M. Reza Sulaiman | AHMAD NAUFAL TIRUS
Ilustrasi Keamanan Data (Freepik)
AHMAD NAUFAL TIRUS

Sebagai mahasiswa IT, saya sering merasa gatal setiap kali mendengar pejabat pemerintah dengan bangga mengumumkan bahwa instansinya baru saja meluncurkan aplikasi baru. Di mata orang awam, ini mungkin terlihat sebagai kemajuan zaman. Namun, di mata kami yang terbiasa berurusan dengan backend dan protokol keamanan, fenomena ini lebih mirip seperti memasang lampu kristal di rumah yang pintunya cuma terbuat dari triplek.

Obsesi pada Etalase Digital

Pemerintah kita seolah-olah sedang mengalami demam aplikasi. Hampir setiap layanan publik kini harus diakses melalui platform digital yang berbeda-beda. Sayangnya, obsesi ini sering kali hanya berhenti pada "etalase" atau tampilan luar saja. Fokusnya adalah bagaimana aplikasi itu terlihat canggih di depan kamera saat peresmian, bukan seberapa kuat sistemnya menahan gempuran serangan siber.

Berdasarkan pengalaman saya menulis karya tulis ilmiah (KTI), sebuah riset yang valid membutuhkan fondasi data yang aman dan metodologi yang kokoh. Namun, dalam proyek digitalisasi pemerintah, metodologi yang digunakan sering kali terasa reaktif dan terburu-buru. Kita lebih mementingkan kuantitas aplikasi daripada kualitas keamanan datanya. Akibatnya, kita sering melihat judul berita yang berulang setiap bulan: data jutaan warga bocor dan dijual di forum gelap. Dan tanggapan pemerintah? Biasanya hanya penyangkalan yang dibungkus dengan kalimat normatif, "Data tersebut adalah data lama."

Keamanan Data yang Dianaktirikan

Ada satu hal yang sangat mengkhawatirkan: ketiadaan perhatian serius soal keamanan data dari pemerintah. Keamanan siber sering kali dianggap sebagai beban biaya, bukan investasi harga diri bangsa. Anggaran besar dikucurkan untuk pengadaan perangkat keras dan pengembangan aplikasi, tapi anggaran untuk maintenance dan audit keamanan justru sering kali dicoret atau diminimalkan.

Bagi saya, ini adalah penghinaan terhadap logika IT. Membangun ekosistem digital tanpa sistem keamanan yang mumpuni itu sama saja dengan mengundang pencuri masuk ke rumah dan memberikan mereka kunci laci penyimpanan dokumen penting kita. Sebagai mahasiswa yang dididik untuk berpikir logis dan sistematis, melihat ketidakpedulian ini rasanya seperti melihat seseorang yang mencoba mengisi air ke ember bocor; sia-sia dan melelahkan.

Panggilan untuk Hal yang Lebih Besar

Di sinilah prinsip Ad Maiora Natus Sum (lahir untuk hal-hal yang lebih besar) menjadi relevan bagi kita, para calon praktisi IT. Kita tidak boleh tumbuh menjadi lulusan yang hanya bisa membuat aplikasi pesanan yang asal jalan. Kita harus memiliki integritas untuk mengatakan "tidak" pada sistem yang tidak aman. Kita lahir untuk membangun infrastruktur masa depan yang kokoh, bukan hanya sekadar menjadi tukang jahit kode untuk proyek-proyek yang mengabaikan privasi rakyat.

Menulis naskah ilmiah telah mengajarkan saya bahwa integritas data adalah segalanya. Tanpa data yang jujur dan aman, sebuah riset tidak akan ada harganya. Begitu juga dengan sebuah negara digital. Tanpa perlindungan data warga negara yang nyata, digitalisasi hanyalah sebuah kata kosong yang menjual harapan palsu.

Jangan Hanya Jadi Pajangan

Digitalisasi seharusnya memudahkan hidup, bukan menambah kecemasan. Sudah saatnya pemerintah berhenti bermain-main dengan data rakyat. Keamanan siber harus menjadi prioritas utama dalam setiap lini kebijakan digital, bukan sekadar pelengkap di bagian akhir dokumen proyek.

Untuk teman-teman mahasiswa IT, mari kita jadikan keresahan ini sebagai motivasi untuk terus belajar. Jangan hanya puas dengan coding yang bisa "berjalan". Mari kita belajar tentang enkripsi, proteksi, dan etika profesi yang kuat. Kita harus siap menjadi benteng terakhir ketika negara masih asyik bersolek di depan etalase digital sementara pintunya dibiarkan terbuka lebar. Karena kita lahir untuk menjaga hal-hal yang lebih besar, termasuk kedaulatan data bangsa ini.