Lempar pernyataan asal bunyi (asbun), biarkan netizen menghujat sampai viral, tonton parodinya di mana-mana, lalu tutup dengan video klarifikasi minta maaf. Selesai. Begitu mudahnya kasus tidak substansial menguasai algoritma publik kita hari ini. Kita seolah dipaksa sibuk untuk menelusuri, menghujat balik, hingga merasa perlu terlibat dalam emosi yang ujung-ujungnya hanyalah skenario basi.
Memang benar, perundungan tidak bisa dibenarkan. Namun, jika kita melihat polanya, bukankah ini adalah siklus yang terus berulang? Ingatkah kita pada kasus penjual es teh yang dihina Gus Miftah? Kasus tumbler merk Tuku yang tertinggal di KAI, parodi ibu-ibu kerudung hijau dengan gaya mengucapkan kalimat tidak pantas, Jule, Inara Rusli perseteruan dengan netizen Korea Selatan, hingga kasus penjual es gabus? Semuanya berakhir sama: ratusan ribu like komentar, pujian, hujatan, bantuan membanjiri akun tersebut dalam sekejap, lalu hilang begitu saja.
Banyak yang berdalih bahwa ini adalah bukti kepedulian sosial yang tinggi. Saya tidak memungkiri sisi kemanusiaan itu. Namun, di balik itu, ada hal yang lebih mengkhawatirkan: penyitaan perhatian publik lewat kontrol algoritma.
Euforia FOMO atau Kepedulian Sejati?
Mari kita bertanya pada diri sendiri dengan jujur: Di mana suara riuh netizen saat membahas nasib 19 juta lapangan pekerjaan yang kini terancam? Di mana pembahasan mendalam tentang kelanjutan mobil Esemka, efektivitas proyek Kartu Prakerja, hingga megaproyek IKN yang terus menelan anggaran?
Masih ingatkah kita pada kabar tambang ilegal di Raja Ampat dan konflik lahan di Pulau Wawonii? Atau bagaimana dengan proyek Pagar Laut dan kontroversi pengembangan Pantai Indah Kapuk (PIK) yang berdampak besar pada ekosistem pesisir? Kabar korban banjir di Sumatera hingga ancaman tenggelamnya wilayah di pesisir utara pun seolah lenyap tertelan Bumi.
Begitu banyak isu krusial yang menyangkut hajat hidup orang banyak, namun akhirnya tertutup rapat oleh konten viral sesaat. Sering kali, berita "selangkangan" artis atau drama remeh sengaja naik ke permukaan secara bersamaan dengan isu-isu kebijakan publik yang sedang panas. Ketika kita merasa telah "berjuang" dengan berkomentar pedas di unggahan viral, jangan-jangan itu hanyalah euforia Fear of Missing Out (FOMO) sesaat. Kita merasa peduli, padahal kita hanya sedang digiring oleh arus algoritma untuk melupakan apa yang seharusnya kita kawal.
Jebakan Brainrot dan Rasa Hampa
Hasilnya apa? Setelah menghabiskan waktu dan kuota untuk konten receh tersebut, yang tersisa sering kali hanyalah rasa hampa. Fenomena ini kerap disebut sebagai brainrot—sebuah kesia-siaan nyata yang mengikis daya kritis kita. Saling mengingatkan di media sosial itu baik, namun kini ia sering bermutasi menjadi ajang saling hujat dan merasa paling benar sendiri. Bahkan, kita menghabiskan energi untuk "war" dengan netizen luar negeri, sementara masalah di rumah sendiri luput dari pengawasan.
Kita seolah dibuat lelah oleh drama yang tidak berujung. Lihat saja bagaimana riuhnya demo Agustus 2025 lalu yang hampir menimbulkan situasi chaos; kini kabar kelanjutannya memudar, tertutup oleh skandal-skandal baru yang lebih "menghibur". Memikirkannya terus-menerus hanya akan membuat hari tidak cerah dan pikiran menjadi tumpul.
Hak untuk Memilih
Kita harus sadar bahwa kita memiliki hak untuk memilih apa yang layak ditonton. Saya pribadi merasa muak dengan isi reels yang muncul, padahal saya tidak menginginkannya. Namun, sekali saja kita menekan tombol like, algoritma akan membaca dan terus menyuapi kita dengan konten serupa. Itulah cara mereka bekerja.
Menjadi netizen yang bijak berarti berani menarik diri dari arus algoritma yang tidak mencerdaskan. Urusan privat artis atau drama viral bukanlah ranah kita untuk menghabiskan energi batin. Mari berhenti menjadi "bidak" di papan catur algoritma. Jika kita terus-menerus disuapi konten remeh, kita akan lupa cara mengkritisi kebijakan yang sebenarnya menentukan nasib kita di masa depan.
Pertanyaannya kembali kepada kita: apakah kita benar-benar peduli, atau semua komentar itu hanyalah euforia FOMO sesaat? Bijaklah berselancar, karena kuota dan waktu kita terlalu berharga untuk sekadar ditukar dengan rasa hampa.
Baca Juga
-
Dunia Sindhunata dalam Mata Air Bulan: Sebuah Perjumpaan Iman dan Budaya
-
Dilema Pengantin Baru dan Anekdot Misterius dalam Perempuan Kelabu
-
Siklus Kekuasaan dalam Animal Farm: Cermin Retak Realitas Indonesia
-
Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak
-
1984: Dialektika Kebebasan di Bawah Cengkeraman Absolutisme Negara
Artikel Terkait
Kolom
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
-
Kerja Full Time, Hidup Part Time: Fakta Pahit di Balik Gaji UMR
-
Dibayar Sesuai UMR, Kenapa Tetap Kekurangan? Realita yang Jarang Dibahas
-
Motor Fantastis BGN vs Gaji Guru: Skala Prioritas atau Cuma Mau Flexing Fasilitas?
-
Anatomi Gaji Minimum: Menghitung Sisa Hidup di Balik Angka-Angka Mustahil
Terkini
-
Jantung dan Stroke Kini Mengincar Usia 20-an, Ini Cara Simpel Mencegahnya
-
Winter in Tokyo: Cinta, Ingatan, dan Takdir di Tengah Musim Dingin
-
Soyangri Book Kitchen: Saat Luka Disembuhkan oleh Buku dan Kopi
-
Sepotong Ayam Bumbu
-
4 Acne Low pH Cleanser Rp30 Ribuan Solusi Atasi Jerawat pada Kulit Sensitif