Ada sebuah aktivitas olahraga yang mendadak populer setiap kali Ramadan tiba, namun anehnya tidak membakar kalori sama sekali. Namanya adalah "Olahraga Jari". Atletnya adalah kita semua, sasarannya adalah aplikasi pesan antar makanan, dan waktu pertandingannya biasanya dimulai sekitar pukul satu atau dua siang—tepat saat matahari sedang di puncak kepala dan nalar kita mulai agak goyah karena dehidrasi.
Secara logika, membuka aplikasi makanan saat buka puasa masih mencapai enam atau tujuh jam lagi adalah sebuah tindakan aneh. Kita sengaja mencari foto-foto resolusi tinggi dari ayam goreng yang kulitnya terlihat renyah, es kopi dengan tetesan embun di tepi gelasnya, hingga martabak manis yang menteganya terlihat meleleh menggiurkan, padahal azan magrib masih lama.
Namun, bukannya menutup aplikasi tersebut, jempol kita malah semakin lincah melakukan scrolling.
Saya sering terjebak dalam ritual aneh ini. Sambil bersandar di kursi kantor atau sekadar rebahan di rumah, saya bisa menghabiskan waktu 30 menit hanya untuk menjelajahi kategori "Promo Ramadan" atau "Menu Takjil Terlaris". Padahal, saya tahu bahwa saya tidak akan memesan apa-apa sekarang. Saya hanya sedang melakukan "ziarah visual".
Menariknya, aktivitas ini memberikan semacam kepuasan psikologis yang semu. Ada sensasi "memiliki" saat kita memasukkan nasi padang paket komplit ke dalam keranjang, menambahkannya dengan perkedel dan kerupuk kulit, lalu melihat total harganya. Kita merasa seperti sudah konfirmasi, padahal tombol check-out itu adalah garis batas yang tidak akan pernah kita seberangi sampai jam 5 sore nanti.
Setelah saya renungkan, fenomena ini sebenarnya adalah bentuk dari optimisme yang kebablasan. Dengan melihat-lihat makanan, otak kita seolah sedang melakukan gladi resik untuk kebahagiaan yang akan datang. Kita sedang membangun narasi kemenangan: "Nanti sore, saya akan memanjakan diri dengan ini."
Padahal, secara realita, begitu adzan maghrib berkumandang, satu gelas air putih dan dua buah pisang goreng sudah cukup membuat kita menyerah dan tidak jadi memesan menu mewah yang sudah dikurasi di keranjang tadi siang.
Namun, "olahraga jari" ini bukan tanpa risiko. Ini adalah ujian iman versi modern. Jika di zaman dulu ujian puasa adalah melihat makanan fisik di atas meja, sekarang ujiannya berpindah ke layar berukuran enam inci. Godaannya jauh lebih berat karena algoritma aplikasi tahu tetap apa yang kita sukai. Jika Anda sering mencari sate ayam, jangan harap aplikasi itu akan menampilkan salad buah. Dia akan terus tergiur dengan foto sate yang bumbunya terlihat sangat kental dan menggugah selera.
Di sisi lain, ada perspektif baru yang saya temukan dari kegemaran scrolling ini. Aktivitas ini secara tidak langsung membuat kami menjadi kritik kuliner dadakan. Kita jadi tahu mana warung bakso yang ulasannya paling jujur, mana restoran yang fotonya terlihat menipu, dan mana kedai kopi yang sedang memberikan diskon besar-besaran. Kita menjadi sangat informatif tentang dunia perkulineran, meski perut sedang kosong melompong.
Kadang saya tertawa sendiri saat menyadari bahwa saya sudah memasukkan tujuh jenis makanan berbeda dari tiga restoran yang jaraknya jauh ke dalam keranjang belanja. Tampaknya-olah perut saya punya kapasitas tangki truk tronton. Inilah yang dinamakan "lapar mata" dalam bentuk digital. Kita tidak lagi bernafsu pada rasa, tapi pada citra.
Pesan moralnya? Mungkin "olahraga jari" ini adalah cara kita merayakan harapan. Ramadan mengajarkan kita untuk menunggu, dan aplikasi makanan adalah alat bantu menunggu yang paling menghibur sekaligus menyiksa. Ia mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang sangat nikmat yang sedang dinikmati di garis finis.
Maka, silakan lanjut scrolling. Nikmati setiap piksel dari foto ayam bakar itu. Masukkan ke keranjang sebanyak-banyaknya. Tapi ingat satu hal, jangan sampai jempol Anda terpeleset menekan tombol "Pesan Sekarang" di jam dua siang, karena itu bukan lagi olahraga jari, tapi bencana administrasi puasa. Hahaha..
Jadi, sudah berapa banyak menu yang Anda tumpuk di keranjang siang ini? Jangan khawatir, Anda tidak sendiri dalam kegilaan digital ini.
Baca Juga
-
Menggugat Adab Membangunkan Sahur: Atas Nama Tradisi, Bolehkah Teriak-teriak?
-
Logika vs Durhaka: Mengapa Berargumen Sering Kali Dianggap Tidak Tahu Adab?
-
Kulkas yang Mendadak Jadi Obesitas di Bulan Suci
-
Adu Nasib Antar Generasi: Romantisasi Derita dan Retaknya Empati di Rumah
-
Lapar Mata yang Mematikan Nurani! Ironi Gunungan Sampah di Bulan Suci Ramadan
Artikel Terkait
-
Doa Buka Puasa Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
-
Update Kuota Mudik Gratis Pemprov DKI Jakarta 2026, Ini Link Daftarnya
-
Apakah Suntik Botox dan Filler Membatalkan Puasa? Simak Hukum dan Penjelasannya di Sini
-
Aroma Takjil yang Hilang di Bulan Ramadan
-
5 Trik Atur Pola Tidur saat Puasa agar Tak Ngeluh Jam Tidur Terganggu seperti Cut Rizki
Kolom
-
Saat Curhat ke AI Jadi Kebiasaan Baru: Apakah Ini Wujud Kesepian di Era Digital?
-
Menggugat Adab Membangunkan Sahur: Atas Nama Tradisi, Bolehkah Teriak-teriak?
-
Gen Z dan Tradisi Ramadan yang Mulai Bergeser: Nilai Lama vs Gaya Baru
-
Kritik Dibungkam atas Nama HAM: Salahkah Rakyat Menentang MBG?
-
Berulangnya Kekerasan Anak: Bukti Negara Absen di Level Daerah?