Setiap kita menjalankan aktivitas sehari-hari, kita tidak hanya dituntut untuk memiliki etika, tetapi harus juga memiliki sebuah kesadaran dalam hidup. Kesadaran itu lahir dari rasa dan pemahaman dalam diri untuk menyikapi lingkungan sekitar. Dalam konteks ini, kita dapat menilik pemberitaan yang sedang dalam perbincangan, yakni seorang konten kreator yang ditegur oleh sesama pengunjung IKEA Alam Sutera.
Insiden tersebut terjadi karena ia dan rekannya tidak membereskan meja serta sisa makanan di restoran IKEA. Dengan adanya kejadian itu, maka menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya sebuah kesadaran dalam setiap aktivitas.
Kita dapat memahami bahwa pada dasarnya, setelah makan kita harus membereskan makanan kita sendiri, apalagi di tempat makan yang merupakan tempat umum, di mana tidak disediakan pelayan untuk membersihkan sampah makanan. Fakta yang terungkap bahwa IKEA menerapkan aturan self-service, di mana setiap pelanggan maupun konsumen memesan dan bertransaksi secara mandiri.
Dari kejadian tersebut, seharusnya konten kreator sudah memahami informasi sebelum berkunjung ke IKEA maupun melihat kebiasaan para pengunjung lainnya di sana agar tidak melakukan kegiatan sembarangan saja. Aturan kemandirian tersebut sebagai bentuk dari kita menanamkan kesadaran dalam hati dan pikiran; jikalau berkunjung ke suatu tempat, maka pelajari aturan yang ada.
Kesadaran yang ada dalam diri kita akan mengajak untuk lebih aktif dan bijaksana dalam menyikapi setiap kondisi dan perilaku yang ada di sekitar. Karena itu, rasa sadar wajib kita gunakan ke mana pun berada. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu dilarang, maka kesadaran kita akan membantu untuk tidak melanggarnya.
Begitu pun jika kita dalam situasi yang bahaya, maka kesadaran kita akan membantu agar tidak terjerembap dalam bahaya dan segera untuk menghindar. Jadi, kesadaran itu penting agar kita tidak melakukan sebuah kesalahan. Jangan sampai orang lain yang menyadarkan kita dengan sebuah sindiran, teguran, maupun ejekan. Hal tersebut akan membuat kita malu dan down.
Dari kejadian di IKEA, kita bisa melihat kata-kata yang sangat keras digunakan pengunjung lain untuk menegur si konten kreator. Kemarahan itu untuk menyadarkan agar segera membereskan meja, sisa makanan, dan sampah untuk dibuang pada tempatnya supaya tidak menghalangi pengunjung lain serta mencegah terjadinya lingkungan kotor dan tidak nyaman.
Pada dasarnya, kita tidak boleh mempertahankan budaya malas dalam kehidupan sehari-hari. Ketika malas, maka rezeki pun akan sulit dicapai. Kalau saya melihat, kejadian di IKEA merupakan bentuk dari kemalasan itu sendiri. Terlalu gampang untuk menyikapi sesuatu hal.
Ketika selesai makan, namun sisa makanan tidak dibereskan. Seandainya tidak ditegur, maka sisa makanan akan tetap di meja mereka makan dan itu akan menghambat pengunjung lain untuk makan pula. Tentu saja, itu namanya egois. Padahal, ketika kita mengunjungi sebuah tempat, mencari informasi dan aturan yang ada merupakan sebuah kewajiban.
Meskipun dalam pemberitaan disebutkan si konten kreator dan temannya sudah meminta maaf, tentu hal tersebut jadi pelajaran berharga agar tidak terjadi kesalahan yang sama. Kita tidak boleh malas dalam melakukan pekerjaan. Kita hidup sebagai kreator digital, maka kita harus berjuang dan rajin serta tidak melupakan apa yang menjadi kewajiban.
Self-service sudah sepantasnya kita bawa di mana pun berada, karena itu bagian dari etika dalam berkunjung. Sudah sepatutnya kita membiasakan diri untuk peka dan sadar terhadap situasi yang ada di sekitar kita. Jangan pernah abai.
Budaya malas harus kita buang jauh-jauh, meskipun sedang berada dalam kesibukan kerja. Dengan budaya yang rajin serta semangat dalam bekerja, maka itu yang akan membuat kita pun peka dan sadar terhadap situasi di lingkungan. Jangankan untuk peka membuang sisa makanan dan membereskannya, pada saat kita melihat secarik kertas di tanah pun kita akan sadar untuk membuangnya pada tempatnya.
Itulah bukti bahwa hidup dengan rajin akan memberikan dampak positif dan bermanfaat pada diri. Dan kondisi itu juga yang akan mengajarkan kita arti sebuah kebersihan dan kenyamanan. Jadi, semoga saja kita tetap membuka mata untuk melihat bahwa menyelesaikan hal-hal kecil terlebih dahulu itu penting, baru kemudian menyelesaikan hal-hal yang besar.
Baca Juga
-
Arogansi Pengendara dan Hilangnya Budaya Sabar: Saat Hak Pejalan Kaki di Jalan Raya Terabaikan
-
Waspada Sindikat Transnasional: Jangan Tergiur Janji Manis Kerja di Luar Negeri
-
Spanyol Dominan, Portugal Mengandalkan Ronaldo: Siapa yang Bakal Menang?
-
Hilangnya Habitat, Kematian Indro, dan Masa Depan Gajah Sumatera yang Terancam
-
Darurat Kesejahteraan Guru: Mengapa Negara Masih Membiarkan Pendidik Hidup Susah?
Artikel Terkait
-
5 Rekomendasi Mic Clip On Wireless Murah tapi Bagus, Cocok buat Konten Kreator Pemula
-
Self-Service di Rumah Makan: Benarkah Pelanggan Kini Semakin Dimudahkan?
-
Self-Service Bukan Cuma Soal Teknologi, Tapi Cara Melatih Mental Jadi Main Character yang Mandiri
-
Rahasia Kreator Cerdas: Nggak Kerja Lebih Keras, Tapi Pakai AI Biar Cuan Deras
-
Ingin Pindah ke New Zealand? Bocoran Aturan Skilled Migrant 2026 dari Konten Kreator Andy Saputra
Kolom
-
Dari Contekan ke Korupsi: Benang Merah yang Sering Kita Abaikan
-
Belajar dari Kerja Praktik: Coding Terbaik Adalah yang Mampu Menyelesaikan Masalah Nyata
-
Mengenal Desa Kemiren: Menjaga Budaya Osing Bersama Desa Sejahtera Astra
-
Tumbuh Tanpa Kehilangan Akar: Desa Kemiren dan Jalan Panjang Merawat Budaya Osing
-
Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri
Terkini
-
Minky Momo Rilis OVA Baru, Soroti Kekuatan Mimpi dan Harapan di Era Digital
-
Keajaiban Membaca dalam When You Love a Book Karya Kaz Windness
-
4 Body Lotion Ringan dan Menyejukkan, Penyelamat Saat Cuaca Terik!
-
Review Drama Kingdom, Melawan Teror Zombi di Tengah Intrik Politik Joseon
-
Cha Eun Woo Ajukan Banding atas Ketetapan Pajak, Agensi Beri Tanggapan