Sekar Anindyah Lamase | e. kusuma .n
ilustrasi menghitung gaji (Pexels/olia danilevich)
e. kusuma .n

Bagi banyak orang, memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap kerap dijadikan standar aman agar bisa memenuhi kebutuhan dan hidup “layak”. Termasuk untuk saya, sekarang ini kepastian mendapat setidaknya gaji dengan standar UMR seolah menjadi syarat minimum.

Dengan anggapan kalau UMR adalah garis aman, angka dalam slip gaji saya percaya bisa membawa saya dalam kelayakan hidup atau setidaknya kebutuhan hidup saya akan terpenuhi. Namun, setelah menjalaninya sendiri, muncul pertanyaan menggelitik dalam pikiran.

Saya mulai mempertanyakan: apakah UMR benar-benar mencerminkan standar hidup minimum, atau hanya sekadar angka formalitas di atas kertas? Yang harapannya bisa dijadikan standar aman untuk hidup layak, nyatanya masih saja terasa sulit.

Gaji UMR: Pencapaian atau Sekadar Cukup untuk Bertahan?

Awalnya, menerima gaji setara UMR terasa seperti pencapaian. Saya merasa akhirnya bisa mandiri, tidak lagi bergantung, dan mulai menata hidup sendiri. Namun, anggapan itu perlahan berubah ketika saya mulai benar-benar menghitung pengeluaran.

Untuk mencukupi kebutuhan dasar saja sudah mengambil porsi terbesar. Belum lagi biaya lain yang seringnya tidak bisa dihindari meski sudah membuat perencanaan pengeluaran sejak awal bulan. Apalagi kalau ada ajakan meet up sosial dan hiburan untuk menjaga kewarasan, makin menipis saja gaji minim saya.

Dari situ, saya mulai melihat bahwa “cukup” ternyata punya arti yang sangat sempit. Saya bisa bertahan, iya. Tapi apakah itu bisa disebut hidup layak? Saya rasa belum bisa untuk disebut hidup layak, tapi sekadar cukup untuk bertahan.

Standar Minimum Vs Realita

Sekarang ini, saya merasa hidup di era di mana kebutuhan tidak lagi sesederhana dulu. Internet bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi sudah menjadi kebutuhan utama. Interaksi sosial tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga di ruang digital.

Bahkan menjaga kesehatan mental pun sering kali membutuhkan biaya—entah itu untuk healing kecil, atau sekadar memberi jeda dari rutinitas. Semua itu membuat saya berpikir kalau standar hidup minimum yang ditetapkan mungkin tidak lagi sepenuhnya relevan dengan realita hari ini.

Yang membuatnya semakin rumit adalah ekspektasi sosial. Di media sosial, saya melihat banyak orang dengan gaya hidup yang terlihat nyaman dan selalu bisa menikmati hidup tanpa terlihat terbebani. Tanpa sadar, saya mulai membandingkan.

Padahal saya tahu, apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Namun tetap saja, ada tekanan yang muncul. Seolah-olah, jika saya tidak bisa mencapai standar itu, berarti ada yang kurang dalam hidup saya.

UMR: Jarak Realita dan Ekspektasi

Di titik ini, saya mulai merasa bahwa UMR bukan hanya soal angka, tapi juga soal jarak antara realita dan ekspektasi. Berhemat tidak lagi bisa jadi solusi. Bukannya sejahtera, saya malah merasa kehilangan ruang untuk menikmati hidup.

Saya seperti hanya bergerak dari satu kebutuhan ke kebutuhan berikutnya, tanpa benar-benar merasa hidup. Gaji yang baru masuk langsung amblas untuk menutup tagihan dan membeli kebutuhan dasar.

Dari situ, saya mulai melihat bahwa masalahnya bukan hanya pada jumlah gaji, tapi juga pada cara sistem ini bekerja. UMR mungkin ditetapkan sebagai standar minimum, tapi tidak selalu mengikuti perubahan gaya hidup dan kebutuhan yang terus berkembang.

Apakah Angka UMR Belum Layak?

Pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan di mana angka UMR terasa seperti tertinggal dari realitas. Memang benar kebutuhan setiap orang yang berbeda juga turut andil dalam menentukan angka kecukupan hidup.

Misalnya, bagi sebagian orang, bisa makan dan punya tempat tinggal sudah cukup. Sedangkan bagi saya, hidup layak juga berarti punya rasa aman, tidak terus-menerus cemas soal uang, dan masih punya ruang untuk menikmati hal-hal kecil.

Dan jujur saja, itu tidak selalu bisa dicapai dengan gaji UMR. Meski tidak dimungkiri kalau gaji UMR memang bisa diajak “kompromi” untuk bertahan, tetapi definisi layak yang menyeluruh memang belum terpenuhi.

Terima dan Syukuri

Namun di tengah semua kondisi itu, saya tidak ingin hanya mengeluh. Saya mulai mencoba mengubah cara pandang saya setelah berdamai dengan standar minimum ini. Saya menerima dan menyukuri dulu.

Saya kemudian melihat UMR sebagai titik awal. Modal yang perlu saya kembangkan, bukan sekadar saya terima dengan pasrah. Saya mulai belajar mengatur keuangan dengan lebih sadar hingga mencari peluang tambahan.

Di sisi lain, saya juga tetap belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Sebab realita ekonomi yang tidak selalu berpihak ini seolah sedang memaksa saya untuk tumbuh dan berusaha bertahan di tengah kondisi yang serba minim.

Pada akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: gaji UMR mungkin memang dimaksudkan sebagai standar hidup minimum, tetapi dalam praktiknya, sering kali terasa seperti angka formalitas.

Angka yang ada bahkan belum tentu cukup. Dan di tengah kenyataan itu, saya hanya bisa terus berusaha. Bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk perlahan keluar dari batas yang terasa semakin sempit ini.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS