Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
ilustrasi ramalan zodiak (Pexels/Pavel Danilyuk)
e. kusuma .n

Jujur saja, dulu saya termasuk orang yang cukup percaya dengan ramalan zodiak. Bukan sampai level fanatik, tetapi cukup untuk membuat saya mempertimbangkan horoskop dalam menilai karakter seseorang maupun saat sedang galau atau bingung mengambil keputusan.

Bahkan dulu saya hampir setiap hari membuka media sosial atau aplikasi tertentu hanya untuk melihat “apa kata zodiak hari ini”. Aneh memang, tetapi ada rasa tenang ketika membaca kalimat-kalimat yang terasa seperti memahami kondisi saya.

Kalau zodiak bilang “hari ini kamu akan lebih sensitif”, saya jadi merasa dimaklumi. Kalau dibilang “akan ada kabar baik”, saya jadi punya harapan kecil. Dan kalau kebetulan sesuai, saya makin yakin dan jadi berpikiran “wah, ini benar juga ya.”

Di titik itu, saya tidak sadar bahwa saya mulai menggantungkan sebagian perasaan pada sesuatu yang sebenarnya sangat umum dan bisa berlaku untuk siapa saja. Saya pun mulai mengaitkan banyak hal dengan zodiak.

Cara saya bereaksi, cara orang lain memperlakukan saya, bahkan dinamika hubungan yang saya jalani, termasuk memahami watak dan kepribadian seseorang. Semuanya seperti punya “pembenaran” lewat horoskop.

Kalau ada konflik, saya berpikir, “ya wajar, dia memang zodiaknya begitu.” Kalau saya overthinking, saya menyalahkan zodiak saya yang katanya “terlalu perasa”. Awalnya terasa harmless, tetapi lama-lama, saya mulai merasa seperti kehilangan kendali atas cara saya memahami diri sendiri.

Ramalan Zodiak Terasa “Kena Banget”

Sampai suatu hari, saya membaca ramalan yang benar-benar “kena banget”. Kalimatnya spesifik, seolah menggambarkan kondisi saya saat itu. Saya merasa dipahami sekaligus juga mulai bertanya kenapa ini bisa terasa begitu akurat? Dari situ, rasa penasaran saya muncul.

Saya mulai mencari tahu, membaca lebih banyak, dan akhirnya menemukan konsep yang disebut Barnum Effect, yaitu kecenderungan manusia untuk merasa bahwa deskripsi umum itu sangat personal. Di situ saya seperti “terbangun”.

Belajar Melihat dari Sudut Pandang Berbeda

Saya mulai melihat ramalan zodiak dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa mungkin bukan zodiaknya yang benar-benar memahami saya, tetapi saya saja yang sedang mencari makna dari apa yang saya baca.

Sejak saat itu, “hubungan” saya dengan zodiak berubah. Saya masih membaca sesekali, tidak lagi menjadikannya sebagai acuan utama. Saya mulai lebih percaya pada pengalaman, refleksi diri, dan realita yang saya jalani.

Meski masih membaca zodiak, tetapi sekarang saya hanya menjadikannya hiburan semata. Saat terasa relate, pembenaran ini tidak lagi mutlak. Namun, saat terasa ngena banget dengan situasi yang saya alami, logika tetap menjadi pegangan utama.

Dari Bacaan Jadi Tulisan

Menariknya, dari pengalaman itu, saya justru terdorong untuk menuliskannya. Saya mulai menuangkan keresahan saya tentang bagaimana zodiak bisa terasa begitu relevan, tentang kenapa banyak orang merasa terhubung, dan tentang bagaimana kita sering mencari jawaban dari luar, padahal sebenarnya ada di dalam diri sendiri.

Menulisnya terasa seperti proses memahami diri ulang. Saya tidak lagi menulis sebagai seseorang yang sepenuhnya percaya, tetapi juga bukan sebagai seseorang yang sepenuhnya menolak. Saya menulis sebagai orang yang pernah ada di tengah-tengah. Percaya, mempertanyakan, lalu mencoba memahami.

Dan ternyata, banyak yang merasa relate. Dari situ saya sadar, zodiak bukan hanya soal percaya atau tidak. Ada kebutuhan emosional di baliknya. Kebutuhan untuk merasa dipahami, untuk mendapatkan arah, atau sekadar untuk merasa tidak sendirian.

Melihat Horoskop dari POV Lebih Luas

Di tengah hidup yang penuh ketidakpastian, saya mencoba melihat dari sudut pandang yang lebih luas soal ramalan zodiak. Terutama saat melihat orang-orang, termasuk saya, yang sedang mencari pegangan, termasuk dari hal-hal seperti horoskop.

Di sisi lain, saya juga belajar bahwa terlalu bergantung pada hal tersebut bisa membuat kita kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Saya mulai melihat zodiak sebagai hiburan, bukan pedoman hidup. Dan mungkin, itu posisi yang paling sehat.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa apa pun yang kita konsumsi, termasuk ramalan, perlu kita saring. Tidak semua yang terasa benar benar-benar akurat. Kadang, itu hanya refleksi dari apa yang ingin kita dengar.

Sekarang, setiap kali saya membaca zodiak, saya tidak lagi bertanya “apakah ini akan terjadi?”, tetapi lebih ke “kenapa saya merasa ini relate?”. Karena pada akhirnya, bukan zodiak yang membentuk hidup saya.

Keberadaan ramalan zodiak adalah pilihan, pengalaman, dan cara saya memahami diri sendiri. Dan mungkin, justru dari situlah tulisan ini lahir, bukan dari ramalannya, tetapi dari perjalanan saya memaknainya. Kalau kamu, sependapat dengan saya atau punya opini lain?