Mulai dari halaman pertama, sudah tampak bahwa buku Jika Lukamu Sedalam Laut, Ikhlasmu Harus Seluas Langit karya Hadani yang menggunakan nama pena patahan.ranting ini bukan sekadar kumpulan tulisan tentang patah hati.
Lebih dari itu, buku ini lebih menyerupai seorang kawan yang duduk di samping kita saat dunia terasa sunyi. Ia tidak banyak menghakimi, tidak sibuk memberi ceramah, tetapi perlahan mengajak kita melihat luka dari sudut pandang yang lebih dewasa.
Membaca buku setebal 164 halaman terbitan Media Kita ini seperti bercermin pada masa-masa ketika hidup terasa abu-abu. Ada saat komunikasi yang dahulu hangat tiba-tiba berubah menjadi sunyi. Ada orang yang perlahan menjauh tanpa penjelasan. Ada harapan yang ternyata berhenti di tengah jalan. Semua perasaan itu ditulis dengan bahasa yang puitis, tetapi tetap sederhana sehingga mudah dipahami.
"Yang digenggam sekuat hati pun akan tetap terlepas bila bukan menjadi takdirnya. Yang dijaga sebaik-baiknya pun akan tetap hilang bila sudah habis masanya." (Halaman 3).
Kalimat tersebut sederhana, tetapi terasa menampar. Saya menangkap pesan bahwa tidak semua kehilangan terjadi karena kita kurang berusaha. Ada hal-hal yang memang selesai karena waktunya telah usai. Kesadaran seperti ini membantu kita berhenti menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang memang berada di luar kendali.
Tema besar buku ini berkisar tentang kehilangan, kerinduan, kepercayaan yang hancur, dan perjuangan menemukan keikhlasan. Patahan.ranting tidak menawarkan resep instan agar pembaca segera melupakan seseorang. Sebaliknya, ia mengajak pembaca mengenali luka lebih dahulu sebelum mencoba menyembuhkannya.
Salah satu analogi yang paling saya sukai adalah ketika penulis mengibaratkan luka seperti tubuh yang terluka.
"Kamu akan tetap kebasahan bila kamu tak menghindar dari derasnya hujan dan mencari tempat berteduh. Kamu akan tetap kedinginan bila kamu tak berpindah dari bawah langit malam dan menghangatkan diri di dekat perapian. Demikian pun luka, kamu akan tetap merasa kesakitan bila kamu tak pernah meneteskan obat dan membalutnya perlahan."
Perumpamaan tersebut terasa sangat membumi. Kita sering berharap waktu akan menyembuhkan semuanya, padahal luka hati juga membutuhkan usaha untuk dirawat. Buku ini mengingatkan bahwa sembuh bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan sesuatu yang diupayakan.
"Hanya ada satu hal yang aku hapus setelah kamu pergi, bukan rasa sayangku, melainkan sebait doa untuk memilikimu. Selebihnya masih sama, masih berharap kamu bahagia." (Halaman 53).
Saya menyukai petikan ini karena menunjukkan bahwa ikhlas bukan berarti membenci orang yang pernah kita cintai. Ikhlas justru tampak ketika kita mampu melepaskan keinginan memiliki, tetapi tetap mendoakan kebahagiaannya. Menurut saya, itulah bentuk cinta yang paling dewasa.
Semakin jauh membaca, saya merasa buku ini bukan hanya berbicara mengenai hubungan asmara. Banyak pesannya yang juga relevan untuk kehilangan sahabat, keluarga, kesempatan, bahkan impian yang tidak sempat terwujud. Penulis berhasil memperluas makna kehilangan sehingga pembaca dapat menemukan pengalaman masing-masing di dalamnya.
"Akan ada saatnya, dia yang datang memilih pergi. Bukan karena tak ingin tinggal, melainkan karena memang waktunya bersamamu sudah selesai." (Halaman 62).
Saya memaknai kalimat ini sebagai pengingat bahwa setiap orang hadir membawa perannya masing-masing. Ada yang tinggal lama, ada pula yang hanya datang untuk mengajarkan sesuatu sebelum akhirnya pergi. Menerima kenyataan tersebut memang tidak mudah, tetapi justru di situlah proses bertumbuh dimulai.
Buku ini juga berulang kali mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak boleh digantungkan pada orang lain.
