Hayuning Ratri Hapsari | Rahel Ulina Br Sembiring
Ilustrasi membawa plastik kecil untuk menampung sampah di Jepang (Nano Banana/Gemini AI)
Rahel Ulina Br Sembiring

Di sela-sela waktu mengajar baru-baru ini, saya sempat terlibat obrolan santai dengan salah satu murid saya. Kami membahas satu isu yang sebenarnya sudah sering digelorakan, tapi eksekusinya sering kali macet: gaya hidup minim sampah atau less waste.

Ketika saya bertanya bagaimana cara sederhana yang bisa kita lakukan, jawaban si murid justru di luar dugaan.

Alih-alih bicara teori rumit yang ada di buku pelajaran, dia dengan spontan berkata, "Kuncinya hidup kayak orang Jepang, Miss. Orang Jepang itu selalu bawa kantong plastik ke mana-mana di tasnya buat nampung sampah mereka dulu."

Kalimat sederhana dari seorang anak sekolah itu seketika menampar saya. Di saat orang dewasa sering kali sibuk berdebat dan mencari kambing hitam atas masalah lingkungan, anak muda justru bisa melihat solusi praktis yang sangat dekat dengan keseharian.

Kalau kita perhatikan, keluhan klasik yang paling sering terdengar dari masyarakat kita saat kedapatan membuang sampah sembarangan adalah: "Habisnya di sini jarang ada tempat sampah umum!"

Ketiadaan fasilitas akhirnya dijadikan pembenaran mutlak untuk melempar bungkus makanan ke pinggir jalan, menyelipkan tisu bekas di sela-sela kursi bioskop, atau menyembunyikan botol plastik di dalam pot tanaman kota. Kita telanjur memiliki mindset bahwa sampah adalah urusan pemerintah atau petugas kebersihan, bukan urusan si penghasil sampah.

Di sinilah kita perlu menengok apa yang dibilang murid saya tadi tentang Jepang. Jika kamu pernah berkunjung ke sana, kamu mungkin akan terkejut menemukan fakta bahwa di sepanjang jalanan Tokyo atau Osaka, tempat sampah publik itu sangat langka.

Sejak tragedi gas sarin pada tahun 1995, pemerintah Jepang sengaja memangkas keberadaan tempat sampah di area publik demi alasan keamanan.

Namun, apakah kota mereka menjadi kotor? Sama sekali tidak. Rahasianya bukan karena petugas kebersihan mereka bekerja 24 jam, melainkan karena masyarakatnya memegang teguh prinsip tanggung jawab pribadi melalui kebiasaan membawa kantong plastik kecil di dalam tas mereka.

Di Jepang, ada budaya omoiyari atau tenggang rasa yang sangat kuat. Meninggalkan sampah di tempat umum dianggap sebagai tindakan egois yang mengganggu kenyamanan orang lain.

Oleh karena itu, sampah yang mereka hasilkan harus "ikut" bersama mereka sampai mereka menemukan tempat sampah yang tepat atau sampai mereka pulang ke rumah.

Menyesuaikan Kultur "Bawa Kantong" untuk Orang Indonesia

Mengadopsi kebiasaan ini ke dalam ekosistem Indonesia tentu membutuhkan penyesuaian. Kita tidak bisa langsung menuntut sistem pengelolaan sampah kita seideal di luar negeri, tapi kita bisa memulai revolusi ini dari dalam tas kita sendiri.

Berikut adalah beberapa saran praktis yang sangat bisa kita terapkan sehari-hari tanpa perlu ribet:

1. Sediakan "Posko Sampah Darurat" di Tas atau Jok Motor

Jangan hanya membawa totebag untuk belanja. Mulai hari ini, selipkan satu atau dua kantong plastik bekas (atau kantong kain kecil yang bisa dicuci) di dalam tas kerja, kantong jaket, atau bagasi motor.

Fungsinya satu: sebagai wadah penampung sementara. Sebelum kamu menemukan tempat sampah resmi, bungkus permen atau botol kopi yang kamu beli wajib masuk ke "posko darurat" ini dulu.

2. Tanamkan Prinsip "Sampahmu, Bayimu"

Sama seperti kita tidak akan pernah meninggalkan barang berharga seperti handphone atau dompet di sembarang tempat, kita harus mulai merasa "risih" dan merasa bersalah saat meninggalkan sampah kita di fasilitas umum.

Jika kita yang memulai membelinya, maka kita pula yang wajib bertanggung jawab mengawalnya sampai ke tempat pembuangan akhir.

3. Tawarkan Solusi pada Lingkaran Terdekat

Saat sedang nongkrong atau jalan-jalan bersama teman atau keluarga, kebiasaan ini bisa menular. Ketika melihat teman kamu mulai kebingungan mencari tempat sampah untuk membuang bungkus camilannya, jangan langsung menceramahi.

Cukup tawarkan solusi, "Sini, masukin ke kantong plastik di tas saya dulu, nanti kita buang bareng kalau ketemu tong sampah." Aksi nyata seperti ini jauh lebih efektif ketimbang teguran yang menghakimi.

Langkah Kecil dari Isi Kepala Generasi Muda

Menjaga lingkungan dan menerapkan prinsip less waste ternyata tidak melulu soal kampanye besar-besaran yang menghabiskan anggaran. Terkadang, solusinya justru datang dari kesadaran individu untuk mau sedikit repot demi kenyamanan bersama.

Dari obrolan singkat dengan murid saya, saya belajar satu hal penting. Berhenti mengeluh tentang kurangnya fasilitas jalanan adalah langkah awal yang bijak.

Kalau generasi muda saja sudah bisa berpikir taktis untuk mengantongi sampahnya sendiri demi menjaga kebersihan, masa kita yang lebih dewasa masih hobi melempar sampah dari kaca jendela mobil?

Mari mulai dari hal kecil: buka tas kamu, selipkan satu kantong plastik, dan jadilah bagian dari solusi, bukan polusi.