Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Ilustrasi berbelanja (Unsplash/Shutter Speed)
Fauzah Hs

Pemandangan unik sekaligus ironis belakangan ini menghiasi berbagai linimasa media sosial kita. Di tengah kecemasan domestik akibat nilai tukar Rupiah yang resmi menembus level psikologis Rp18.000 per Dollar Amerika Serikat, pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar Indonesia justru ramai didatangi oleh pelancong asing.

Khususnya warga negara Malaysia, baru-baru ini kedatangan mereka menjadi perbincangan hangat karena fenomena memborong dan berbelanja aneka produk lokal dalam jumlah besar. Bagi mereka, berlibur dan menghabiskan uang di Indonesia saat ini terasa seperti menemukan surga diskon raksasa. Lembaran Ringgit yang mereka miliki mendadak punya kekuatan beli berkali-kali lipat lebih perkasa karena nilai tukar mata uang kita yang sedang terdepresiasi sangat dalam.

Sobat Yoursay, fenomena serbuan turis tetangga ini sekilas tentu terbaca sebagai sebuah berita bagus yang membawa angin segar bagi sektor pariwisata dan para pelaku UMKM. Sektor perhotelan, kuliner, hingga pusat kerajinan tangan mendapatkan suntikan dana segar secara langsung dari kantong-kantong turis asing.

Namun, jika kita mau menilik isu ini dari kacamata yang lebih kritis, ada rasa getir di balik kegembiraan semu tersebut. Menjadikan negara kita "murah" di mata bangsa lain akibat ambruknya nilai mata uang sendiri bukanlah sebuah prestasi ekonomi yang patut dirayakan dengan tepuk tangan meriah. Ini adalah tamparan keras yang memperlihatkan betapa rapuhnya daya saing finansial kita di tingkat regional.

Di satu sisi, turis dari Malaysia datang dengan senyum lebar karena harga baju, tas, hingga makanan di Indonesia terasa sangat murah jika dikonversikan ke mata uang mereka. Di sisi lain, warga lokal kita sendiri justru sedang menjerit karena harga barang-barang pokok yang sama perlahan tapi pasti merangkak naik akibat hantaman inflasi barang impor.

Sobat Yoursay, ini yang dinamakan ketimpangan daya beli. Sesuatu yang dianggap sebagai "diskon murah meriah" oleh warga asing, sejatinya adalah barang yang kian sulit dijangkau oleh kantong masyarakat jatah pekerja lokal yang upahnya tidak ikut naik mengikuti kenaikan kurs mata uang global.

Jika pemerintah, melalui pernyataan-pernyataan defensif Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, terus-menerus berlindung di balik narasi bahwa fundamental ekonomi kita masih aman dan sehat, maka fenomena belanja turis ini berisiko dijadikan tameng pembenaran yang keliru.

Pemerintah tidak boleh memanfaatkan ramainya kunjungan wisata belanja ini sebagai pemanis berita untuk menutupi absennya langkah mitigasi moneter yang konkret. Menghidupkan ekonomi hanya dengan mengandalkan murahnya nilai tukar adalah strategi jangka pendek yang sangat berbahaya.

Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya intervensi struktural untuk memperkuat kembali nilai Rupiah, kita secara tidak sadar sedang menurunkan kelas bangsa ini menjadi sekadar "pasar loak" yang murah bagi negara-negara tetangga.

Kehadiran para turis yang memborong barang belanjaan memang memberikan keuntungan cepat bagi sebagian pedagang di hilir, namun tidak akan mampu menambal kerugian besar di sektor industri hulu yang sedang megap-megap akibat pembengkakan biaya produksi komponen impor.

Oleh karena itu, menjadikan momentum serbuan turis belanja ini sebagai bahan refleksi bersama adalah langkah yang sangat penting. Sobat Yoursay, kita tentu senang menyambut kedatangan para wisatawan dengan keramahan khas Indonesia, namun kita juga harus tetap kritis menuntut pertanggungjawaban dari para pemangku kebijakan.

Kita membutuhkan solusi jangka panjang yang mampu mengembalikan keperkasaan Rupiah agar kita bisa berdiri tegak sejajar dengan negara-negara tetangga, bukan karena kita dicintai sebab harga diri bangsa kita sedang bisa dibeli dengan harga murah.

Viralnya video warga Malaysia yang memborong barang di pusat perbelanjaan kita adalah bukti nyata yang memperlihatkan posisi ekonomi Indonesia di mata dunia saat ini. Pemerintah harus segera menyudahi retorika optimisme semu dan mulai mengambil tindakan nyata untuk menstabilkan kurs mata uang harian.

Sobat Yoursay, mari kita terus kawal pergerakan ekonomi ini dengan jeli. Kita semua berharap agar ke depan, para pelancong asing datang ke Indonesia karena mereka kagum pada kualitas dan nilai budaya bangsa kita, bukan semata-mata karena mereka sedang memanfaatkan momentum lemahnya nilai tukar Rupiah kita yang sedang berada di dasar jurang.