“Tiada apa pun yang dengan sendirinya benar—perjuangan makna,
dengan segala kibulnyalah, yang meng-ada-kannya.”
Karena selalu dimaknai secara sempit sebagai pertarungan antarpartai politik demi memperebutkan kekuasaan, politik sering kali dianggap sebagai dunia kibul-kibul. Bahkan, dianggap sebagai tempat yang buruk untuk hidup.
Sebenarnya, perebutan untuk menjadi yang paling menang dan punya kuasa itu tidak cuma terjadi di dunia politik saja. Hal seperti ini juga muncul di mana-mana. Mulai dari ruang sidang, situasi pandemi, dunia film, agama, sampai budaya seperti wayang dan sejarah. Bahkan, bisa kelihatan di ekonomi, sastra, militer, dunia kriminal, humor, sepak bola, sampai ke kehidupan rumah tangga sehari-hari.
Lewat buku Orang Makan Orang, Seno Gumira Ajidarma berusaha membuka cara main, pola pikir, dan ideologi di balik berbagai manuver yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang berbau politik. Tujuannya simpel, biar kita sadar kalau ada banyak manipulasi yang selama ini tersembunyi.
Soalnya, manipulasi biasanya tidak kelihatan jelas di permukaan. Dan di situlah masalahnya. Orang yang paham jadi punya keunggulan dibanding yang tidak tahu. Makanya, penting sekali bagi kita untuk mengerti bagaimana cara kerja manipulasi itu, supaya tidak gampang terjebak.
Sebagai kumpulan esai, buku ini terdiri dari 57 tulisan yang tayang dalam rentang tahun 2017 hingga 2023. Sesuai dengan subjudulnya (Kibul-Kibul Budaya Politik), mayoritas isinya membahas tentang isu politik yang sedang hangat ketika esai tersebut dibuat.
Salah satu esai yang paling saya ingat bertajuk Arogansi (Politik) Jawa yang dimuat pada Koran Tempo tahun 2019. Dalam tulisan tersebut, Seno menyorot bagaimana Jokowi sebagai orang Jawa berusaha menerapkan filsafat Jawa yang ingin merangkul lawan-lawannya demi menjaga kekuasaannya.
Buku ini bisa dibilang berada di wilayah sastra yang menggabungkan realisme, satir, dan kritik sosial. Tema utamanya berkisar pada kekuasaan, kekerasan, ketimpangan, dan bagaimana manusia bisa memakan manusia lain, bukan secara harfiah, tapi lewat sistem, kepentingan, dan ambisi.
Isu yang diangkat terasa relevan dengan kondisi sekarang, di mana persaingan, ketidakadilan, dan permainan kuasa masih sering terjadi. Buku ini seperti cermin yang memantulkan sisi gelap masyarakat yang sering kita abaikan.
Orang Makan Orang merupakan buku kumpulan esai karya Seno Gumira Ajidarma yang menggambarkan dunia di mana manusia tidak lagi sekadar hidup berdampingan, tetapi saling memangsa secara simbolik.
Melalui berbagai esai, pembaca diajak melihat bagaimana kekuasaan, ambisi, dan sistem sosial bisa membuat seseorang menindas yang lain.
Setiap isi yang terkandung di dalam esai menghadirkan potret berbeda. Tentang individu yang terjebak dalam permainan kekuasaan, ada yang menggambarkan ketidakadilan sosial, hingga situasi absurd yang sebenarnya mencerminkan kenyataan. “Memakan” di sini bukan sekadar tindakan fisik, melainkan metafora dari eksploitasi, penindasan, dan dominasi.
Dengan gaya penuturan yang khas, Seno menyusun esai-esai ini seperti potongan puzzle yang menggambarkan satu gambaran besar, bahwa dunia keras, tidak adil, dan sering kejam.
Namun di balik itu semua, buku ini juga mengajak pembaca untuk menyadari, mempertanyakan, dan mungkin memahami peran manusia di dalamnya.
Bahasa yang digunakan Seno dalam novel ini cenderung sederhana, tapi maknanya dalam dan seringkali bikin mikir lama setelah membaca. Ada momen di mana ceritanya terasa absurd, tapi justru di situlah kekuatannya. Absurditas itu mencerminkan realita yang sebenarnya.
Jujur saja, membaca buku ini seperti naik roller coaster yang pelan tapi menghantam. Tidak selalu membuat sedih atau marah secara langsung, tapi lebih ke rasa tidak nyaman yang mengendap. Rasanya seperti diingatkan bahwa dunia tidak selalu berjalan adil, dan manusia punya potensi untuk menjadi pemangsa tanpa disadari.
Kelebihan utama buku ini jelas ada pada kedalaman tema dan keberanian dalam mengangkat isu. Cara penyampaian yang satir dan simbolik membuatnya terasa cerdas dan tidak membosankan.
Selain itu, gaya bahasa yang tidak terlalu rumit membuatnya tetap bisa dinikmati, meskipun isinya cukup berat. Tidak semua pembaca akan langsung nyaman dengan gaya bahasa dan alur yang terasa terfragmentasi. Beberapa bagian juga mungkin terasa terlalu abstrak bagi yang lebih suka artikel yang jelas dan langsung.
Identitas Buku
- Judul: Orang Makan Orang
- Penulis: Seno Gumira Ajidarma
- Penerbit: Penerbit Mizan
- Cetakan: I, Januari 2024
- Tebal: 277 halaman
- ISBN: 978-602-441-334-7
- Genre: Sejarah/Politik
Baca Juga
-
Bye-bye Polusi! Kisah Inspiratif Pak Zaki yang Pilih Lari 4 KM ke Sekolah Demi Efisiensi Bensin
-
TWS Apple AirPods 4: Musik Terasa Lebih Dekat, Lebih Hening, dan Personal
-
Perbedaan Apple Watch Ultra 3 dan Series 11 di Era Smartwatch Modern, Ultra atau Elegan?
-
Ilusi Hemat Triliunan Rupiah Lewat WFH: Memangnya Semudah Itu?
-
Jangan Paksa Kreativitas Tunduk pada Logika Birokrasi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Dear Writers, Let's Revisweet! Lingkaran Setan Penulis dan Revisi Berdarah
-
Rama, Sinta, dan Walmiki: Saat Rakyat Kecil Gugat "Penulis" Takdir Mereka
-
Ulasan Novel Sociopath, Menyingkap Tabir Kegelapan di Balik Sisi Kemanusiaan
-
Ulasan Novel Restart, Perjalanan Menuju Penerimaan Diri Sejati
-
Merawat Luka, Menemukan Harap dalam Rangkaian Kata di Buku Sebatas Mimpi
Terkini
-
Putri Angelina Jolie Debut di MV Baru Dayoung, Terpilih Tanpa Privilege
-
Sempat Konfirmasi, HYBE Kini Pilih Diam soal Partisipasi Manon di Coachella
-
LiSA Kembali Isi OST untuk Film Baru The Irregular at Magic High School
-
Sinopsis Reborn, Drama Fantasi Jepang Terbaru Issei Takahashi di Netflix
-
Bye-bye Polusi! Kisah Inspiratif Pak Zaki yang Pilih Lari 4 KM ke Sekolah Demi Efisiensi Bensin