Lintang Siltya Utami | Rahel Ulina Br Sembiring
Ilustrasi Cuci Piring Seabrek (Pinterest/zartashaas)
Rahel Ulina Br Sembiring

Saya tidak tahu apakah hanya saya yang mengalami ini atau anak perempuan lain juga merasakannya. Apalagi dengan latar keluarga saya yang cukup kental dengan budaya Batak.

Di budaya Batak, ada istilah parhobas: orang yang biasanya “bertugas” di dapur saat pesta atau acara keluarga. Tugasnya yaitu memasak, mencuci piring, hingga melayani tamu yang datang.

Masalahnya, peran itu entah kenapa sering diberikan mama saya kepada saya. Bahkan di momen Lebaran.

Ini sudah terjadi selama dua kali Lebaran berturut-turut. Dalam keluarga Karo, saya punya biring—artinya nenek. Biring saya ini beragama Islam, jadi setiap Lebaran kami selalu datang ke rumah beliau. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah kami, biasanya kami ke sana naik motor.

Seperti kebanyakan rumah saat Lebaran, biring saya selalu mengadakan open house. Tamu datang silih berganti, suasananya ramai dan hangat.

Tahun lalu, saya sudah menduga ini akan terjadi, ditambah lagi ada biring lain yang datang dari Malaysia. Kami makan, ngobrol, dan menikmati suasana Lebaran sampai siang hari. Setelah perut kenyang dan obrolan mulai habis, saya sudah bersiap untuk ikut pulang bersama orang tua.

Tiba-tiba, mama saya berkata kepada biring (mama saya memanggilnya bibi karena dianggap seperti mertuanya).

“Si Rahel biar di sini aja ya, Bi. Biar nanti dia yang beres-beres, cuci piring. Kan di rumah juga nggak ada kerjaannya.”

Saya langsung syok. Rasanya ingin protes saat itu juga, tapi ya sudahlah—saya memilih pasrah. Rencana tidur siang saya pun langsung pupus.

Biring yang mendengar itu langsung tersenyum sumringah.
“Iya, Hel. Tinggal di sini aja ya. Nanti biring kasih THR.”

Jujur saja, kata THR sedikit menaikkan semangat saya. Sedikit saja, ya.

Saya pun akhirnya ikut membantu di dapur. Sebenarnya saya tidak sendirian; ada satu orang yang membantu, tapi hanya fokus memasak.

Sementara saya bertugas di bagian yang lain.

Begitu sampai di wastafel, saya langsung terdiam. Tumpukan piring dan wajan kotor menggunung. Rasanya seperti melihat gunung kecil yang harus saya taklukkan.

Baiklah, saya mulai dari kloter pertama—piring bekas memasak dan makan kami tadi.

Belum selesai, tamu baru datang lagi. Saya ikut membantu para bibi membawa makanan ke ruang tamu, membagikannya kepada para tamu, lalu kembali ke dapur.

Begitu tamu selesai makan, piring-piring kotor kembali menumpuk. Saya angkat lagi, cuci lagi.

Bawa makanan, angkat piring, cuci piring.
Bawa makanan, angkat piring, cuci piring.

Siklusnya terulang terus seperti itu. Sudah begitu, di dapur kursinya pun terbatas dan sudah diduduki oleh bibi-bibi saya, mau tidak mau saya duduk di lantai berminyak.

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di luar, hujan mulai turun.

Biring sempat bercanda mengajak saya menginap. Bukannya tidak mau, tapi saya sudah membayangkan kerepotannya: harus meminjam baju, sabun, dan segala macam. Rasanya terlalu ribet.

Akhirnya saya pamit pulang meski hujan masih turun gerimis.

Sebelum saya keluar rumah, biring memberikan saya THR. Lumayan, pikir saya, sambil mengucapkan terima kasih. Tidak lama kemudian, satu biring lagi ikut memberikan THR.

Lumayan juga. Rasanya kerja keras dari pagi sampai malam sedikit terbayar.

Begitu sampai di rumah, awalnya memang tidak terasa apa-apa. Tapi setelah benar-benar duduk dan istirahat, baru saya sadar: pinggang saya pegal bukan main.

Rasanya seperti habis kerja shift panjang di dapur restoran.

Dan yang paling lucu, ide “cemerlang” mama saya ini ternyata sempat berhasil beberapa kali. Namun, karena tahun ini saya tinggal di Batam, saya akhirnya sedikit merdeka dari ide barbar mama saya yang suka “menumbalkan” anaknya sendiri di hari Lebaran.

Jadi, buat kalian yang saat Lebaran tinggal makan, minum, ngobrol, terus pulang, berbahagialah kalian. Kalian tidak tahu pengorbanan emak-emak atau bahkan perempuan-perempuan tangguh di dapur yang pinggangnya nyaris encok!