M. Reza Sulaiman | Fauzah Hs
Presiden Prabowo Subianto (Instagram/@prabowo)
Fauzah Hs

Sobat Yoursay, sudah sempat baca atau dengar poin-poin penting dari wawancara terbaru Presiden Prabowo dengan Bloomberg? Wawancara yang dilakukan di kediamannya di Hambalang ini menarik perhatian dunia internasional karena pesan-pesan kuat yang dikirimkan sang Presiden kepada pasar global.

Melalui sit-down pertamanya dengan media internasional sejak menjabat, Prabowo membedah visi besarnya untuk Indonesia sekaligus menjawab skeptisisme para pelaku pasar. Mulai dari ambisi pertumbuhan ekonomi 8% hingga pembentukan superholding Danantara, beliau tampak ingin menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya, Indonesia akan bergerak lebih cepat—meskipun pasar masih menunjukkan keraguan.

Antara Optimisme Presiden dan Skeptisisme Pasar

Dalam wawancara tersebut, Prabowo mengakui adanya "salah paham" antara dirinya dan dunia finansial. Beliau menyadari bahwa latar belakang militernya sering membuat analis bertanya-tanya tentang kemampuannya memahami ekonomi. Namun, beliau menepis kekhawatiran itu dengan menyatakan dirinya sebagai seorang pragmatis yang mencari solusi terbaik bagi rakyat, bukan seorang yang doktriner.

Kenyataannya, kondisi pasar saat ini memang sedang penuh tekanan. Indeks harga saham gabungan sempat menyentuh level terendah dalam delapan bulan terakhir, dan nilai tukar Rupiah berada di posisi yang cukup rentan. Ditambah lagi, lembaga pemeringkat kredit seperti Fitch dan Moody’s baru-baru ini menurunkan prospek (outlook) kredit Indonesia menjadi negatif.

Menanggapi hal tersebut, Prabowo tetap pada pendiriannya. Beliau menyebut para analis di perusahaan rating hanyalah manusia yang bisa salah. Beliau yakin bahwa seiring berjalannya waktu, para investor akan melihat fundamental Indonesia yang sebenarnya.

Danantara dan Ambisi Mengelola Aset US$1 Triliun

Salah satu poin paling penting dalam wawancara tersebut adalah peran Danantara, lembaga pengelola investasi baru yang kini membawahi seluruh perusahaan pelat merah. Prabowo menargetkan Danantara mampu memberikan imbal hasil hingga US$50 miliar per tahun pada akhir masa jabatannya.

Beliau membandingkan Danantara dengan keberhasilan sovereign wealth fund di Arab Saudi dan Qatar. Terkait kekhawatiran pasar bahwa Danantara akan menjadi "1MDB Jilid Dua" yang penuh skandal, Prabowo menegaskan bahwa lembaga ini akan menjadi institusi yang paling diawasi di Indonesia. Beliau ingin setiap inisiatif Danantara melalui pengujian komersial yang ketat untuk menghindari kerugian negara.

Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran investor mengenai potensi dominasi negara. Prabowo mengisyaratkan bahwa perusahaan yang merusak lingkungan atau melanggar hukum bisa kehilangan konsesi mereka saat berakhir, dan Danantara mungkin akan mengambil alih peran tersebut di masa depan.

Disiplin Fiskal di Tengah Program Masif

Persoalan anggaran juga menjadi sorotan. Prabowo berkomitmen untuk tetap menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan batas defisit anggaran di angka 3% dari PDB, kecuali dalam keadaan darurat. Tantangannya, beliau tetap teguh untuk tidak memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis yang menjadi janji kampanyenya.

Strategi yang ditawarkan adalah dengan mengalihkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai salah sasaran dalam waktu tiga tahun, tanpa menaikkan harga bensin bagi rakyat. Pasar masih menunggu rincian teknis bagaimana pengalihan subsidi ini bisa menutup celah anggaran tanpa memicu inflasi baru atau memperlebar defisit.

Kontroversi Bank Indonesia dan "Faktor Kepercayaan"

Prabowo juga memberikan jawaban langsung terkait kritik atas penunjukan keponakannya, Thomas Djiwandono, sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Investor sempat mempertanyakan independensi bank sentral dengan masuknya lingkaran dalam keluarga Presiden ke sana.

Beliau membela keputusan itu dengan alasan profesionalisme dan kepercayaan (trust). Prabowo mencontohkan sejarah Amerika Serikat saat John F. Kennedy menunjuk saudaranya sebagai Jaksa Agung, serta penunjukan Ho Ching di Temasek Singapura. Baginya, dalam posisi penuh tanggung jawab, pemimpin harus bekerja dengan orang-orang terbaik yang bisa ia percayai. Meski demikian, beliau menjamin bahwa Bank Indonesia akan tetap independen dan tidak akan mentoleransi malpraktik hukum di dalamnya.

Menanti Pembuktian "The Long Game"

Wawancara ini menunjukkan bahwa Prabowo sedang memainkan strategi jangka panjang (long game). Beliau meminta pasar untuk bersabar sementara pemerintahannya bekerja membenahi inefisiensi birokrasi, memberantas korupsi, dan mengonsolidasi kekayaan sumber daya alam di bawah kendali negara.

Prabowo mengidentifikasi bahwa masalah utama Indonesia bukanlah kurangnya kekayaan atau pendapatan, melainkan manajemen yang lemah dan pengawasan yang bolong. Beliau bertekad untuk "membangunkan elit Indonesia" dan menyingkirkan para koruptor yang menghambat kemajuan ekonomi.

Sobat Yoursay, wawancara Bloomberg ini menjadi panggung bagi Prabowo untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah nakhoda yang sangat percaya diri. Namun, seberapa jauh optimisme ini bisa meredam skeptisisme pasar global? Hanya waktu dan data ekonomi di kuartal-kuartal mendatang yang akan menjawabnya.

Coba deh pikirkan, apakah menurut Sobat Yoursay langkah tegas dan percaya diri ini sudah cukup untuk meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia sedang di jalur yang benar?