Barangkali kita memang tidak pernah benar-benar miskin, hanya terlalu murah dalam menghargai masa depan. Bagaimana tidak, lima tahun sekali kita rela menukar hak paling fundamental dalam demokrasi dengan bantuan sesaat, lalu heran mengapa hidup tak kunjung berubah.
Buat apa peduli dengan nasib 280 juta penduduk negeri ini? Mereka saja tidak peduli dengan nasibnya sendiri. Mungkin terdengar sinis, bahkan kejam. Namun di baliknya adalah cermin dari realitas sosial-politik yang terus berulang.
Setiap lima tahun, pesta demokrasi digelar dengan meriah. Jalanan dipenuhi baliho, janji ditebar, dan harapan kembali diproduksi. Namun di saat yang sama, praktik transaksional justru menjadi pemandangan yang terlalu akrab. Suara rakyat yang seharusnya menjadi instrumen kedaulatan sering kali direduksi menjadi komoditas murah: ditukar dengan amplop, sembako, atau bantuan sesaat.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan moral individu, melainkan gejala struktural. Ketika ketimpangan ekonomi masih tinggi, ketika akses pendidikan politik terbatas, dan ketika kepercayaan terhadap institusi publik terus menurun, maka pilihan pragmatis menjadi jalan pintas yang dianggap rasional.
Bagi sebagian orang, menerima imbalan menjelang pemilu bukan dilihat sebagai pengkhianatan terhadap masa depan, melainkan sebagai satu-satunya keuntungan nyata yang bisa mereka rasakan.
Namun di sinilah lingkaran setan itu bekerja. Praktik politik uang melahirkan pemimpin yang tidak merasa berutang pada kualitas kebijakan, melainkan pada biaya yang telah mereka keluarkan. Politik berubah menjadi investasi, dan kekuasaan menjadi alat untuk mengembalikan modal.
Dalam situasi seperti ini, tidak mengherankan jika setelah pemilu usai, rakyat kembali dihadapkan pada realitas lama: upah rendah, lapangan kerja sempit, dan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik.
Ironisnya, siklus ini kerap disertai dengan euforia sesaat. Kerumunan yang berebut kaus kampanye, sorak-sorai di panggung politik, hingga puja-puji kepada figur yang bahkan belum teruji. Semuanya menciptakan ilusi partisipasi. Padahal, partisipasi tanpa kesadaran kritis hanya akan memperkuat status quo.
Apakah ini berarti rakyat sepenuhnya bersalah? Tidak sesederhana itu. Menyalahkan masyarakat tanpa melihat konteks justru berisiko menutup akar persoalan yang lebih dalam. Selama sistem pendidikan belum mendorong literasi politik yang kuat, selama informasi publik masih mudah dimanipulasi, dan selama ketidakadilan ekonomi terus dibiarkan, maka ekspektasi terhadap pemilih rasional menjadi tidak realistis.
Di sisi lain, membiarkan apatisme tumbuh juga bukan solusi. Ketika semakin banyak orang memilih untuk tidak peduli, ruang publik akan semakin didominasi oleh mereka yang berkepentingan sempit.
Demokrasi membutuhkan partisipasi, tetapi lebih dari itu, ia membutuhkan kesadaran. Tanpa keduanya, demokrasi hanya menjadi prosedur kosong. Sekadar ritual lima tahunan tanpa perubahan berarti.
Maka pertanyaannya bukan lagi mengapa harus peduli?, melainkan apa yang terjadi jika kita benar-benar berhenti peduli? Jawabannya sudah bisa kita lihat dalam berbagai bentuk.
Kebijakan yang tidak berpihak, korupsi yang berulang, dan kesenjangan yang kian melebar. Ketidakpedulian bukanlah sikap netral; ia adalah ruang yang memberi kesempatan bagi ketidakadilan untuk tumbuh.
Harapan, meski terdengar klise, tetap memiliki tempat. Perubahan tidak selalu datang secara revolusioner; sering kali ia lahir dari akumulasi kesadaran kecil. Dari memilih dengan lebih kritis, dari menolak politik uang, dari berani mempertanyakan janji, hingga dari membangun percakapan publik yang lebih sehat.
Peduli memang tidak selalu memberi hasil instan. Ia bahkan sering melelahkan. Namun tanpa kepedulian, yang tersisa hanyalah pengulangan. Dan mungkin, justru di titik itulah apatis pada sistem pemerintahan menjadi hal yang berbahaya. Karena jika dibiarkan, ia bisa menjadi kenyataan yang kita terima tanpa perlawanan.
Baca Juga
-
Dari Sel Cinta yang Koma hingga Patah Hati Kocak: Serunya Yumi's Cells
-
Pesona Tragis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Kisah Pilu Hayati-Zainuddin
-
Dari Angkot sampai TTS, Alasan Film Dilan 1990 Sangat Ikonik!
-
Membaca Anak Penangkap Hantu: Kisah Trio Pemberani yang Memburu Misteri
-
Dear Bunda, Anak juga Butuh Cinta: Membaca Buku Parenting with Heart
Artikel Terkait
-
Buku Esai Orang Makan Orang: Realita Gelap Manusia Jadi Pemangsa
-
Demi Hemat Anggaran, Gedung DPR Gelap Gulita: Lampu dan AC Mati Sejak Sore
-
Dampak Kasus Amsal Sitepu: Pekerja Kreatif Khawatir Kerjasama dengan Pemerintah
-
Tak Semua ASN Bisa WFH, Ini Daftar Sektor Pelayanan Publik yang Wajib Masuk Kantor
-
Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih
Kolom
-
Kopdes Merah Putih Rasa Minimarket: Ketika Produk Petani Lokal Absen dari Rak Koperasi
-
Kebijakan Sampah Residu ke Bantargebang, Apakah Solusi atau Beban Baru?
-
Hari Reformasi Nasional: Menolak Normalisasi KKN Gaya Baru
-
Zero Waste dan Tekanan Sosial: Saat Peduli Lingkungan Jadi Ajang Kompetisi
-
Jangan Biarkan Uang Menguap, Ini 2 Investasi Aman saat Rupiah Melemah
Terkini
-
Le Sserafim Hidupkan Kembali Tren Lagu Macarena di Lagu Terbaru, Boompala
-
5 Gel Mask Korea dengan Kolagen untuk Menjaga Kulit Tetap Lembap dan Plumpy
-
Buku "Angin Timor Laut": Suara Perit Nelayan yang Tidak Didengar
-
Review Film Method Acting: Menyingkap Tragedi di Balik Tawa dan Topeng Dunia Hiburan
-
Anime Takopi's Original Sin Resmi Hadirkan Film Kompilasi, Ada Adegan Baru