Menjelang Lebaran, melonjaknya harga bahan pokok menjadi fenomena yang nyaris terulang setiap tahun. Tahun ini, perhatian publik kembali tertuju pada daging sapi yang harganya terasa enggan kembali ke titik normal.
Bagi saya, gejala ini tidak bisa sekadar dibaca sebagai naik-turunnya angka di pasar, melainkan sebagai cermin bagaimana sistem pangan kita diuji pada momen paling sensitif dalam siklus konsumsi masyarakat.
Kalau dilihat dari data makro, sebenarnya kondisi pangan kita tidak sedang krisis. Stok daging dan beberapa bahan pokok lain sering dilaporkan aman, bahkan kadang disebut cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tapi anehnya, kenyataan di pasar justru berbeda. Harga tetap naik, bahkan melewati batas yang dianggap wajar.
Di titik ini, terasa ada jarak antara ketersediaan dan keterjangkauan. Dua hal ini seharusnya berjalan beriringan, tetapi kerap timpang.
Banyak orang bilang, wajar saja harga daging naik menjelang lebaran. Permintaan memang meningkat. Orang-orang masak lebih banyak, bikin hidangan khas, dan daging jadi salah satu bahan utama. Itu benar. Tapi kalau hanya karena permintaan naik, seharusnya harga tidak melonjak terlalu tinggi.
Menurut saya, masalahnya bukan cuma di situ. Justru yang sering luput diperhatikan adalah jalur distribusi. Barang mungkin ada, tapi perjalanan dari produsen ke pasar itu tidak selalu mulus. Ada ongkos transportasi, ada perantara, ada rantai yang panjang. Dan kadang setiap โtanganโ yang dilewati, biasanya ikut menambah biaya. Ujung-ujungnya, yang bayar ya konsumen.
Makanya tidak heran kalau harga di satu daerah bisa jauh lebih mahal dibanding daerah lain. Perbedaan ini kadang dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mengambil keuntungan lebih besar, apalagi saat permintaan sedang tinggi. Dalam kondisi seperti ini, harga bukan lagi murni soal pasar, tapi juga soal siapa yang bisa memainkan situasi.
Pemerintah biasanya merespons dengan mengadakan pasar murah. Langkah ini tentu membantu, apalagi bagi masyarakat yang benar-benar butuh harga lebih terjangkau. Setidaknya ada alternatif saat harga di pasar sudah terasa berat.
Tapi kalau dipikir-pikir, pasar murah ini seperti obat penurun panas. Ia bekerja saat masalah sudah muncul. Setelah itu, ya kembali lagi seperti semula. Tahun depan, kemungkinan besar cerita yang sama akan terulang lagi.
Kini, yang perlu dibenahi bukan hanya gejalanya, tapi sumber masalahnya. Distribusi yang lebih rapi, jalur yang lebih singkat, dan harga yang lebih transparan mungkin bisa jadi kunci supaya kenaikan harga tidak selalu berulang setiap menjelang hari besar.
Di sisi lain, kita sebagai konsumen juga punya peran. Menjelang Lebaran, acapkali muncul kebiasaan belanja berlebihan. Takut kehabisan, akhirnya beli lebih banyak dari yang dibutuhkan. Tanpa sadar, ini ikut mendorong permintaan naik secara tiba-tiba. Akibatnya, harga makin terdorong ke atas.
Padahal, kalau belanja dilakukan secukupnya dan lebih tenang, tekanan di pasar bisa sedikit berkurang. Tidak semua hal harus diborong dalam waktu bersamaan.
Yang juga sering dilupakan adalah kondisi setelah Lebaran. Banyak orang fokus pada harga sebelum hari raya, tapi lupa bahwa setelahnya juga penting. Setelah pengeluaran besar, daya beli biasanya menurun. Kalau harga belum juga stabil, beban rumah tangga bisa terasa lebih berat.
Bagi saya, dari semua ini ada satu hal yang jelas, yaitu ketahanan pangan itu bukan cuma soal stok tersedia. Lebih dari itu, soal apakah masyarakat bisa membeli dengan harga yang wajar dan mudah dijangkau.
Lebaran seharusnya jadi momen bahagia, bukan malah bikin pusing karena harga kebutuhan naik. Kalau setiap tahun kita terus menghadapi cerita yang sama, mungkin memang sudah saatnya kita tidak hanya sibuk mencari solusi cepat, tapi juga mulai membenahi sistemnya dari awal.
Kalau tidak, ya kita akan terus berada di lingkaran yang sama: harga naik, panik, ditenangkan sebentar, lalu terulang lagi.
Baca Juga
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Honor Pad X10 Mini Mengandalkan Layar 90 Hz, Bodi Metal, dan Baterai untuk Aktivitas Seharian
-
Tecno Spark 50S 5G Resmi Meluncur, Ponsel Terjangkau dengan Fitur FreeLink yang Menarik
-
Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet
-
Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua
Artikel Terkait
Kolom
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan
-
Anggaran MBG Membengkak, Apakah Semua Anak Benar-Benar Membutuhkannya?
-
Bukan Tak Peduli, Ketika Masyarakat Adat Takut Membela Tanahnya Sendiri
-
Kota Pelajar untuk Perantau, 32 Ribu Anak Malang Justru Tidak Sekolah
-
Mitos Self-Reward Liburan: Healing Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah Hidup
Terkini
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik
-
Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
-
Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!