Hayuning Ratri Hapsari | Budi Prathama
Ilustrasi internet dengan paket data. (Pixabay/Frimbee)
Budi Prathama

Ada satu momen kecil yang sering kita anggap sepele, tapi sebenarnya agak nyebelin kalau dipikir-pikir: kuota internet hangus. Kamu beli 10 GB, kepakai cuma 6 GB, sisanya? Hilang. Len-yap. Raib tanpa jejak, tanpa pamit, tanpa rasa bersalah. Anehnya, kita sudah terlalu terbiasa sampai jarang benar-benar marah.

Padahal, coba kita tarik sedikit ke belakang. Di zaman sekarang, internet itu bukan lagi barang mewah. Ia sudah seperti listrik, bahkan seperti air. Bangun tidur cek WhatsApp, kerja pakai Google Docs, jualan lewat marketplace, cari uang lewat aplikasi. Banyak orang hidupnya literally bergantung pada kuota.

Buat driver ojek online, kuota itu bukan hiburan. Itu bensin kedua. Buat penjual online, kuota itu etalase toko. Buat freelancer, itu kantor berjalan. Tapi tetap saja, ketika masa aktif habis, negara dan operator kompak bilang: “Ya sudah, hangus.” Dan kita cuma bisa: “Oh yaudah.” Padahal kalau dipikir lagi, ini aneh.

Dalam logika paling dasar soal beli-membeli, kalau kita bayar sesuatu, ya itu jadi milik kita. Kamu beli nasi goreng, ya bebas mau dimakan sekarang atau nanti. Kamu beli bensin, ya terserah mau dipakai kapan. Bahkan listrik token saja tidak hangus—mau dipakai minggu depan, bulan depan, ya tetap ada.

Tapi kuota? Dia beda sendiri. Kamu bayar, tapi kamu tidak benar-benar punya. Kamu cuma dikasih hak pakai sementara. Kayak minjem, tapi bayar. Di sini mulai terasa janggalnya.

Operator biasanya berlindung di balik “syarat dan ketentuan berlaku”. Kalimat sakti yang panjangnya bisa mengalahkan skripsi, tapi hampir tidak pernah kita baca. Kita klik “setuju” bukan karena paham, tapi karena ya memang tidak ada pilihan lain. Ini bukan kesepakatan, ini lebih mirip “yaudah deh daripada nggak bisa internetan”.

Relasi kita dengan operator memang dari awal sudah tidak seimbang. Mereka bikin aturan, kita nurut. Mereka tentukan masa aktif, kita mengikuti. Mereka hanguskan kuota, kita cuma bisa pasrah. Dan negara? Sejujurnya terasa seperti penonton yang terlalu santai.

Kalau di sektor lain, negara bisa cukup tegas. Listrik diatur, air diatur, bahkan harga-harga tertentu diawasi. Tapi untuk urusan kuota, yang notabene sudah jadi kebutuhan dasar juga, rasanya negara masih setengah hati. Seolah-olah ini cuma urusan bisnis biasa, bukan sesuatu yang menyangkut hajat hidup banyak orang.

Padahal dampaknya nyata. Kuota yang hangus itu bukan sekadar angka. Itu uang. Itu potensi kerja yang hilang. Itu akses yang tiba-tiba diputus, bukan karena kita tidak bayar, tapi karena waktu yang ditentukan sepihak sudah habis.

Lucunya lagi, kita jarang mempertanyakan karena sudah terlalu lama menganggap ini normal.

Mungkin masalahnya bukan cuma di sistem, tapi juga di cara kita memahami “kepemilikan”. Di era digital, banyak hal yang kita beli ternyata tidak benar-benar kita miliki. Kita “beli” lagu, tapi cuma bisa streaming. Kita “langganan” film, tapi tidak bisa menyimpan. Kita “punya” kuota, tapi siap-siap kehilangan.

Pelan-pelan, konsep memiliki itu digeser jadi sekadar “akses sementara”. Dan kalau dibiarkan terus, lama-lama kita terbiasa hidup tanpa benar-benar punya apa-apa. Semua hanya sewaan. Semua ada batas waktunya. Semua bisa hilang kapan saja, selama itu tertulis di syarat dan ketentuan yang tidak pernah kita baca.

Pertanyaannya jadi sederhana: kita ini sebenarnya konsumen, atau cuma penyewa permanen? Dan yang lebih penting: sampai kapan kita mau menganggap ini wajar?