Penulis menegaskan agar kita tidak menunggu seseorang datang membawa penawar, melainkan meracik penawar itu sendiri. Jangan menunggu orang lain menghadirkan kebahagiaan, tetapi jemputlah kebahagiaan tersebut dengan langkah kita sendiri. Pesan ini terasa sangat relevan di tengah banyaknya orang yang menggantungkan harga dirinya pada validasi orang lain.
"Jangan pernah memaksakan seseorang untuk tinggal. Bebaskanlah dia berkelana ke mana pun dia suka. Karena jika memang dirimu ditakdirkan sebagai rumah, kepadamu juga dia akan pulang." (Halaman 85).
Bagi saya, kalimat tersebut adalah definisi paling sederhana tentang keikhlasan. Rumah tidak pernah mengejar siapa pun. Rumah hanya tetap berdiri, hangat, dan menerima siapa yang memang ditakdirkan kembali.
Keunggulan utama buku ini terletak pada gaya bahasa Hadani. Ia mampu menyusun kalimat-kalimat puitis tanpa terdengar rumit. Hampir setiap beberapa halaman saya menemukan kutipan yang layak diberi penanda karena begitu menyentuh. Tidak heran apabila banyak kalimat dalam buku ini beredar luas di media sosial.
Selain itu, buku ini juga berhasil meningkatkan kesadaran pembaca mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental. Penulis mengajak kita memahami emosi, menerima kesedihan, mengelola kehilangan, hingga perlahan membangun kembali kepercayaan terhadap hidup. Rasanya seperti ditemani seseorang yang memahami luka tanpa memaksa kita segera sembuh.
Meski demikian, menurut saya masih ada satu kekurangan yang cukup terasa, yakni desain sampulnya. Dominasi warna hitam dengan tipografi sederhana kurang mampu merepresentasikan isi buku yang sebenarnya hangat, penuh harapan, dan memberikan cahaya bagi pembaca yang sedang berada dalam masa-masa gelap. Seandainya suatu saat diterbitkan ulang dengan ilustrasi yang lebih hidup, saya yakin daya tariknya akan semakin kuat.
Walhasil, buku ini mengajarkan bahwa patah hati bukanlah akhir perjalanan. Luka memang bisa sedalam laut, tetapi hati manusia juga mampu belajar seluas langit. Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi kehilangan. Namun, setiap orang memiliki kesempatan untuk bangkit, memaafkan keadaan, dan kembali menemukan dirinya.
Identitas Buku
- Judul: Jika Lukamu Sedalam Laut, Ikhlasmu Harus Seluas Langit
- Penulis: Hadani (nama pena Patahan Ranting)
- Penerbit: Media Kita
- Cetakan: XIV, 2025
- Tebal: 156 Halaman
- ISBN: 978-979-794-687-6
- Genre: Fiksi/Romance
Baca Juga
-
5 HP Murah Baterai 6.000 mAh Awet Dipakai Seharian, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri: Tak Semua Rumah Menjadi Tempat Pulang
-
Puisi Pahlawan dan Tikus: Menyelami Kritik Sosial yang Sarat Spiritualitas
-
Surga Tersembunyi di Jalur Pantura Situbondo:Catatan Perjalanan ke Utama Raya Beach
-
Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?: Teman Anak-Anak yang Kehilangan Ayah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Gran Turismo: Kisah Inspiratif Seorang Gamer Menuju Dunia Balap Profesional
-
Ulasan Film Sajen Satu Suro: Teror Gaib Sesajen Pembawa Bencana dan Petaka!
-
Review Serial A Shop for Killers Season 2: Drama Pertarungan Paling Cadas!
-
Naoko Karya Keigo Higashino: Saat Jiwa Seorang Ibu Hidup dalam Tubuh Putrinya
-
WIND UP: The Movie Membuktikan Olahraga Bukan tentang Kemenangan Semata
Terkini
-
Standar Pendidikan Terus Naik, Standar Etika Politik Jalan di Tempat
-
Antrean iPhone Tidak Bisa Menjadi Ukuran Kesejahteraan Indonesia
-
Soft Life Makin Populer: Saat Gen Z Lebih Pilih Hidup Tenang dan Seimbang
-
Belanja Digital Gen Z: Saat Kebutuhan dan Keinginan Semakin Sulit Dibedakan
-
BGN Rilis Aplikasi Reviu MBG: Apakah Digitalisasi Menjawab Akar Masalah?