Pretty Lethal, film action thriller garapan Vicky Jewson yang dirilis 25 Maret 2026 di Prime Video, kini sudah bisa ditonton secara streaming di platform tersebut sejak tanggal rilis globalnya. Saat ini, film berdurasi 88 menit ini langsung tersedia dengan langganan Prime Video di Indonesia dan seluruh dunia, tanpa perlu menunggu jadwal tambahan.
Dengan rating R karena kekerasan berdarah dan bahasa kasar, film ini menggabungkan elemen ballet klasik dengan adegan aksi brutal ala John Wick, menghasilkan hiburan yang unik meski tidak sempurna.
Penginapan Teremok Inn dan Rahasianya
Cerita berpusat pada lima ballerina elit yang sedang dalam perjalanan menuju kompetisi tari bergengsi di Budapest. Bus mereka mogok di hutan terpencil, memaksa mereka menginap di sebuah penginapan pinggir jalan yang aneh bernama Teremok Inn. Pemiliknya adalah Devora Kasimer (Uma Thurman), mantan ballerina jenius yang karirnya hancur karena cedera.
Awalnya terasa seperti tempat istirahat biasa, tapi suasana segera berubah mencekam saat kelompok kriminal bersenjata menyerbu. Para penari muda ini—yang saling bertengkar dan penuh rivalitas—harus menyatukan kekuatan, memanfaatkan disiplin ballet mereka sebagai senjata mematikan. Pointe shoes, pirouette, dan gerakan presisi menjadi alat pembunuh yang mematikan.
Review Film Pretty Lethal
Maddie Ziegler sebagai Bones mencuri perhatian. Karakter street-smart dan tangguh ini menjadi pemimpin tak resmi, membawa energi mentah yang membuatku ikut tegang. Lana Condor sebagai Princess, rival utama Bones, memberikan kontras emosional dengan sifatnya yang ambisius dan dingin.
Millicent Simmonds (Chloe) yang tunarungu menambah lapisan representasi inklusif, sementara Iris Apatow (Zoe) dan Avantika (Grace) melengkapi dinamika kelompok yang chaotic tapi believable. Uma Thurman sebagai Devora adalah highlight; penampilannya misterius, anggun, sekaligus mengancam, mengingatkan pada peran ikoniknya di Kill Bill tapi dengan sentuhan ballet yang lebih gelap.
Vicky Jewson, yang sebelumnya menyutradarai The Widow, berhasil menyatukan koreografi aksi dengan gerakan tari. Adegan fight di koridor penginapan, dapur, dan basement adalah puncak film. Setiap tendangan, putaran, dan lompatan terasa seperti ekstensi dari latihan ballet—bukan sekadar trik visual.
Sinematografi memanfaatkan cahaya redup dan bayangan untuk membangun ketegangan, sementara musik Paul Leonard-Morgan menggabungkan irama klasik dengan beat elektronik yang intens. Akan tetapi, skenario Kate Freund agak terlalu bergantung pada klise: rivalitas antar karakter yang mudah ditebak, villain one-dimensional, dan plot twist yang kurang mengejutkan. Dialog kadang terasa dipaksakan, terutama saat mencoba humor gelap.
Secara tema, Pretty Lethal mengeksplorasi persahabatan perempuan di bawah tekanan, kekuatan tubuh perempuan, dan bagaimana trauma masa lalu (seperti cedera Devora) membentuk pilihan hidup. Film ini juga menyindir dunia ballet yang kompetitif dan toksik, di mana grace sering kali menyembunyikan kekerasan internal.
Meski begitu, eksekusinya tidak selalu halus. Beberapa bagian terasa lambat di awal, fokus terlalu banyak pada drama internal sebelum aksi meledak. Menurutku, filmnya penuh kreativitas koreografi tapi sangat kusesalkan ada beberapa adegan yang kurang pada kedalaman emosional. Buat kamu yang suka film action perempuan seperti Birds of Prey atau The Hunger Games, buruan deh gas buat nonton!
Kelebihan terbesar film ini adalah konsep segarnya. Jarang ada film yang mengubah seni halus menjadi senjata mematikan dengan begitu literal. Adegan klimaks di mana kelima ballerina bergerak sinkron sambil membunuh musuh adalah momen sinematik yang memuaskan—seperti menonton pertunjukan tari yang berubah menjadi pembantaian balet. Produksi di Hungaria memberikan lokasi autentik, dengan penginapan tua yang terasa hidup dan mencekam. Editing cepat di scene action membuatku tidak bosan, meski runtime pendek terasa pas untuk genre ini.
Kekurangan utamanya sih adalah kurangnya pengembangan karakter pendukung. Para villain hampir tidak punya motivasi selain jahat karena cerita butuh. Hubungan antar ballerina juga cepat selesai tanpa proses yang mendalam, membuat resolusi terasa terburu-buru. Bagi yang mencari thriller psikologis murni, film ini terlalu berfokus pada aksi. Bagi penggemar pure action, elemen drama remaja kadang mengganggu ritme.
Secara keseluruhan, Pretty Lethal adalah hiburan akhir pekan yang solid untuk pecinta genre action dengan twist unik. Tidak akan menjadi klasik, tapi cukup menghibur dan kreatif untuk satu kali tonton. Rating pribadiku: 6.5/10. Cocok bagi yang suka kombinasi estetika indah dengan kekerasan brutal, atau fans Maddie Ziegler dan Uma Thurman. Langsung buka Prime Video sekarang, karena film ini sudah ready untuk dinikmati. Dengan konsep ballet meets bloodbath, Pretty Lethal membuktikan bahwa keanggunan bisa jadi sangat mematikan.
Baca Juga
-
Ulasan Film Empat Musim Pertiwi: Karya Kamila Andini yang Sangat Menyentuh
-
Review Film Crawlers: Aksi Matilda Lutz Melawan Invasi Ribuan Laba-Laba!
-
Ulasan Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Sekuel Horor Religi yang Penuh Drama!
-
Lebih dari Sekadar Hujan Peluru, One Last Shot Tutup Trilogi dengan Penuh Haru
-
Ulasan Film Hasut: Teror Horor Psikologis yang Menguji Paranoia dan Realita
Artikel Terkait
Ulasan
-
Petualangan Seru Beruang Pencari Hewan di Buku This is How to Spot Animals
-
Ulasan Film Empat Musim Pertiwi: Karya Kamila Andini yang Sangat Menyentuh
-
Diajak Break saat Anniversary ke-4? Review Novel Dengannya Tanpamu
-
Guru Honorer Bukan Cuma di Indonesia: Ironi dalam Dua Belas Pasang Mata
-
Four Hands, Two Sonatas: Ketika Sahabat Menjadi Rival dalam Meraih Mimpi
Terkini
-
Bebas Kusam dan Noda Hitam! 4 Toner Alpha Arbutin untuk Meratakan Warna Kulit
-
Di Balik Rekor Kunjungan Wisatawan: Saat Air Bersih Warga Dikorbankan untuk Vila Mewah
-
Delayed Gratification: Ketika Jarak Membuat Mental Makin Tangguh
-
4 Physical Sunscreen Heartleaf Korea, Cegah Breakout pada Kulit Sensitif
-
Gandeng Tiga Mitra Industri, SaIG UPI Gelar GEOCAB untuk Bincang Karier