Perang Tak Pernah Netral, Mengapa Perempuan dan Anak Selalu Jadi Korban?

Bimo Aria Fundrika | Ernik Budi Rahayu
Perang Tak Pernah Netral, Mengapa Perempuan dan Anak Selalu Jadi Korban?
Dalam laporan utama Dunia Hari Ini (3 Maret 2026), Donald Trump menegaskan bahwa eskalasi militer terhadap Iran akan memasuki fase yang jauh lebih besar.

Pernyataan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang menyebut lebih dari 500 warga sipil tewas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel kembali mengingatkan dunia pada satu pola lama dalam konflik bersenjata dimana korban terbesar hampir selalu warga sipil.

Dari jumlah tersebut, sekitar 200 korban disebut merupakan anak-anak sekolah dasar dan perempuan. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan kehidupan yang terhenti sebelum sempat memilih masa depan.

Dalam setiap konflik, perhatian publik sering tersedot pada strategi militer, kemenangan politik, atau posisi negara-negara besar. Namun di balik diskursus geopolitik, ada tubuh-tubuh sipil yang menanggung dampak paling nyata dari perang. Dan di antara mereka, perempuan serta anak-anak hampir selalu berada di garis paling rentan.

Perang yang Tidak Pernah Netral bagi Tubuh Sipil

Serangan bersenjata sering dibingkai sebagai operasi strategis yang menargetkan fasilitas militer. Namun realitas di lapangan jarang sesederhana itu. Ketika bom dijatuhkan di wilayah padat penduduk, batas antara target militer dan ruang hidup warga sipil menjadi kabur.

Ruang-ruang seperti, Rumah, sekolah, dan fasilitas publik kini berubah menjadi lokasi bahaya. Sipil seolah berada dalam kawasan yang berbahaya dan mereka juga bingung untuk bersembunyi dimana. Tragis memang jika kita melihat akibat serangan-serangan ini.

Anak-anak kehilangan ruang belajar yang seharusnya aman. Perempuan kehilangan ruang domestik yang selama ini menjadi tempat perlindungan keluarga. Dalam situasi seperti ini, perang tidak pernah benar-benar netral, ia selalu memiliki konsekuensi sosial yang tidak seimbang. Tubuh sipil menjadi medan dampak yang paling nyata.

Perempuan dalam Pusaran Kekerasan Berlapis

Bagi perempuan, konflik bersenjata sering menghadirkan kerentanan berlapis. Selain ancaman langsung dari kekerasan fisik, mereka juga menghadapi beban sosial sebagai pengasuh utama keluarga di tengah situasi krisis.

Ketika rumah hancur, perempuan sering menjadi pihak yang harus memastikan anak tetap hidup, mendapatkan makanan, dan bertahan secara emosional di tengah trauma kolektif.

Situasi darurat juga kerap memutus akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya. Hal-hal yang sering dianggap “sekunder” dalam perang justru memiliki dampak besar terhadap kesehatan dan keselamatan perempuan. Namun isu-isu ini jarang menjadi pusat perhatian dalam narasi konflik global.

Anak-Anak Menjadi Generasi yang Kehilangan Masa Depan

Kematian anak-anak dalam konflik bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga kehilangan generasi masa depan. Anak-anak yang seharusnya berada di ruang kelas justru menjadi korban kekerasan bersenjata yang tidak mereka pahami.

Trauma perang tidak berhenti pada korban yang meninggal. Anak-anak yang selamat sering tumbuh dengan pengalaman kekerasan, kehilangan keluarga, dan ketidakstabilan psikologis jangka panjang. Dampak ini melampaui batas waktu konflik itu sendiri.

Saatnya Kita Berdiri Bersama Korban, Bukan Polarisasi

Dalam konflik internasional, publik sering terdorong memilih posisi politik tertentu: mendukung satu negara atau mengutuk negara lain. Namun perspektif kemanusiaan mengingatkan bahwa fokus utama seharusnya berada pada korban sipil.

Berdiri bersama korban bukan berarti mengabaikan kompleksitas politik global, melainkan menempatkan nilai kemanusiaan sebagai titik awal diskusi. Ketika perempuan dan anak-anak menjadi korban, pertanyaan paling mendasar bukanlah siapa yang menang atau kalah, tetapi mengapa kehidupan sipil terus menjadi harga yang harus dibayar dalam konflik modern.

Karena pada akhirnya, perang mungkin diputuskan oleh negara, tetapi penderitaannya hampir selalu ditanggung oleh mereka yang tidak pernah memilih untuk terlibat di dalamnya.

Sumber:https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2026/korban-serangan-militer-as-israel-bertambah-jadi-555-orang/

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak