Sobat Yoursay, pernah nggak sih kamu merasa harus hemat banget karena tanggal tua, tapi tiba-tiba teman ngajak nongkrong di kafe mahal dan kamu bilang, "Ah, gampang, nanti diatur"? Di satu sisi kamu pengen saldo aman, tapi di sisi lain gengsi dan keinginan buat "nyenengin diri sendiri" nggak bisa ditahan. Ujung-ujungnya? Kamu pusing sendiri pas melihat mutasi rekening di akhir bulan.
Ternyata, dilema "pengen hemat tapi pengen belanja" ini bukan cuma masalah kita rakyat jelata. Kalau kita baca hasil wawancara terbaru Presiden Prabowo dengan Bloomberg, rasanya fenomena "nanti diatur" ini naik kelas ke level negara.
Di sebuah mansion mewah di Hambalang, sambil menikmati udara pegunungan, Pak Prabowo dengan santai cerita soal hobinya berenang 30 menit setiap hari buat cari inspirasi. Beliau tampak sangat percaya diri, mengutip Shakespeare sampai Deng Xiaoping. Tapi di saat yang sama, di luar sana, layar monitor para investor di bursa efek lagi merah merona. Rupiah kita lagi sesak napas, dan lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch lagi kasih outlook negatif untuk Indonesia.
Pak Prabowo bilang pasar nggak paham dia. Katanya, "Gimana bisa seorang militer nggak ngerti ekonomi?" Beliau menegaskan kalau dirinya adalah seorang pragmatis—alias orang yang cari solusi paling masuk akal, tanpa terjebak ideologi.
Tapi, benarkah ini murni pragmatisme? Atau jangan-jangan ini adalah bentuk inkonsistensi yang dibalut kata-kata manis?
Pak Prabowo punya mimpi besar, yaitu ekonomi tumbuh 8%. Caranya? Memberantas korupsi dan efisiensi BUMN. Oke, kita setuju banget soal itu. Tapi, mari kita lihat angkanya.
Beliau bersikeras menjalankan program Makan Bergizi Gratis yang biayanya nggak main-main. Di saat yang sama, beliau janji mau jaga defisit anggaran di bawah 3% (biar kelihatan disiplin fiskal). Dan yang lebih ajaib lagi, beliau mau hapus subsidi BBM pelan-pelan tapi nggak mau harga bensin naik.
Coba pikirkan. Bagaimana caranya kita belanja lebih banyak, tapi pengeluaran tetap dijaga, sementara sumber pemasukan (seperti harga BBM) nggak boleh menyentuh kantong rakyat? Masalahnya, nggak sesederhana itu. Ini bukan cuma soal optimisme, tapi soal matematika dasar yang dipaksa tunduk pada kemauan politik.
Ada satu hal menarik dari wawancara itu. Pak Prabowo sempat menyebut bahwa para pengamat di lembaga rating itu cuma manusia biasa yang bisa salah. Beliau bahkan menyalahkan "idiotisme" pejabat lama yang bikin saham kita anjlok. Singkatnya, kalau pasar panik, itu karena pasar yang nggak ngerti. Kalau ekonomi lesu, itu karena orang lain yang nggak kompeten.
Belum lagi soal Danantara, superholding baru yang digadang-gadang bakal mengelola aset US$1 triliun. Pak Prabowo yakin lembaga ini bakal kasih untung gede tanpa skandal. Tapi, bukankah ini mirip pisau bermata dua? Di satu sisi, pengelolaan BUMN jadi satu pintu. Di sisi lain, kekuasaan yang terlalu besar di satu tangan tanpa mekanisme check and balances yang kuat itu ibarat naruh semua telur dalam satu keranjang yang pegangannya lagi goyang.
Kita semua pengen Indonesia maju. Kita pengen korupsi hilang. Tapi pasar modal itu nggak pakai perasaan. Mereka nggak peduli seberapa jago seseorang mengutip Shakespeare kalau kepastian hukum dan hitung-hitungan anggarannya masih abu-abu.
Sobat Yoursay, mungkin kita mikir, "Ah, itu kan urusan orang kaya di bursa saham." Tapi ingat, kalau investor luar negeri kabur karena ngeri melihat "ketidakkonsistenan" kebijakan kita, dampaknya larinya ke kita juga. Harga barang naik, lapangan kerja susah, dan bunga cicilan jadi makin mahal.
Pragmatisme itu bagus kalau artinya fleksibel mencari jalan keluar. Tapi kalau pragmatisme dipakai buat menabrak aturan main ekonomi yang universal, itu namanya berjudi.
Sekarang coba deh kamu pikirkan, apakah gaya "serba bisa" dan "serba berani" Presiden Prabowo adalah obat yang selama ini Indonesia butuhkan untuk lari kencang? Ataukah kita sedang dibawa masuk ke dalam sebuah eksperimen besar yang kalau gagal, kita semua yang harus patungan bayar dendanya?
Bagaimana menurutmu, apakah optimisme Pak Prabowo ini menular ke kamu, atau justru bikin kamu makin was-was?
Baca Juga
-
Presiden Anti-Pesimis: Optimisme atau Sekadar Anti-Kritik?
-
Wawancara Presiden Prabowo dengan Bloomberg: Ambisi Pertumbuhan Ekonomi dan Optimisme
-
Mudik Adalah Privilege: Saat Rindu Terbentur Tiket dan Restu Keadaan
-
Whoosh ke Surabaya: Ambisi Melaju Kilat di Atas Tumpukan Utang Negara
-
Spiritual Burnout: Saat Semangat Ibadah Meredup di Ujung Ramadan
Artikel Terkait
-
Wawancara Presiden Prabowo dengan Bloomberg: Ambisi Pertumbuhan Ekonomi dan Optimisme
-
Prabowo Serukan Pakai Kompor dan Kendaraan Listrik, Ini Kata Pengamat
-
Sikap Dingin Iran dan Tantangan Berat Prabowo Menjadi Juru Damai di Timur Tengah
-
Dasco: Presiden Prabowo Berhasil Hapus Pasal 'Harus Akui Israel' di BoP
-
Bisakah Ekonomi Tumbuh Memperparah Krisis Iklim? Studi Terbaru Ungkap Jawabannya
Kolom
-
Mudik Bukan Sekadar Pulang, tapi Sekolah yang Sarat Nilai Kehidupan
-
Presiden Anti-Pesimis: Optimisme atau Sekadar Anti-Kritik?
-
Budaya Hampers Jelang Lebaran: Antara Silaturahmi, Gengsi, dan Tekanan Sosial
-
Mudik Adalah Privilege: Saat Rindu Terbentur Tiket dan Restu Keadaan
-
Menjinakkan Lapar Mata Saat Beli Takjil: Kita Semua Bisa Kok!
Terkini
-
Novel The Magicians Nephew: Petualangan Digory dan Dunia Narnia Terbentuk
-
Pengejaran Si Tanpa Mahkota di Novel Komet Karya Tere Liye
-
Novel Melangkah: Petualangan Epik dalam Balutan Mitologi Nusantara
-
Geger! Jennie BLACKPINK Jadi Headliner Lollapalooza 2026, K-Pop Dominasi Panggung Utama
-
Bukber di Kafe Vintage Kediri: Murah, Estetik, dan Penuh Cerita Tak Terduga