Seperti yang kita tahu standar lowongan pekerjaan di Indonesia sudah ditahap pada suli untuk digapai. Apalagi di masa sekarang ini, tidak semua orang yang berhenti bekerja atau belum bekerja sedang kehilangan arah. Ada yang sengaja mengambil jeda untuk beristirahat, ada yang melanjutkan pendidikan, dan ada pula yang harus meninggalkan pekerjaan karena memiliki tanggung jawab keluarga.
Sayangnya, fakta dilapangan menyatakan bahwa jeda panjang dalam dunia kerja terkadang masih dinilai sebagai sebuah kekurangan dari pencari kerja. Ketika seseorang kembali mencari pekerjaan setelah beberapa tahun, pertanyaan tentang 'gap' di CV seolah menjadi lebih penting daripada apa yang sebenarnya dilakukan selama masa tersebut.
Padahal, tidak semua alasan jeda dalam dunia kerja adalah kemalasan. Apalagi bagi mereka yang harus menjalani jeda karir (career break) untuk menjadi caregiver bagi anggota keluarganya yang sakit.
Menjadi Caregiver Juga Membutuhkan Kemampuan
Salah satu alasan besar seseorang mengambil career break adalah menjadi caregiver bagi anggota keluarga. Hal ini cukup banyak ditemukan dalam kasus-kasus di Indonesia. Mereka mungkin harus merawat orang tua yang sudah lanjut usia, mendampingi anggota keluarga yang sakit, atau mengurus anak dalam masa tertentu.
Pekerjaan tersebut memang tidak selalu menghasilkan slip gaji. Tidak ada jabatan resmi, target bulanan, ataupun bonus akhir tahun. Namun, bukan berarti tidak ada kemampuan yang berkembang. Seorang caregiver dituntut mampu mengatur waktu, mengelola kebutuhan orang lain, mengambil keputusan dalam situasi sulit, mengatur keuangan, berkomunikasi, sekaligus menghadapi tekanan emosional.
Sayangnya, pengalaman seperti ini sering kali tidak dianggap sebagai alasan yang tepat ketika seseorang kembali melamar pekerjaan. Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Apakah produktivitas seseorang memang hanya bisa diukur dari pekerjaan yang memiliki jabatan dan gaji?
Gap di CV Sering Dianggap Sebagai Masalah
Dalam proses rekrutmen, career break bisa menjadi salah satu hal yang membuat kandidat mendapatkan pertanyaan lebih banyak. Pertanyaan tersebut sebenarnya wajar. Perusahaan tentu perlu mengetahui perjalanan seorang kandidat. Namun, masalah muncul ketika career break langsung diasumsikan sebagai tanda bahwa seseorang kehilangan kemampuan, tidak produktif, atau kurang memiliki komitmen terhadap pekerjaan.
Padahal, seseorang bisa saja berhenti bekerja selama tiga atau bahkan lima tahun karena alasan yang sangat personal dan penting. Yang lebih ironis, setelah kondisi memungkinkan dan mereka ingin kembali bekerja, mereka justru harus menghadapi tantangan baru untuk menjawab bahwa mereka punya alasan yang tepat mengapa mereka memutuskan untuk menjalani hari saat jeda karir terjadi.
Mereka seolah dipaksa untuk menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun mereka tetap belajar, bertanggung jawab, dan menjalankan peran yang tidak tercatat dalam CV.
Dunia Kerja Perlu Melihat Manusia, Bukan Sekadar CV
CV memang penting. Pengalaman kerja, pendidikan, keterampilan, dan pencapaian tetap menjadi bagian penting dalam proses seleksi. Namun, CV seharusnya menjadi alat untuk memahami seseorang, bukan satu-satunya dasar untuk menentukan nilai seorang kandidat.
Perusahaan bisa mulai melihat career break dengan lebih terbuka. Alih-alih hanya bertanya mengapa seseorang tidak bekerja, perekrut dapat menggali apa yang dilakukan selama masa tersebut dan keterampilan apa yang diperoleh.
Bisa jadi seseorang yang selama beberapa tahun menjadi caregiver justru memiliki kemampuan manajemen waktu dan penyelesaian masalah yang sangat baik. Bukan berarti semua career break harus dianggap sebagai pengalaman kerja profesional. Namun, setidaknya ada ruang untuk memahami konteks di balik jeda tersebut.
Kembali Bekerja Seharusnya Tidak Menjadi Hukuman
Keinginan untuk kembali bekerja setelah career break bukan sesuatu yang perlu dicurigai. Justru, keputusan untuk kembali ke dunia kerja setelah bertahun-tahun menjalani tanggung jawab keluarga membutuhkan keberanian tersendiri. Tidak semua orang memiliki perjalanan karier yang lurus. Ada yang bekerja sejak lulus kuliah hingga pensiun, tetapi ada pula yang harus berhenti, berbelok, kemudian memulai kembali.
Sudah waktunya dunia kerja memahami bahwa seseorang tidak selalu produktif dengan cara yang sama. Ada produktivitas yang menghasilkan gaji, tetapi ada pula pekerjaan yang menghasilkan sesuatu yang jauh lebih sulit diukur: merawat manusia, menjaga keluarga, dan memastikan orang lain tetap bisa menjalani hidupnya.
Career break bukan berarti seseorang berhenti berkembang. Kadang, mereka hanya sedang menjalani kehidupan di luar pekerjaan. Dan ketika akhirnya mereka siap kembali, mungkin yang mereka butuhkan bukan penghakiman atas masa lalu, melainkan kesempatan untuk membuktikan kemampuan mereka hari ini.
Baca Juga
-
Viral Tanpa Menelanjangi Privasi: Berhenti Menjadikan Korban Perempuan sebagai Tontonan
-
Setelah 3 Tahun, Yoo Seon Ho Umumkan Hengkang dari 2 Days & 1 Night Season 4
-
Istilah Guru Honorer Dihapus, Bisakah PPPK Paruh Waktu Menjadi Solusi?
-
Belajar dari Kasus Ponpes Pati: Ruang Pendidikan Gagal Hadirkan Rasa Aman
-
Segera Tayang! Intip Fakta-Fakta Menarik Serial Disney+ 'Made in Korea 2'
Artikel Terkait
Kolom
-
Bebas tapi Cemas: Jebakan Hampa Usia 20-an setelah Lepas Almamater
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Membiayai Anak Bukan Lisensi untuk Menghapus Privasinya
-
GIIAS Ramai, Mobil Laris: Ekonomi Baik-baik Saja atau Kita Makin Timpang?
-
Pasar Modal Serok Rp125 Triliun: Pesta Raksasa yang Lupa Mengundang UMKM
Terkini
-
Catat Tanggalnya! D.O. EXO Bakal Sapa Fans Indonesia Lewat Tur Asia Terbaru
-
Lusi Lindri: Perempuan yang Menolak Tubuhnya Menjadi Milik Takhta Mataram
-
Spider-Man: Brand New Day dan Konsekuensi Sebuah Pilihan
-
Membaca Patiwangi: Merenungi Suara Perempuan Bali Lewat Goresan Puisi Oka Rusmini
-
Mengenang Keigo Higashino, 5 Film Adapatasi Ini Suguhkan Premis Unik