modal.

3. Retorika Politik vs Transparansi Kebijakan

Mengapa pemerintah cenderung menekankan bahwa kondisi baik-baik saja dan meminta publik mengabaikan narasi chaos? Secara komunikasi politik, ini adalah strategi pembendungan dampak (damage control). Ekonomi sangat dipengaruhi oleh psikologi massa. Jika pemerintah ikut panik, pasar akan merespons dengan spekulasi, yang bisa memicu panic buying atau penimbunan dolar yang justru akan membuat rupiah makin terpuruk. Langkah menenangkan itu sudah betul.

Namun, mengedukasi rakyat bukan dengan cara menyederhanakan masalah secara ekstrem. Rakyat perlu tahu bahwa pelemahan rupiah ke Rp17.600 ini dipicu oleh kombinasi faktor global (seperti kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik) serta faktor internal (kekhawatiran pasar terhadap postur belanja APBN kita).

Melabeli kritik atau kecemasan publik sebagai sekadar "narasi negatif" adalah langkah keliru yang menghambat proses kedewasaan berpolitik. Kritik berbasis data adalah bentuk pengawasan warga negara agar pemerintah tidak lalai dalam menjaga kesehatan anggaran negara.

Mari Melek Politik dengan Akal Sehat

Pelajaran politik-ekonomi berharga dari momentum ini adalah, tidak ada satu pun jengkal tanah di Republik ini yang benar-benar steril dari dinamika global.

Masyarakat desa maupun kota berada di atas perahu ekonomi yang sama. Ketika jangkar rupiah melemah, seluruh penumpang akan merasakan guncangannya. Menghadapi situasi ekonomi di level Rp17.600 per dolar memerlukan transparansi kebijakan dan strategi mitigasi konkret dari pemerintah, misalnya dengan memastikan ketersediaan subsidi pupuk yang tepat sasaran dan menjaga stabilitas harga pangan pokok, bukan sekadar narasi penenangan yang mengabaikan realitas di lapangan.

Jadi, Sobat, menanggapi pernyataan Pak Presiden ini, kita harus tetap optimis negara tidak akan chaos, tapi logika kritis kita juga tidak boleh ikut-ikutan "tidur". Bagaimana menurutmu? Sudah cukup tercerahkan dengan logika arus dolar ini?