Siapa sih yang tidak senang mendengar kata "gratis"? Di negeri ini, kata gratis itu ibarat magnet. Begitu pemerintah menggaungkan program sekolah gratis lewat skema Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), jutaan orang tua bernapas lega. Bayangan anak bisa sekolah sampai tinggi tanpa perlu pusing memikirkan tagihan bulanan langsung menari-nari di kepala. Tapi, apakah benar-benar gratis? Spoiler alert: Ternyata gratis di sini punya syarat dan ketentuan yang lebih rumit daripada promo diskon di marketplace.
Mari kita jujur-jujuran. SPP atau iuran bulanan memang mungkin sudah nol rupiah di banyak sekolah negeri. Namun, begitu kita melangkah masuk ke dalam ekosistemnya, kita bakal bertemu dengan yang namanya hidden cost alias biaya tersembunyi. Fenomena ini ibarat masuk ke taman bermain yang tiket masuknya gratis, tapi mau naik ayunan bayar, mau duduk di bangku bayar, bahkan napas pun rasanya perlu ada biaya administrasinya.
Titik awal labirin ini biasanya dimulai dari seragam. Oke, sekolahnya gratis, tapi kain seragamnya? Wah, itu cerita lain. Sering kali orang tua diarahkan untuk membeli paket kain di koperasi sekolah dengan harga yang—kalau dibandingkan dengan harga pasar—selisihnya bisa buat makan satu minggu.
Belum lagi urusan buku paket. Meski ada perpustakaan, entah kenapa setiap tahun selalu ada "buku sakti" baru atau LKS (Lembar Kerja Siswa) yang wajib dimiliki agar bisa mengerjakan tugas. Kalau tidak beli? Siap-siap saja si anak merasa tersisih karena tidak punya pegangan yang sama dengan teman-temannya. Ini bukan lagi soal edukasi, tapi soal cara bertahan hidup di tengah tekanan psikologis.
Lalu kita masuk ke bagian paling tricky: Sumbangan Sukarela. Secara bahasa, sukarela itu artinya seikhlasnya, tanpa paksaan. Namun dalam praktiknya, sering kali ada nominal minimal yang ditentukan. Atau lebih halus lagi, diumumkan di grup WhatsApp paguyuban orang tua dengan daftar siapa saja yang sudah bayar. Tekanan sosial ini jauh lebih ampuh daripada debt collector.
Uangnya buat apa? Katanya untuk perbaikan AC, bayar guru honorer, atau renovasi pagar. Bukankah itu seharusnya tugas negara lewat anggaran pendidikan 20%? Di sini orang tua seolah dipaksa menjadi "pahlawan devisa" dadakan untuk menambal lubang-lubang anggaran yang entah bocor dari mana.
Fenomena terbaru yang makin bikin geleng-geleng kepala adalah maraknya prosesi wisuda di tingkat TK, SD, hingga SMP. Dulu, wisuda itu sakral bagi mereka yang sudah lulus kuliah. Sekarang? Anak lulus TK saja sudah harus sewa toga, sewa gedung hotel, dan bayar paket foto studio. Biayanya bisa mencapai jutaan rupiah. Inilah yang saya sebut sebagai hidden cost berbasis gengsi. Sekolah seolah menjadi ajang pamer kemewahan seremonial, padahal inti dari sekolah adalah literasi dan karakter, bukan seberapa tegak toga yang dipakai saat sesi foto.
Jangan lupakan juga tuntutan zaman. Sekarang serba digital; tugas dikumpul lewat aplikasi, ujian pakai laptop. Di satu sisi, ini adalah transformasi digital yang keren. Tapi di sisi lain, bagi keluarga yang untuk makan saja masih pas-pasan, membeli laptop atau sekadar kuota internet setiap bulan adalah perjuangan berdarah-darah. Negara memberikan akses sekolah gratis, tapi tidak memberikan infrastruktur pendukung yang merata. Akhirnya, pendidikan berkualitas seolah hanya milik mereka yang punya gadget mumpuni.
Jadi, apakah sekolah gratis itu mitos? Secara teknis mungkin tidak, tapi secara praktis, ini adalah simplifikasi yang berbahaya. Kita terjebak dalam labirin biaya yang polanya tidak pernah jelas. Orang tua dipaksa menjadi kreatif untuk menutupi biaya-biaya yang seharusnya sudah di-cover oleh negara.
Pemerintah perlu lebih dari sekadar jargon "Sekolah Gratis". Kita butuh transparansi total terhadap Dana BOS dan pengawasan ketat terhadap pungutan-pungutan kreatif di level sekolah. Jangan sampai sekolah gratis hanya jadi kosmetik politik, sementara di balik layar, orang tua masih harus mengurut dada setiap kali ada pesan masuk dari grup wali murid. Pendidikan adalah hak dasar, bukan layanan berlangganan dengan biaya tambahan yang tersembunyi. Sudah saatnya kita menuntut agar "gratis" benar-benar berarti tanpa beban, bukan sekadar tanpa SPP.
Baca Juga
-
Review Jujur Dilan ITB 1997: Apakah Layak Ditonton atau Hanya Mengandalkan Nostalgia?
-
Review Film Monster: Refleksi Diri tentang Prasangka Kita pada Orang Lain
-
Review Film Salmokji: Whispering Water, Ketika Air Menjadi Pintu Kematian!
-
Ulasan Film My Father's Shadow: Narasi Surealis Tentang Identitas Bangsa
-
Kupeluk Kamu Selamanya: Sebuah Refleksi Kasih Tanpa Batas, Ruang, dan Waktu
Artikel Terkait
-
Sentilan DPR di Hardiknas 2026: Jangan Sampai Pendidikan Berkualitas Hanya Milik Orang Kota
-
Pendidikan untuk Perempuan: Kunci Memutus Rantai Ketimpangan, Sudah on Track?
-
Tiga Gagasan Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang Dipertanyakan Penerapannya
-
Tak Ditemui Pemerintah karena Demo di Patung Kuda, Massa Mahasiswa Bubarkan Diri Janji Balik Lagi
-
BNI Konsisten Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Beasiswa Nasional
Kolom
-
Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Marsinah: Sejarah yang Terasa Berulang
-
Pentingnya Sebuah Kesadaran: Menilik Teguran Kepada Konten Kreator di IKEA
-
Negara Sibuk Urus Minat Baca, tapi Lupa Membangun Ruang untuk Saling Bicara
-
Pendidikan untuk Perempuan: Kunci Memutus Rantai Ketimpangan, Sudah on Track?
-
Fenomena Melihat Hantu: Antara Halusinasi atau Cuan yang Harus Dieksekusi?
Terkini
-
Era Baru Smartphone: 5 HP 2026 dengan Daya Tahan 3 Hari dan Performa Ngebut
-
Dari Carnaby Street ke New York: Realitas yang Menampar dalam The Look
-
Sinopsis Lets Begin Again, Drama Thailand Dibintangi Namtarn Pichukkana
-
Kulit Kusam Bikin Kurang Pede? Ini 5 Rahasia Body Scrub Sea Salt untuk Kulit Glowing!
-
Anti-Basah! 5 Deodoran Roll On Agar Ketiak Kering Seharian