Hayuning Ratri Hapsari | Davina Aulia
Ilustrasi menghitung uang (Unsplash.com/Alexander Grey)
Davina Aulia

Saat menjamahi konten-konten sosial media, jelas kita tak luput dari ragam komentar dari pengguna lain. Ada begitu banyak penilaian yang dilontarkan dengan cepat. Tentang pilihan hidup seseorang, kondisi ekonomi orang lain, bahkan keputusan-keputusan kecil yang sebenarnya tidak kita pahami sepenuhnya.

Seolah-olah semua orang memiliki titik awal yang sama. Di sana saya mulai berpikir, apakah kita benar-benar memahami situasi orang lain, atau justru sedang melihat dunia dari kacamata privilege yang tidak kita sadari?

Keresahan ini semakin kuat ketika saya menyadari bahwa sering kali, tanpa sadar, saya pun pernah berada di posisi yang sama. Menghakimi tanpa memahami. Saya mulai melihat bahwa ada sesuatu yang tidak terlihat namun sangat memengaruhi cara kita berpikir dan menilai orang lain, yaitu privilege.

Privilege: Sesuatu yang Tidak Selalu Disadari

Privilege sering kali tidak terasa seperti keuntungan bagi mereka yang memilikinya. Akses pendidikan yang lebih baik, lingkungan yang suportif, atau kondisi keluarga yang stabil. Karena sudah menjadi bagian dari keseharian, privilege ini terasa normal, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang seharusnya dimiliki semua orang.

Saya mulai menyadari bahwa apa yang selama ini saya anggap biasa, belum tentu dimiliki orang lain. Misalnya, memiliki waktu untuk belajar, akses internet yang stabil, atau dukungan emosional dari keluarga. Hal-hal ini terlihat sederhana, tetapi bagi sebagian orang, justru merupakan kemewahan. Ketika kita tidak menyadari privilege ini, kita cenderung menilai orang lain dengan standar yang tidak adil.

Menghakimi Lebih Mudah daripada Memahami

Menghakimi sering kali menjadi respons instan. Dalam hitungan detik, kita bisa membentuk opini tanpa benar-benar mengetahui cerita di baliknya. Saya pun pernah melakukannya. Melihat seseorang gagal, lalu berpikir bahwa mereka kurang berusaha. Padahal, saya tidak tahu tekanan apa yang mereka hadapi atau keterbatasan apa yang mereka miliki.

Memahami membutuhkan usaha yang lebih besar. Kita perlu berhenti sejenak, mempertanyakan asumsi kita, dan mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Namun, di era serba cepat seperti sekarang, refleksi seperti ini sering terabaikan. Akibatnya, kita lebih memilih jalan pintas. Menghakimi, karena itu terasa lebih mudah dan cepat.

Perspektif yang Dibentuk oleh Pengalaman Pribadi

Cara saya melihat dunia sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi saya. Apa yang saya anggap normal ternyata hanyalah refleksi dari lingkungan tempat saya tumbuh. Ketika saya bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, saya mulai menyadari bahwa realitas itu tidak tunggal.

Setiap orang membawa cerita yang berbeda. Ada yang harus berjuang sejak kecil untuk memenuhi kebutuhan dasar, ada yang tumbuh dalam tekanan sosial yang tinggi, dan ada pula yang menghadapi keterbatasan yang tidak terlihat secara kasat mata. Ketika kita mengabaikan perbedaan ini, kita berisiko menyederhanakan realitas orang lain, dan di situlah penghakiman sering muncul.

Belajar untuk Lebih Empati dan Reflektif

Kesadaran tentang privilege membuat saya mulai lebih berhati-hati dalam menilai orang lain. Saya belajar untuk bertanya pada diri sendiri. Apakah saya benar-benar memahami situasi ini? atau Apakah ada faktor yang tidak saya lihat? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini membantu saya untuk tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.

Empati bukan berarti selalu setuju dengan orang lain, tetapi berusaha memahami konteks di balik tindakan mereka. Ini adalah proses yang tidak mudah dan membutuhkan latihan. Namun, saya percaya bahwa dengan menjadi lebih reflektif, kita bisa menciptakan ruang yang lebih adil dan manusiawi dalam berinteraksi dengan orang lain.

Saya menyadari bahwa privilege yang tidak terlihat sering kali menjadi akar dari penghakiman yang kita lakukan. Ketika kita tidak menyadari posisi kita sendiri, kita cenderung melihat dunia secara sempit dan mengabaikan kompleksitas yang ada.

Mungkin, langkah kecil yang bisa kita lakukan adalah berhenti sejenak sebelum menghakimi, dan mulai mencoba memahami. Karena bisa jadi, bukan orang lain yang kurang berusaha, melainkan kita yang belum cukup melihat.