Setiap Ramadan datang, ada perasaan yang selalu sama: rindu. Rindu pada suasana yang lebih tenang, lebih khusyuk, dan lebih dekat dengan Tuhan. Bagi saya, Ramadan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah, tetapi sebuah ruang batin yang terasa berbeda dari bulan-bulan lainnya. Ada semacam ketenangan yang pelan-pelan merayap, seperti udara dingin setelah hujan yang jatuh di halaman rumah.
Kerapkali, rasa rindu itu sudah muncul bahkan sebelum Ramadan tiba. Ketika bulan Sya’ban mulai beranjak, ada semacam perasaan menunggu yang sulit dijelaskan. Seperti seseorang yang sudah lama menantikan kedatangan tamu istimewa. Hujan yang turun di sore hari, suasana yang sedikit muram, justru membuat kerinduan itu terasa semakin nyata. Seolah-olah alam ikut memberi tanda bahwa bulan yang penuh kesyahduan itu segera datang.
Namun Ramadan 1447 Hijriah yang saya rasakan belakangan ini tidak selalu sepenuhnya tenang. Di satu sisi, saya menikmati momen-momen ibadah, sujud yang lebih lama, doa yang lebih dalam, dan malam yang terasa lebih sunyi. Tapi di sisi lain, dunia di luar sana terus bergerak dengan segala hiruk pikuknya. Televisi, ponsel, dan media sosial hampir setiap hari menampilkan berita tentang konflik dan perang di berbagai tempat.
Di situlah perasaan saya sering terbelah. Ketika mencoba khusyuk dalam doa, tiba-tiba ingatan saya melayang pada berita-berita yang baru saja saya baca. Tentang anak-anak yang kehilangan rumahnya, tentang para ibu yang kehilangan anaknya, dan tentang kota-kota yang berubah menjadi puing. Di satu tempat orang sedang menikmati hidangan sahur bersama keluarga, sementara di tempat lain ada orang yang bahkan tidak tahu apakah mereka masih bisa melihat matahari esok hari.
Bagi saya, Ramadan akhirnya menjadi ruang perenungan yang lebih luas. Ia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menyadari bahwa dunia ini tidak selalu baik-baik saja. Ketika saya menadahkan tangan untuk berdoa, sering kali yang terlintas bukan hanya keinginan pribadi, tetapi juga harapan agar penderitaan di berbagai belahan dunia segera berakhir. Perang segera usai, dan dunia kembali damai.
Ada kalanya saya merasa bahwa Ramadan menghadirkan dua jenis air mata. Yang pertama adalah air mata haru, air mata yang jatuh ketika hati merasa begitu dekat dengan Tuhan. Air mata yang muncul saat membaca doa, mendengar lantunan ayat suci, atau ketika malam terasa begitu sunyi dan damai.
Namun ada juga air mata yang lain, air mata karena empati. Air mata ketika melihat penderitaan orang lain yang bahkan tidak kita kenal. Ketika melihat wajah anak-anak yang hidup di tengah konflik, atau para ibu yang kehilangan tempat bersandar. Air mata itu mengingatkan saya bahwa kemanusiaan seharusnya tidak berhenti pada batas negara atau agama.
Ramadan kali ini menjadi pengingat bahwa ibadah tidak hanya berhenti pada sajadah. Ia juga hidup dalam rasa peduli, dalam doa yang melampaui kepentingan diri sendiri, dan dalam kesadaran bahwa kita semua terhubung oleh nasib yang sama sebagai manusia.
Karena itu, setiap kali Ramadan datang, saya selalu merasa sedang berada di dua ruang sekaligus: ruang sujud yang penuh ketenangan, dan ruang dunia yang dipenuhi kabar duka. Di antara keduanya, saya hanya bisa berharap bahwa doa-doa yang dipanjatkan pada bulan suci ini benar-benar sampai ke langit, terbang tinggi membawa harapan bagi mereka yang sedang kehilangan ketenangan.
Bagi saya, itulah makna Ramadan kali ini: tak ubahnya sebuah perjalanan batin yang berada di antara sujud yang khusyuk dan derasnya berita perang.
Baca Juga
-
Tecno Spark 50S 5G Resmi Meluncur, Ponsel Terjangkau dengan Fitur FreeLink yang Menarik
-
Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet
-
Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua
-
Buku Revolusi Nuklir: Menjelajahi Masa Depan dan Keganjilan Hidup Manusia
-
Laptop REDMI Book 16 2027 Hadir dengan Numeric Keypad,Baterai 72Wh, dan Layar 120Hz
Artikel Terkait
-
Analisis Militer: Iran Pakai Strategi 'Vietnam Kedua' yang Bikin AS Putus Asa
-
Donald Trump Naik Pitam, Keir Starmer Bersikeras Inggris Ogah Bantu AS Lawan Iran
-
Hidup di Garis Depan Perang! Kakek Israel Ogah Mengungsi: Suara Rudal seperti Drum Orkestra
-
Trump Ancam Serang Kuba, Presiden Miguel Daz Canel Siapkan 'Neraka' untuk Pasukan AS
-
AS Desak Militer Jepang, Korsel, China hingga Eropa Buka Selat Hormuz, Realistis atau Sia-sia?
Kolom
-
Dijejali Jargon NKRI tapi Warga Perbatasan Melarat: Di Mana Keadilan Itu?
-
Melawan Tekanan Jam Sosial: Hak Perempuan Menentukan Pernikahan dan Masa Depan
-
Bahasa Indonesia Mendunia, tapi Gagal di Pasar Kerja? Ini PR Besarnya!
-
Pembalut Kena Pajak, di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?
-
Indonesia Tak Cukup Mencetak Insinyur, Kita Harus Membangun Industrinya
Terkini
-
Tampil Pede! 5 Plump Lip Gloss untuk Bibir Penuh dan Berkilau
-
Ulasan Film Laut Bercerita: Ketika Suara Demokrasi Dibungkam dengan Paksa!
-
Mengupas Kisah Unik dan Spektakuler di Serial Love, Death & Robots Volume 3
-
Cinta dan Makna Sebuah Pilihan: Ulasan Novel Islammu Adalah Maharku
-
Rilis French Kissing! AND2BLE Bahas Rasa Penasaran dan Ketertarikan Intens