Ini adalah buku kedua yang aku baca dari si penulis buku Bumi Manusia. Sebenarnya, aku banyak membaca novel setema ini waktu SMA di Wattpad. Berlatar sejarah, tokoh wanita yang dilecehkan, dan suara-suara yang mulai menggemakan kesadaran.
Tapi membaca buku bertemakan sejarah dengan latar yang nyata selalu punya keunikan sendiri. Ada serpihan-serpihan sejarah yang bisa dipungut yang kerap luput dari pembahasan sejarah dimanapun. Termasuk yang tidak akan pernah ditulis di buku sejarah pelajaran sekolah.
Novel Larasati karya Pramoedya Ananta Toer mengangkat realitas revolusi kemerdekaan. Berlatar masa 1945–1950, novel ini tidak sekadar menghadirkan kisah perjuangan fisik melawan penjajah, tetapi juga membedah konflik batin, pengkhianatan, hingga krisis moral yang menyertai revolusi.
Sinopsis Novel
Tokoh utama dalam novel ini adalah Larasati atau Ara, seorang bintang film terkenal yang hidup di tengah pusaran konflik antara Republik Indonesia dan pihak kolonial Belanda. Pekerja seni yang juga pernah terlibat dalam dunia hiburan yang dekat dengan kekuasaan kolonial, termasuk produksi film propaganda.
Perjalanan Ara dari Yogyakarta menuju Jakarta menjadi poros utama cerita. Di sepanjang perjalanan, ia bertemu berbagai tokoh, dari rakyat biasa hingga pejuang yang memperkaya pandangannya tentang arti kemerdekaan. Pertemuan-pertemuan tersebut menggugah kesadarannya untuk memilih berpihak pada Republik, meskipun konsekuensinya berat: kehilangan karier, keamanan, dan kenyamanan hidup.
Novel ini dengan gamblang menggambarkan kompleksitas revolusi. Di satu sisi, ada pemuda-pemuda yang dengan tulus mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan.
Di sisi lain, terdapat pula “pahlawan munafik”, mereka yang memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi. Pramoedya menyoroti adanya pertentangan antara wilayah Republik dan daerah pendudukan Belanda, antara penggunaan mata uang ORI dan NICA, hingga konflik ideologis antara generasi muda dan tua.
Salah satu kekuatan utama Larasati adalah keberaniannya mengkritik internal bangsa sendiri. Pramoedya tidak menggambarkan revolusi sebagai sesuatu yang sepenuhnya heroik dan bersih. Ia justru memperlihatkan bahwa dalam perjuangan terdapat kelemahan manusia: oportunisme, korupsi, dan kecenderungan untuk menyalahgunakan kekuasaan.
Banyak tokoh “angkatan tua” dalam novel ini digambarkan sebagai sosok yang munafik. Lantang berbicara tentang revolusi, tetapi lemah dalam tindakan.
Melalui tokoh Ara, Pramoedya juga menghadirkan gagasan emansipasi perempuan yang cukup progresif untuk zamannya. Pada era 1950-an, ketika isu kesetaraan gender belum banyak dibicarakan, Larasati tampil sebagai perempuan yang mandiri, berani mengambil keputusan, dan memiliki kesadaran politik.
Bahkan, dengan latar belakangnya yang dianggap “tidak ideal” secara moral oleh masyarakat, ia tetap mampu menunjukkan kontribusi nyata bagi perjuangan bangsa. Ini menjadi kritik sosial yang tajam terhadap standar moral yang seringkali bias dan tidak adil.
Kelebihan dan Kekurangan
Gaya penulisan Pramoedya dalam novel ini kerap terasa retoris. Dialog dan monolog Ara sering dipenuhi dengan semangat revolusioner yang berapi-api, yang mungkin terasa terlalu didaktis atau “memaksa.”
Alih-alih menunjukkan aksi konkret, beberapa bagian lebih menonjolkan narasi ideologis. Hal ini bisa dianggap sebagai refleksi konteks zamannya, ketika sastra memang menjadi alat untuk membangkitkan semangat nasionalisme.
Meski begitu, relevansi Larasati tetap terasa hingga hari ini. Apakah bangsa Indonesia benar-benar sudah merdeka secara mental? Apakah praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan menunjukkan bahwa kolonialisme hanya berganti bentuk?
Pramoedya seakan mengingatkan bahwa perjuangan tidak berhenti pada kemerdekaan politik, tetapi harus dilanjutkan dengan pembebasan dari mentalitas feodal dan materialistis.
Larasati adalah potret revolusi yang penuh dengan idealisme sekaligus ironi. Melalui tokoh seorang perempuan yang berani melawan arus, Pramoedya menghadirkan refleksi mendalam tentang arti perjuangan, harga diri, dan tanggung jawab sebagai bangsa.
Identitas Buku
- Judul: Larasati
- Penulis: Pramoedya Ananta Toer
- Penerbit: Lentera Dipantara
- Tahun terbit: 2017
- ISBN: 979-97312-9-5
- Tebal: 178 halaman
- Genre: Roman, Fiksi, Sejarah
Baca Juga
-
Saatnya Jadi Produsen, Bukan Sekadar Konsumen! Pelajaran dari Sadar Kaya
-
Karena Kamu Sangat Berharga: Belajar Mencintai Diri Tanpa Kehilangan Empati
-
Inkrah Saja Tidak Cukup: Kenapa Aturan Pemecatan ASN Korup Belum Konsisten?
-
Hipnosis atau Manipulasi? Simak Faktanya di Buku Hypnotherapy Mastery
-
Waktu untuk Tidak Menikah: Merawat Hak Perempuan atas Pilihannya
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Petaka Gunung Welirang: Saat Mitos Lokal Berhasil Digali dengan Apik
-
Di Balik Bullying Mahasiswi Populer: Teror Bangkawarah yang Menjemput Nyawa
-
Nasi Goreng di Restoran Jepang? Mencicipi Chicken Tokio Goulash Zenbu
-
Seni Memahami Kekasih: Potret Hubungan 'Anak Muda Miskin' yang Sangat Relate dengan Kehidupan Nyata
-
Review Jujur The Prodigy: Saat Kejeniusan Berubah Menjadi Senjata Mematikan
Terkini
-
Syarat Maksimal, Gaji Minimal: Standar Tak Masuk Akal dalam Lowongan Kerja
-
RAM 24 GB, Kamera OIS, Baterai 8000 mAh! Ini HP Realme Terbaik
-
Piala Dunia 2026 Hampir Berakhir, Saatnya Cari Hiburan Lain?
-
Wajah Lembap dan Sehat! 4 Cleanser Probiotic Jaga Mikrobioma Skin Barrier
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan