Pernyataan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang menyebut lebih dari 500 warga sipil tewas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel kembali mengingatkan dunia pada satu pola lama dalam konflik bersenjata dimana korban terbesar hampir selalu warga sipil.
Dari jumlah tersebut, sekitar 200 korban disebut merupakan anak-anak sekolah dasar dan perempuan. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan kehidupan yang terhenti sebelum sempat memilih masa depan.
Dalam setiap konflik, perhatian publik sering tersedot pada strategi militer, kemenangan politik, atau posisi negara-negara besar. Namun di balik diskursus geopolitik, ada tubuh-tubuh sipil yang menanggung dampak paling nyata dari perang. Dan di antara mereka, perempuan serta anak-anak hampir selalu berada di garis paling rentan.
Perang yang Tidak Pernah Netral bagi Tubuh Sipil
Serangan bersenjata sering dibingkai sebagai operasi strategis yang menargetkan fasilitas militer. Namun realitas di lapangan jarang sesederhana itu. Ketika bom dijatuhkan di wilayah padat penduduk, batas antara target militer dan ruang hidup warga sipil menjadi kabur.
Ruang-ruang seperti, Rumah, sekolah, dan fasilitas publik kini berubah menjadi lokasi bahaya. Sipil seolah berada dalam kawasan yang berbahaya dan mereka juga bingung untuk bersembunyi dimana. Tragis memang jika kita melihat akibat serangan-serangan ini.
Anak-anak kehilangan ruang belajar yang seharusnya aman. Perempuan kehilangan ruang domestik yang selama ini menjadi tempat perlindungan keluarga. Dalam situasi seperti ini, perang tidak pernah benar-benar netral, ia selalu memiliki konsekuensi sosial yang tidak seimbang. Tubuh sipil menjadi medan dampak yang paling nyata.
Perempuan dalam Pusaran Kekerasan Berlapis
Bagi perempuan, konflik bersenjata sering menghadirkan kerentanan berlapis. Selain ancaman langsung dari kekerasan fisik, mereka juga menghadapi beban sosial sebagai pengasuh utama keluarga di tengah situasi krisis.
Ketika rumah hancur, perempuan sering menjadi pihak yang harus memastikan anak tetap hidup, mendapatkan makanan, dan bertahan secara emosional di tengah trauma kolektif.
Situasi darurat juga kerap memutus akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya. Hal-hal yang sering dianggap “sekunder” dalam perang justru memiliki dampak besar terhadap kesehatan dan keselamatan perempuan. Namun isu-isu ini jarang menjadi pusat perhatian dalam narasi konflik global.
Anak-Anak Menjadi Generasi yang Kehilangan Masa Depan
Kematian anak-anak dalam konflik bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga kehilangan generasi masa depan. Anak-anak yang seharusnya berada di ruang kelas justru menjadi korban kekerasan bersenjata yang tidak mereka pahami.
Trauma perang tidak berhenti pada korban yang meninggal. Anak-anak yang selamat sering tumbuh dengan pengalaman kekerasan, kehilangan keluarga, dan ketidakstabilan psikologis jangka panjang. Dampak ini melampaui batas waktu konflik itu sendiri.
Saatnya Kita Berdiri Bersama Korban, Bukan Polarisasi
Dalam konflik internasional, publik sering terdorong memilih posisi politik tertentu: mendukung satu negara atau mengutuk negara lain. Namun perspektif kemanusiaan mengingatkan bahwa fokus utama seharusnya berada pada korban sipil.
Berdiri bersama korban bukan berarti mengabaikan kompleksitas politik global, melainkan menempatkan nilai kemanusiaan sebagai titik awal diskusi. Ketika perempuan dan anak-anak menjadi korban, pertanyaan paling mendasar bukanlah siapa yang menang atau kalah, tetapi mengapa kehidupan sipil terus menjadi harga yang harus dibayar dalam konflik modern.
Karena pada akhirnya, perang mungkin diputuskan oleh negara, tetapi penderitaannya hampir selalu ditanggung oleh mereka yang tidak pernah memilih untuk terlibat di dalamnya.
Sumber:https://amp.suarasurabaya.net/kelanakota/2026/korban-serangan-militer-as-israel-bertambah-jadi-555-orang/
Baca Juga
-
Segera Tayang di Netflix! 4 Fakta Wajib Tahu tentang Drakor Mousetrap yang Dibintangi Ryu Jun Yeol
-
Segera Tayang! Intip Fakta-Fakta Menarik Drama Korea 'New Recruit 4'
-
Career Break Bukan Penghalang, Mengapa Dunia Kerja Sulit Memahaminya?
-
Viral Tanpa Menelanjangi Privasi: Berhenti Menjadikan Korban Perempuan sebagai Tontonan
-
Setelah 3 Tahun, Yoo Seon Ho Umumkan Hengkang dari 2 Days & 1 Night Season 4
Artikel Terkait
Kolom
-
Rakyat Jaga Rakyat: Ketika Solidaritas Lebih Cepat Datang daripada Negara
-
Esai 1.000 Kata Wajib 10 Sumber: Ketika Kuantitas Membunuh Analisis Kritis
-
Fenomena Solo-Maxxing, Menjadi Lajang Bukan Lagi Sebuah Kegagalan
-
Korupsi BUMN: Ketika Inovasi Berjalan Tanpa Pengawasan
-
Sindrom Cowok Bingung: Antara Tuntutan Maskulinitas dan Pelarian dari Kedewasaan
Terkini
-
Ulasan Pelukis Bisu dan Rahasia Kelam di Balik Sebuah Pembunuhan
-
Review Film Paket Santet: Eksperimen Dinna Jasanti Keluar dari Zona Nyaman
-
Review Serial Tires Season 2: Ketika Kegagalan Bisnis Dihadapi dengan Humor
-
Anime A Pen, Handcuffs, and a Common-Law Marriage Resmi Tayang Januari 2027
-
Cap Sombong Menyebar, Meghan Markle Kena 'Boikot' Calon ART di Kawasan Elite Montecito!